
SURABAYA (global-news.co.id) – Alim Markus, Presdir Maspion Group akhir Februari 2025 akan bertolak ke Guangzhou, Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Tujuannya untuk melakukan sinergi bisnis di sektor mobil listrik. Dipilihnya Tiongkok untuk bisnis mobil listrik ini, karena belakangan industri mobil listrik di Negara Tirai Bambu tersebut mengalami kemajuan pesat.
“Saya akan bertolak ke Guangzhou akhir bulan ini. Saya akan melakukan pendekatan dengan salah satu pabrik mobil listrik di sana. Saya akan ajak mereka untuk membangun pabrik mobil listrik di Jatim,” kata Alim Markus kepada Koran Global News dan Global-News.co.id di sela-sela acara perayaan Imlek yang digelar oleh Yayasan Fajar Jaya Dharma Sosial Jatim akhir Januari lalu.
Dalam acara tersebut, Yayasan Fajar Jaya Dharma Sosial Jatim melakukan bhakti sosial dengan membagikan 222 paket sembako dan angpao kepada masyarakat Tionghoa pra-sejahtera. Harapannya dalam suasana Imlek anggota masyarakat tersebut turut bahagia.
Lebih lanjut Alim Markus mengatakan, perkembangan mobil listrik di beberapa belahan dunia cukup menggembirakan. Termasuk di Indonesia, di mana pertumbuhan atau penjualan mobil listrik cukup signifikan. Apalagi pertumbuhan kendaraan listrik di dalam negeri mendapat dukungan penuh dari pemerintah, karena selain menghadirkan udara bersih juga akan mengurami impor minyak Indonesia yang setiap tahunnya terus meningkat.
“Doakan saja semoga Jatim mempunyai pabrik mobil listrik, sehingga dapat membantu menggeliatkan perekonomian di provinsi ini secara khusus,” katanya.
Alim Markus optimistis, mobil listrik akan terus berkembang, karena menguntungkan. Investasi pada tahun ini di Indonesia, terutama di sektor industri mobil listrik, juga meningkat. “Saya secara umum, perekonomian di Indonesia akan lebih baik,” katanya.
Tumbuh 30%
Sementara itu, Studi S&P Global Mobility mengungkapkan bahwa penjualan kendaraan listrik di 2025 akan tumbuh hingga 30 persen secara global. Klaim ini cukup menantang kondisi pasar. Sebagian besar produsen mengungkapkan rencana perlambatan terkait permintaan EV yang terus melemah.
Dilansir dari Carscoop, studi tadi juga menyebutkan kendaraan ramah lingkungan, utamanya battery electric vehicle (BEV) akan menyentuh angka penjualan 15,1 juta unit di mana jenis mobil ini mengambil alih pangsa pasar sebesar 16,7 persen dari keseluruhan penjualan kendaraan.
Para ahli juga memprediksi, EV pada 2024 membukukan jualan sebanyak 11,6 juta yang membuatnya meraih pangsa pasar 13,2 persen secara global.
Perkiraan angka di atas juga bergantung pada beberapa wilayah di mana pasar mobil listrik diperkirakan terus tumbuh. Pasar Amerika misalnya, disebut akan bertumbuh sekitar 36 persen dari sebelumnya pangsa pasar sebesar 11,2 persen.
Proyeksi ini jelas punya tantangan di mana pemerintahan baru Trump akan memberikan pajak tambahan untuk kendaraan listrik dan produk impor yang masuk ke tanah Amerika.
Tiongkok lagi-lagi akan menjadi kawah candradimuka untuk penjualan EV. Meski tidak sebesar pertumbuhan di wilayah lain akibat market share yang sudah mencapai 30 persen penjualan seluruh negeri, tetap saja angka pertumbuhannya cukup menarik.
Market EV Tiongkok diperkirakan tumbuh 20 persen dan akan melampaui penjualan mobil bermesin konvensional untuk kali pertama di tahun depan.
Pemerintah Tiongkok sebenarnya memberikan target penjualan EV melampaui model ICE pada 2035, namun sepertinya target ini tercapai lebih dini.
Meski demikian, proyeksi di Tiongkok soal EV bukan tanpa tantangan. Beberapa waktu ini pasar EV Negeri Tirai Bambu mengalami masalah dengan oversupply, persaingan ketat, dan perang harga yang membuat merek-merek EV lokal menghadapi persoalan berat.
Pabrikan Eropa, Jepang dan Amerika juga akan mengalami tantangan di Tiongkok. Jika beberapa tahun silam mereka mendominasi penjualan, produsen otomotif jadul tersebut mengalami perlambatan di mana masyarakat beralih ke merek lokal.
Pada 2020 lalu merek-merek tersebut mendapatkan market share 64 persen namun pada 2024 turun menjadi hanya 37 persen. Pasar EV Eropa tidak kalah menarik. Sempat mendapatkan tantangan dengan dicabutnya subsidi EV di beberapa negara, serta permasalahan dengan produk-produk dari Tiongkok, studi memperlihatkan masih ada kemungkinan pasar EV Eropa bertumbuh. Angkanya sekitar 43 persen dari sebelumnya market share sebesar 20 persen.
Invasi Merek Tiongkok
Indonesia sendiri juga mengalami demam EV sepanjang 2024. Lewat bantuan pemerintah dengan beragam kebijakan, model EV bertumbuh pesat. Merek-merek Tiongkok membanjiri Tanah Air dengan produknya yang menarik, sembari memberikan tantangan pada produsen Korea Selatan dan Jepang yang sudah lebih dulu masuk.
Pada 2025, pemerintah Indonesia juga tidak berhenti memberikan dukungan pada kendaraan elektrifikasi. Skema insentif PPN DTP dan PPnBM diberikan pada model BEV juga hybrid yang selama ini diidam-idamkan produsen Jepang.
Model hybrid mendapatkan PPnBM DTP sebesar 3 persen. Tidak hanya itu, pemerintah memberikan insentif PPN DTP 10 persen untuk impor mobil listrik CKD. PPNBM DTP untuk impor mobil listrik CBU dan CKD sebesar 15 persen dan pembebasan bea masuk impor EV CBU. (fan)

