Global-News.co.id
Tapal Kuda Utama

Tim Pengmas FF Unair – IAI Situbondo Tingkatkan Literasi dan Keamanan Penggunaan Obat di Desa Banyuglugur

Kegiatan Penyuluhan Peningkatan Literasi dan Keamanan Penggunaan Obat di Desa Banyuglugur Situbondo.

Tim Pengmas Fakultas Farmasi (FF) Universitas Airlangga (UNAIR) bekerja sama dengan Pemerintah Desa Banyuglugur dan IAI Situbondo menggelar acara Pemberdayaan Kader PKK dan Karang Taruna di Wilayah Banyuglugur, Situbondo sebagai Agen Perubahan dalam Meningkatkan Literasi dan Keamanan Penggunaan Obat di Masyarakat guna Mendukung SDGs 3 dan SDGs 17 di
Desa Banyuglugur, Situbondo, Senin 19 Oktober 2026.

KEGIATAN ini mengacu pada Undang-Undang Kesehatan No. 17 Tahun 2023 yang menyatakan bahwa kesehatan adalah keadaan sehat seseorang, baik secara fisik, jiwa, maupun sosial, dan bukan sekadar terbebas dari penyakit, untuk memungkinkannya hidup produktif.

Pembangunan kesehatan masyarakat memerlukan upaya kesehatan, sumber daya kesehatan, dan pengelolaan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya berdasarkan prinsip kesejahteraan, pemerataan, nondiskriminatif, partisipatif, dan berkelanjutan dalam rangka pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan produktif, mengurangi kesenjangan, memperkuat pelayanan kesehatan bermutu, meningkatkan ketahanan kesehatan, menjamin kehidupan yang sehat, serta memajukan kesejahteraan seluruh warga negara dan daya saing bangsa bagi pencapaian tujuan pembangunan nasional.

Upaya kesehatan adalah segala bentuk kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat. United Nations menetapkan bahwa kesehatan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan masyarakat yang berkelanjutan dan menjadi fokus utama dalam SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat tidak hanya bergantung pada ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh tingkat literasi kesehatan masyarakat, termasuk pemahaman tentang penggunaan obat yang aman, rasional, dan bertanggung jawab.

Foto bersama tim pengmas FFUA, pemerintah daerah desa Banyuglugur Kab Situbondo dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) cabang Situbondo.

Terkait hal itu literasi obat yang baik menjadi faktor penting dalam mendukung perilaku kesehatan yang tepat serta mencegah berbagai risiko yang timbul akibat penggunaan obat yang tidak sesuai.

Oleh karena itu, perlu pemberdayaan masyarakat untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, kader PKK, Karang Taruna, pemerintah desa, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat dalam membangun sistem edukasi kesehatan berbasis komunitas yang berkelanjutan sejalan dengan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui kemitraan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi sasaran program, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam proses peningkatan kesehatan lingkungan sosialnya.

Sementara obat sebagai produk kesehatan mempunyai peranan penting dalam menentukan keberhasilan implementasi kebijakan kesehatan nasional di Indonesia, sehingga harus dikelola dengan baik, berbeda dengan produk lainnya. Penggunaan obat yang aman dan rasional sangat penting untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera. Akan tetapi, permasalahan terkait penggunaan obat masih sering ditemukan di masyarakat, seperti praktik swamedikasi, penggunaan antibiotik tanpa indikasi jelas, penyimpanan obat yang tidak sesuai, serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengenali obat palsu dan produk kesehatan ilegal.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko terjadinya efek samping obat, kegagalan terapi, dan resistensi antibiotika, sehingga dapat menyebabkan gangguan kesehatan lebih serius. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap kualitas hidup dan produktivitas masyarakat, serta keberhasilan Pembangunan Kesehatan.

Maka, Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat – Program Kemitraan Masyarakat dengan flagship program AIRCARE (Airlangga Integrated Community Health, Access, Response, and Equity) menjadi sangat penting sebab bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader, memperkuat kesadaran masyarakat akan penggunaan obat yang aman, serta menciptakan komunitas yang sehat.

Kegiatan dilaksanakan melalui edukasi, pelatihan, dan pendampingan kepada kader PKK dan Karang Taruna mengenai swamedikasi yang rasional, keamanan penggunaan obat, pencegahan obat palsu. Selanjutnya, kader yang telah mendapatkan penguatan kapasitas akan didampingi untuk melakukan edukasi kepada masyarakat sehingga terbentuk agen perubahan yang mampu meningkatkan literasi dan keamanan penggunaan obat secara berkelanjutan di Desa Banyuglugur, Situbondo.

Tujuan kegiatan sesuai Topik diatas diangkat dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Penmas) yang digagas oleh Tim Penmas, Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga (UNAIR) bekerja sama dengan Pemerintah Desa Banyuglugur dan IAI Situbondo.

Adapun tim Pengmas Fakultas Farmasi diketuai oleh Prof. Dr. Retno Sari, Apt. dengan anggota yang terdiri dari dosen dan mahasiswa S2 Magister Ilmu Farmasi.

Dalam kesempatan itu Prof. Dr. Retno Sari menyampaikan bahwa kegiatan terjun ke masyarakat merupakan kegiatan rutin setiap tahun sebagai tanggung jawab dari perguruan tinggi terhadap masyarakat. Kegiatan Pengmas kali ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui peran kader PKK dan Karang Taruna, Desa Banyuglugur tentang aspek bentuk sediaan obat, kemasan, keamanan dan stabilitas obat.

Sedangkan Bapak Sumarno, S.Pd. selaku Kepala Desa menyambut baik kegiatan ini dan berharap para peserta dapat menyebarluaskan pengetahuan yang didapatkan ke warga desa dan dapat menjadi agenda rutin yang dilakukan pada kegiatan di lingkungan masing-masing.

Ketua tim pengmas FFUA Prof. Retno Sari memberikan materi penyuluhan jenis kemasan obat.

Dalam kegiatan ini Dr. M. Agus Syamsur Rijal, Apt. menyampaikan materi yang menekankan pada pentingnya pengetahuan tentang bentuk sediaan, dan stabilitas obat.

Sedangkan Prof. Dr. Retno Sari, Apt. menjelaskan tentang aspek kemasan, informasi pada kemasan serta bahaya obat palsu. Pengetahuan tersebut penting dipahami oleh masyarakat agar dapat memperoleh manfaat yang sesuai dan terhindar dari kesalahan penggunaan obat serta penggunasalahan obat. Peserta juga dipandu oleh para fasilitator untuk berlatih mengenal dan membaca dengan teliti terkait kemasan dan informasi pada kemasan obat, baik kemasan primer maupun sekunder.

Kegiatan ini dihadiri oleh 40 orang perwakilan berbagai kader PKK, karang taruna, perwakilan guru, dan perangkat desa. Peserta sangat antusias mengikuti kegiatan sampai akhir, yang ditutup dengan sesi tanya jawab dan ramah tamah.

Harapan Dampak Jangka Panjang

Dampak jangka panjang edukasi dan pelatihan interaktif ini, para kader PKK serta Karang Taruna Desa Banyuglugur, Kabupaten Situbondo diharapkan dapat menyebarluaskan pengetahuan terkait penggunaan dan penyimpanan obat yang aman serta sebagai agen perubahan kepada warga sekitarnya. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah desa, dan organisasi profesi serta media massa ini diharapkan terus berlanjut sehingga dapat meningkatkan literasi masyarakat terkait obat dan mewujudkan masyarakat yang lebih sadar obat. (*)

 

baca juga :

FPI Klaim 5 Juta Orang Siap Sambut Kepulangan Rizieq

Cegah Seks Bebas, BKKBN Tekankan Pentingnya Pendidikan Seks

Redaksi Global News

SEA Games 2021: Dayung Indonesia Raih Delapan Emas dari Rowing