
SURABAYA (global-news.co.id) – Kendati angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jawa Timur menurun, masyarakat diimbau untuk tetap mewaspadai penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti itu.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap memasifkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) guna mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Prof Dr dr Erwin Astha Triyono SpPD-KPTI, FINASIM, MARS, dalam rilisnya Jumat (16/5/2025).
Masyarakat bisa lebih waspada melalui Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik, minimal satu minggu sekali.
Berdasarkan data Dinkes Jatim terkait situasi DBD Jawa Timur per 14 Mei 2025, jumlah kasus pada bulan Januari – April 2025 sebanyak 9.437 kasus dengan _Case Fatality Rate_ (CFR) sebesar 0,57%. Jumlah kasus tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan jumlah kasus per April 2024 yaitu sebanyak 14.634 kasus.
“Walaupun trennya menurun, kita harus tetap waspada dan mengantisipasi kenaikan kasus DBD, karena DBD ini menyerang di semua kelompok umur, dewasa hingga anak-anak dengan tingkat kematian tertinggi terjadi pada anak,” ungkap Erwin.
Dengan terus memasifkan gerakan PSN, harapannya peran serta dan pemberdayaan masyarakat untuk memberantas DBD bisa ditingkatkan. Perannya bisa dengan melakukan pemeriksaan, pemantauan, pemberantasan jentik nyamuk DBD yang jadi sumber penyebaran utama. Ini bisa dilakukan dengan melibatkan seluruh anggota keluarga.
Erwin melanjutkan, kegiatan PSN dapat dilakukan dengan 3M Plus, pertama dengan menguras atau membersihkan tempat penampung air seperti bak mandi, vas bunga, tempat minum binatang peliharaan, tatakan dispenser. Yang kedua dengan menutup rapat tempat penampungan air (TPA).
Vektor penyebab infeksi dengue adalah nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Karakteristik perindukan telur – jentik – pupa aedes adalah di tempat bermuatan air jernih yang dindingnya tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Jika TPA tidak memungkinkan dikuras atau ditutup, maka bisa diberikan larvasida.
“Langkah ketiga adalah menyingkirkan atau memanfaatkan serta mendaur ulang barang bekas seperti ban bekas, botol plastik, kaleng bekas. Dan, Plus yang paling penting adalah menghindari gigitan nyamuk,” terangnya.
Kadinkes menambahkan, untuk menghindari gigitan nyamuk bisa dengan memakai kelambu, lotion anti nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik, menaburkan larvasida, dan memasang perangkap telur (ovitrap), perangkap jentik (larvitrap) dan perangkap nyamuk (mosquitotrap). Bahkan, bisa dengan mengolah tanaman pengusir nyamuk seperti sereh, zodia dan lain sebagainya.
Selain Sosialisasi PSN 3M Plus, upaya lain yang juga populer di masyarakat adalah teknik fogging atau pengasapan. Fogging bertujuan untuk membunuh nyamuk dewasa yang dilakukan saat terjadi penularan di suatu daerah.
Lebih lanjut Kadinkes Erwin juga mengingatkan, fogging bukan merupakan langkah utama dalam memberantas nyamuk. Pelaksanaan fogging harus dilakukan sejalan dengan PSN secara rutin di suatu lingkungan guna hasil yang efektif dan maksimal.
Dia menandaskan, upaya pemberantasan DBD tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan peran serta seluruh masyarakat yang juga berkolaborasi dengan RT/RW, TP-PKK hingga Karang Taruna untuk menggalakkan Gerakan PSN hingga ke rumah-rumah.
“Maka dari itu, ayo kita jaga terus kebersihan diri dan lingkungan. Lindungi diri kita, lindungi keluarga kita, lindungi sekitar kita,” imbaunya.
Pagi dan Sore
Lebih lanjut Kadinkes Erwin mengingatkan kembali tentang perilaku nyamuk Aedes adalah menggigit di pagi dan sore hari. Akan tetapi dengan perubahan iklim yang terjadi saat ini, sangat dimungkinkan terjadi perubahan waktu menggigitnya juga. Jadi kewaspadaan terhadap DBD harus ditingkatkan.
Dia juga berpesan, jika ada anggota keluarga yang mengalami demam tinggi yang mendadak, terus menerus, berlangsung 2-7 hari segera periksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
“Ancaman terjadi syok dan perdarahan terkadang muncul pada hari ketiga sampai kelima saat demam sudah turun. Oleh karena itu, segera periksakan anggota keluarga yang memiliki gejala DBD. Semakin cepat pertolongan akan semakin baik. Terapi DBD yg terbaik saat ini adalah terapi cairan yang cukup dan monitoring ketat klinis dan laboratorium pasien di faskes,” pungkasnya. (ret)

