
SURABAYA (global-news.co.id) – Khawatir bakal menghadapi kenyataan adanya indikasi kanker, membuat banyak orang enggan melakukan pemeriksaan dini ketika mendapati adanya kelainan di tubuhnya. Mereka umumnya berharap hal itu akan menghilang seiring berjalannya waktu.
Consultant Breast & Endocrine Surgeon Picaso Hospital Malaysia, dr Normayah Kitan, menyebut angka kasus kanker secara global meningkat khususnya di kelompok usia muda. “Penderita kanker makin banyak dan kategori usianya makin muda seiring dengan gaya hidup,” ujarnya saat menjadi salah satu pembicara di SYMPONI: Surabaya Symposium of Oncology 2025 yang digelar Adi Husada Cancer Center (AHCC) akhir pekan lalu.
Gaya hidup yang dimaksud di antaranya merokok, konsumsi alkohol berlebihan, pola makan tidak sehat (terlalu banyak daging merah dan olahan, serta kurang buah dan sayur), dan kurangnya aktivitas fisik (gaya hidup sedentari).
Diakui, bukan hanya masyarakat Indonesia, warga Malaysia pun masih enggan untuk melakukan pemeriksaan dini. Mereka takut menghadapi risiko-risiko jika benar indikasi kanker, seperti efek samping pengobatan dan biaya yang tinggi. “Padahal sikap itu (keengganan untuk memeriksakan secara dini) justru akan memperparah kondisi penyakitnya,” lanjut dokter spesialis bedah plastik dengan subspesialis bedah payudara dam endokrin tersebut.
Mereka baru datang ketika stadiumnya sudah banyak. ”Kami menghadapi pasien dengan karakter yang hampir sama,” ujarnya ketika ditanya tentang pasien Indonesia dan Malaysia.
Spesialis bedah payudara dan endokrin ini menegaskan, pemeriksaan sejak dini menjadi faktor paling penting untuk mencegah kanker berkembang ke tahap yang lebih berat. “Ketika penyakit teridentifikasi lebih awal, kesempatan pasien untuk pulih jauh lebih besar,” ujarnya.
Picaso Hospital, bagian dari jaringan layanan kesehatan One Health, merupakan pusat penanganan kanker yang menyediakan layanan komprehensif mulai dari diagnosis awal, bedah, onkologi medis, hingga terapi lanjutan seperti terapi target dan nuclear medicine.
Normayah mengungkap, jumlah pasien asal Indonesia yang datang untuk mendapatkan terapi lanjutan terus meningkat. “Banyak pasien Indonesia datang untuk perawatan kanker stadium lanjut, misalnya kanker payudara yang sudah menyebar ke hati atau paru-paru. Kami memiliki teknologi untuk targeted treatment yang belum tersedia secara luas di Indonesia,” ujarnya.
Untuk penanganan pasien-pasien dari Indonesia ini, Picaso Hospital Malaysia bekerjasama dengan AHCC. “Kami adalah sister hospital. Jadi untuk kasus-kasus tertentu yang penanganannya belum ada di Indonesia akan dirujuk ke kami,” terangnya sembari menyebut kasus paling banyak yang ditangani di rumah sakitnya adalah kanker payudara, kanker usus besar, dan kanker paru-paru.
Dia menyebut, selain menerima pasien dari Indonesia, pihaknya juga merujuk pasiennya ke Indonesia. “Terkadang karena kerabat pasien banyak yang tinggal di Indonesia, sehingga mereka memilih berobat di Indonesia,” katanya.
*Genetik*
Dalam paparannya, General Manager Adi Husada Cancer Center (AHCC) dr Silvia Haniwijaya Tjokro MKes menyebut, saat ini kanker juga menjadi penyebab signifikan kematian pada pasien pediatrik (anak) dan remaja. Pada 2025 saja, diperkirakan 9.550 anak (usia 0–14 tahun) dan 5.140 remaja (usia 15–19 tahun) akan didiagnosis menderita kanker.
Pada anak yang banyak ditemukan adalah kanker darah (leukemia), kanker otak, dan kanker tulang. “Apa penyebabnya sejauh ini juga masih diteliti, tapi kalau pada anak-anak lebih banyak karena faktor genetik. Semisal leukemia, kalau pada orangtua kan ada ya yang usia 60 tahun kena leukemia, ini biasanya karena faktor polusi,” ujar Silvia.
Selain genetik dan polusi, faktor makanan bisa pula menjadi pemicu munculnya kanker. “Gaya hidup juga menjadi faktor,” tambahnya.
Meningkatkan angka kasus kanker ini muncul karena orang semakin melek kesehatan. “Dengan MCU mereka jadi tahu kondisi kesehatannya,” kata Silvia.(ret)

