
JAKARTA (global-news.co.id) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mewaspadai banjir lahar yang terjadi di tengah ancaman erupsi merapi.
“Lahar hujan menjadi yang diperhitungkan tahun ini. Dapat info dari BMKG kita masuk ke La Nina, artinya musim hujan 40% lebih banyak dibanding sebelumnya. Desember, Januari, Februari, dipertimbangkan banjir lahar,” ujar Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan saat konferensi pers secara virtual, Jumat (13/11/2020).
Untuk itu, BNPB, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) dan juga BPD Jawa Tengah sudah memasang CCTV di sungai-sungai di Yogyakarta.
“Dan bagaimana rencana kontijensi yang ada di Jogja terkait banjir lahar ini. Ini yg kita mainkan dan sosialisasikan. Tahun ini ada 3 antisipasi erupsi merapi, pandemi covid-19, La Nina,” tegasnya.
Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan jika terjadi lontaran saat erupsi, maka ada potensi bahaya. Di mana lontaran 5 km menurutnya menjadi jarak terjauh.
“Potensi yang ada saat ini kalau ada eksplosif, ada lontaran awan panas, jarak maksimal 5 KM itu untuk data aktivitas saat ini dan potensinya,” katanya.
Adapun perkiraan ke mana arah lemparan tersebut adalah ke Kali gendol bukaan bawah. Dengan adanya guguran arah barat laut, hal tersebut kemungkinan akan mengarah ke sana. Namun, potensi ini akan ditinjau ulang apabila ada kubah lava.
“Kecepatan seberapa dan posisi kubah lava di mana, Ini sangat menentukan,” ujarnya.
Dia menjelaskan status dan kondisi Gunung Merapi mencatatkan kenaikan aktivitas sejak (5/11/2020). Kondisi saat ini stabil namun tinggi, dan ini salah satu hal yang harus diperhitungkan. Guguran ke arah barat laut dan ada juga yang ke kawah terjadi beberapa kali dengan jarak 3 km, 2 km sampai 1 km.
“Kenaikan aktivitas ini berdasarkan data yang ada, baik itu dari pemantauan sesmiknya, dari kimia dan beberapa hal terkait,” pungkasnya.
Pengungsi Capai 1.261 Orang
Plt Kepala Pelaksana Harian BPBD Provinsi Jawa Tengah Ir. Safrudin mencatat saat ini total di tiga kabupaten yaitu Magelang, Klaten dan Boyolali berjumlah 1.261 pengungsi.
“Semua diungsikan ke desa penyangga. Selain masyarakat yang diungsikan, juga ada ternak. Ternak di Boyolali ada 2.874 di Klaten ada 96,” ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (13/11/2020).
Adapun rinciannya di Magelang jumlah pengungsi sebanyak 808 orang. Mereka ini dibawa ke lokasi pengungsian yaitu di desa penyangga, karena desa ini memang didesain untuk desa kawasan rawan bencana (KRB) 3.
“Dari Kabupaten Magelang anak-anak 109, balita ada 182, lansia 179, ibu hamil 14, menyusui 29,” terangnya.
Berikutnya pengungsi di Klaten berjumlah 325 orang dan Kabupaten Boyolali, tepatnya di Telogo Lele ada 128 pengungsi.
Kemudian pengungsi di Sleman ada 196 orang di mana 167 diantaranya adalah kaum rentan. Lansia ada 86 orang, anak-anak 24, balita 25, ibu hamil 1, ibu menyusui 17 dan disabilitas ada 14 orang.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Lilik Kurniawan menegaskan bahwa pemerintah pusat siap terkait dengan siap siaga darurat ancaman merapi.
“Kami memastikan semua SOP yang selama ini dilakukan sudah berjalan dengan baik. Pada 2010 desa di sekeliling merapi sudah melaksanakan desa tangguh bencana,” ujarnya.
Terkait dengan lokasi evakuasi, tempat pengungsian akan dibuat bersekat untuk setiap keluarga. Hal ini dilakukan di tengah kondisi pandemi, agar tidak menciptakan klaster penularan baru. “BNPB mendukung swab antigen relawan bekerja, masuk ke dalam tempat evakuasi yang diisi kelompok rentan tadi,” pungkasnya.
Protokol kesehatan seperti pakaimasker, jaga jarak hindari kerumunan dan cuci tangan pakai sabun serta air mengalir yang rutin harus terus dilakukan di lokasi evakuasi dan pengungsian. yan, cnb, ins

