
SURABAYA (global-news.co.id) – Kata sehat atau sakit umumnya masih disematkan pada hal yang sifatnya fisik. Padahal ada hal lain yaitu psikis yang juga tak kalah penting untuk diperhatikan, karena juga bisa mengalami sakit. Dan sakitnya psikis atau jiwa bisa berdampak pada kesehatan fisik seseorang.
Dalam 30 hari terakhir ini, pernahkah Anda merasa sulit tidur, tidak nafsu makan, pencernaan terganggu, cemas, sulit berpikir jernih, atau kehilangan minat pada berbagai hal? Beberapa kondisi itu bisa menjadi sinyal kejiwaan Anda sedang tidak baik-baik saja.
Banyak hal yang bisa memicu munculnya kondisi tersebut, termasuk lingkungan kerja. Kiki yang sehari-hari bekerja di salah satu rumah sakit di Surabaya mengaku terkadang sampai malas untuk berangkat kerja. Alasannya, harus ketemu lagi dengan atasannya yang kurang menghargai anak buah.
“Mereka memberikan kerjaan yang sebetulnya bukan job kami. Mana kalau belum selesai, sudah ditambahi lagi. Kalau kita menurut, wah makin ditambahi kerjaannya. Gak nurut itu bagaimana, itu atasan saya. Ya sudah dipendem saja,” ujarnya.
Bukan hanya dari atasan, Kiki terkadang juga merasa tidak nyaman menghadapi teman yang dianggap toxic.
“Kadang ada circle yang toxic di tempat kerja. Kayak teman yang sering ngejatuhin teman, mencari muka ke atasan, nginjak teman biar bisa dapet tempat enak. Kaya gini bisa bikin stres. Sempat sih terpikir untuk konseling ke psikiater. Kalau dapat circle yang enak, kita bisa saling cerita, saling support, meski dapat atasan yang nggak enak misalnya,” papar ibu satu anak ini.
Menghadapi situasi kantor yang terkadang ruwet, Kiki mesti pintar-pintar meredamnya begitu masuk ke dalam rumah. Dia tak ingin buah hatinya kena imbas.
“Di rumah juga ada problem, tapi bisa dipecahkan bersama suami. Kalau urusan kantor paling saya cerita saja ke suami, setidaknya biar dia juga tahu,” lanjutnya.
Beda dengan Nono. Stres yang dialami karyawan bagian quality control perusahaan pakan ternak ini lebih pada ketidaksesuaian SOP dengan kenyataan yang harus dihadapi di lapangan.
“Seperti tingkat kelembaban bahan yang akan diolah, harusnya bahan yang didatangkan punya tingkat kelembaban sekian, tapi atasan saya langsung bilang ‘sudah nggak papa’, padahal ini akan berpengaruh pada hasil. Kadang kecepatan mesin, di satu sisi untuk ngejar target, kecepatan ditingkatkan, di sisi lain kalau mesinnya dicepatkan menghasilkan butiran yang kecil-kecil. Nah saya di bagian QC yang puyeng lihat hasil seperti ini,” ungkapnya.
Awalnya Nono merasa terbebani dengan situasi lapangan yang begitu, apalagi dia terhitung relatif baru bergabung di perusahaan itu. Tapi dukungan teman-teman membuatnya bisa melewati kegalauannya.
“Kalau sampai di rumah, ya sudah nggak usah dipikir lagi. Pengennya ya sesuai SOP, tapi mau bagaimana lagi,” katanya.
Fenomena stres di tempat kerja, sebagaimana dikatakan Direktur Rumah Sakit Jiwa Menur, drg Vitria Dewi MSi, bisa terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya karena komunikasi yang tidak baik, relasi kerja yang buruk, minim apresiasi, job discretion dan karir yang tidak jelas, serta tidak dapat menyampaikan pendapat. Kekhawatiran, ekspektasi yang tidak terwujud juga bisa memunculkan stres.
“Fenomena stres di tempat kerja ini memunculkan kondisi toxic seperti minim apresiasi, relasi kerja yang buruk, yang akan menurunkan semangat kerja, kinerja turun, produktivitas juga ikut turun,” ujar Vitri dalam paparannya untuk menyambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober.
Diungkapkan, berdasarkan survei mandiri yang dilakukan pihak rumah sakit pada Agustus 2024 terkait kesehatan mental di tempat kerja, didapati 23% pegawai di suatu instansi terindikasi memerlukan layanan kesehatan jiwa. Sementara hanya 1 dari 4 pekerja yang secara diam-diam berjuang untuk kesehatan mentalnya, setidaknya mereka mencari informasi dalam upaya bisa mengurai persoalan yang dihadapi demi menyehatkan mental atau jiwanya.
Sehat jiwa sendiri adalah kondisi di mana seseorang individu dapat berkembang secara fisik, mental spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut dapat menyadari kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara proaktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.
Mereka yang sehat jiwa bisa ditandai dengan adanya perasaan sehat dan bahagia, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya, mampu menghadapi tantangan hidup, serta memiliki sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Stres berkepanjangan tidak hanya memicu kelelahan mental, tapi juga memengaruhi kesehatan fisik.
Pada mulut misalnya, muncul sariawan atau bibir kering, pada paru-paru muncul asma atau sesak, pada pankreas muncul risiko diabetes karena produk insulin berkurang. Sementara pada organ reproduksi bisa terjadi disfungsi ereksi, produksi sperma rendah pada pria dan nyeri haid hebat atau gairah seks menurun pada perempuan.
Pada jantung, bisa muncul penyakit kardiovaskuler yaitu hipertensi, gangguan irama jatung. Sedang pada saluran cerna, manifestasi yang muncul bisa berupa sakit perut, sembelit, diare dan tukak lambung. Pada kulit bisa muncul jerawat atau gatal-gatal. Kalau pada otot muncul rasa kesemutan, kram, serta penyakit musculoskeletal.
“Yang juga harus diperhatikan, kalau terjadi pada otak. Dampaknya bisa berupa insomnia, sakit kepala, gangguan kepribadian, gangguan kecemasan dan depresi,” terang Vitria.
Karena itu dibutuhkan manajemen stres yaitu dengan menyeimbangkan hidup dalam lingkungan pekerjaan dan lingkungan sosial, membicarakan keluhan dengan seseorang yang dapat dipercaya, atau lakukan kegiatan yang sesuai dengan minat dan kemampuan. Yang juga tak kalah penting, jaga kesehatan dengan olahraga/aktivitas fisik secara teratur, tidur cukup, makan bergizi seimbang, terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta kembangkan hobi yang bermanfaat.
“Jangan lupa tingkatkan ibadah, berpikirlah positif, , dan tenangkan pikiran dengan relaksasi,” tambahnya.
Menghadapi tekanan dalam bekerja juga akan bergantung pada bagaimana resiliensi orang tersebut, yaitu kemampuan dalam beradaptasi. Kalau dia mampu mengelola dengan baik, hasilnya akan seimbang. Sebaliknya kalau dia tak mampu akan membuat kesehatan mentalnya memunculkan stres/depresi.
Resiliensi sendiri dibangun dari tujuh kemampuan yang berbeda dan hampir tidak ada satupun individu yang secara keseluruhan memiliki kemampuan tersebut dengan baik. Apa saja itu? Empati, optimisme, pengendalian impuls, regulasi emosi, analisis penyebab masalah, efikasi diri, dan peningkatan aspek positif.
Dalam kasus Kiki dan Nono, mereka termasuk dalam kelompok yang masih bisa mengelola stres-nya di lingkungan kerja, sehingga mereka tidak sampai masuk ke tingkat depresi. Kiki mengaku merasa mesti pandai-pandai mengelola tekanan yang dihadapi di lingkungan kerjanya. Keluar dari pekerjaan dianggapnya bukan solusi, karena di tempat lain juga belum tentu bebas dari tekanan.
“Dan yang terpenting, dengan bekerja saya bisa beraktualisasi diri, bisa mendapatkan penghasilan sendiri untuk membantu ekonomi keluarga,” tambahnya.
Badan Kesehatan Dunia (WHO), sebagaimana diungkap dr Efendi Rimba SpKJ, merilis 1 dari 8 orang di dunia hidup dengan gangguan mental yang antara lain meliputi depresi, kecemasan, gangguan bipolar, dan skizofrenia.
“Depresi dan kecemasan, khususnya, berkontribusi besar terhadap beban gangguan kesehatan mental,” tandas psikiater pada RSJ Menur dalam penjelasannya tentang Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2024 yang mengambil tema Saatnya Memprioritaskan Kesehatan Jiwa di Tempat Kerja.
Di Indonesia, lanjut Efendi, ditemukan 9.162.886 kasus depresi dengan prevalensi 3,7%. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 Kementerian Kesehatan, 1 dari 10 orang Indonesia mengalami gangguan kesehatan jiwa. Sebanyak 6% tergolong depresi dan 7 dari 1.000 orang menderita skizofrenia.
Lantas, bagaimana kondisi kesehatan mental saya sekarang? Untuk memudahkan masyarakat mengetahuinya, RSJ Menur sudah menyiapkan laman http://sihatiojobingung.com. Terdapat 20 pertanyaan yang diajukan, di antaranya Apakah Anda sering menderita sakit kepala? Apakah Anda tidak nafsu makan? Apakah Anda sulit tidur? Apakah tangan Anda gemetar? Apakah Anda menangis lebih sering? Apakah Anda merasa sulit untuk menikmati kegiatan sehari-hari?
Lewat jawaban ‘Ya’ atau ‘Tidak’, sistem di laman tersebut otomatis akan memberikan kesimpulan apakah seseorang mengalami masalah psikologis atau tidak.
“Bila mengalami, akan ada keterangan nomor ojobingung yang bisa dihubungi sebagai bentuk penanganan awal. Jadi nanti mengikuti instruksi yang tertera,” kata Ella, salah satu psikolog dari RSJ Menur.
Mengetahui sihatiojobingung.com, Kiki antusias untuk mencoba. “Ini untuk cek kesehatan jiwa kan?” ujarnya.
Ella menambahkan, website tersebut memang menangani masalah psikologi yang bukan hanya akibat stres di lingkungan kerja.
“Tapi cukup banyak juga orang muda yang mengalami stres akibat pekerjaan yang dirasa tidak sesuai ekspektasinya lalu keluar. Ketika tidak segera dapat pekerjaan lagi, jadinya stres,” ujarnya.
Mereka yang mengalami penyimpangan perilaku, gangguan seperti sulit berkonsentrasi atau sering muncul pikiran negatif, mengalami hambatan hingga tidak mampu dalam melakukan tugas sehari-hari, atau berperilaku membahayakan diri serta orang lain, sangat disarankan untuk menemui tenaga profesional, psikolog atau psikiater.
Menurut Vitria, kalau banyak pasien yang datang dengan keluhan mengalami gangguan jiwa, di satu sisi memang prihatin.
“Tapi di sisi lain kami juga lega karena semakin banyak orang yang paham akan pentingnya kesehatan mental. Dan menjaga kesehatan mental adalah proses yang berkelanjutan,” tandasnya. (Retno Asri)

