Global-News.co.id
Metro Raya Utama

Hadirkan Semangat Perjuangan, Tim Dapur Umum Mbok Dar Mortir Bagikan Makanan Berbungkus Daun di ‘Surabaya Epic’

Walikota Eri Cahyadi yang berperan sebagai Gubernur Suryo didampingi istri, Rini Indriani yang berperan sebagai Lukita Ningsih, seorang pimpinan Laskar Putri, berpose bersama anggota Tim Dapur Umum Mbok Dar di Parade Surabaya Juang, Minggu (2/11/2025) sore.

SURABAYA (global-news.co.id) – Ribuan warga Surabaya memenuhi tepi jalanan mulai dari Tugu Pahlawan hingga Balai Pemuda menyaksikan Parade Surabaya Juang 2025 yang digelar Minggu (2/11/2025) sore. Kegiatan yang mengusung tema ‘Surabaya Epic’ ini diselenggarakan Pemerintah Kota Surabaya untuk menyambut Hari Pahlawan 10 November.

Suasana heroik terjadi ketika Tim Line Dance (LD) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur bersama Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Tampil sebagai “Tim Dapur Umum Mbok Dar Mortir”, mereka menghadirkan kembali semangat perjuangan para perempuan pejuang lewat aksi berbagi makanan kepada para peserta dan penonton yang berjubel di sepanjang jalan yang dilalui parade.

Dengan mengenakan kebaya tempo dulu lengkap dengan jarit, para anggota tim sibuk menyiapkan dan membungkus makanan menggunakan daun pisang. Aksi ini menjadi simbol kesederhanaan dan ketulusan perempuan rakyat jelata yang berjuang dari dapur umum untuk menyokong para pejuang kemerdekaan di masa lalu

Koordinator Tim LD PWI Jatim, Ita Siti Nasyi’ah, menjelaskan, peran yang dimainkan timnya bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa. “Kami ingin menghadirkan suasana dapur umum zaman perjuangan, di mana para ibu bangsa memasak untuk pejuang dengan penuh semangat dan keikhlasan,” ujarnya.

Menurut Ita, kostum yang dikenakan pun disesuaikan dengan peran yang dimainkan. “Kebaya yang kami pakai adalah kebaya sederhana, bukan brokat atau yang berpayet. Zaman dulu kebaya mewah hanya milik kaum bangsawan, sedangkan perempuan dapur umum berasal dari kalangan rakyat biasa,” jelasnya.

Berbeda dengan penyeleggaraan tahun-tahun sebelumnya, Parade Surabaya Juang kali ini menampilkan kisah pahlawan perempuan yang jarang terekspos, termasuk kisah Darijah Soerodikoesomo yang lebih populer dengan julukan Mbok Dar Mortir, salah satu tokoh dalam Perjuangan 10 November.

Dalam aksi tersebut, tim LD PWI Jatim dan PARFI membagikan berbagai hidangan tradisional seperti singkong, ketela pohon, kacang tanah, dan pisang kukus. Semua disajikan dengan cara tradisional — dibungkus daun pisang, seperti yang dilakukan masyarakat tempo dulu saat menyiapkan makanan untuk para pejuang.

“Selain mengenang sejarah, kami juga ingin menumbuhkan kembali semangat gotong royong dan kebersamaan yang dulu menjadi kekuatan bangsa,” tutur Ita. “Makanan sederhana ini kami bagikan bukan hanya sebagai simbol perjuangan, tapi juga sebagai wujud cinta pada tanah air,” lanjutnya.

Ketua PARFI Jatim, Wira Lina –yang didapuk jadi Mbok Dar– mengaku sangat senang bisa ikut serta dalam kegiatan penuh makna itu. Ia merasa pengalaman tersebut memberinya kesempatan memahami lebih dalam peran besar perempuan di balik perjuangan kemerdekaan. “Rasanya haru sekali bisa ikut membagikan makanan sambil mengenakan kebaya sederhana seperti ibu-ibu jaman dulu. Ini bukan sekadar tampil, tapi mengenang perjuangan mereka,” ujarnya.

Pembagian makanan oleh Tim Dapur Umum Mbok Dar Mortir mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang memadati area parade. Banyak warga yang antusias menerima makanan sambil berfoto bersama para “ibu pejuang” berkebaya itu.

Aksi sederhana namun penuh makna tersebut berhasil menyedot perhatian pengunjung. Aroma daun pisang dan singkong kukus seolah membawa ingatan publik pada masa-masa perjuangan, ketika semangat nasionalisme tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan tulus.

Kehadiran Tim LD PWI Jatim dan PARFI ini menjadi bukti bahwa semangat perjuangan tak lekang oleh waktu. Lewat dapur umum dan makanan tradisional, mereka mengajarkan bahwa cinta tanah air bisa diwujudkan dalam bentuk paling sederhana — berbagi dari hati untuk sesama.

Penggagas Surabaya Epic, Heri Lentho, mengapresiasi partisipasi aktif dari PWI Jatim dan PARFI Jatim. Seniman produktif itu menilai keterlibatan insan pers dan seniman ini menambah warna dan daya tarik tersendiri dalam parade yang sudah menjadi ikon peringatan Hari Pahlawan di Surabaya.

Bagi Tim LD PWI ini bukan kali pertama ikut tampil di acara yang berkait dengan heroisme arek Suroboyo. Pada akhir September lalu, mereka tampil sebagai penari pembuka dalam drama kolosal Insiden Perobekan Bendera (Merah Putih Biru) di Hotel Majapahit. (ret)

baca juga :

Piala Dunia U-20: FIFA Turun ke Lapangan di Surabaya

Redaksi Global News

BNI Dukung UMKM Tembus Pasar Singapura di Pameran Indonesia in SG

gas

Angkut Pasien, Ambulans Tabrak Motor, Korban Meninggal

Titis Global News