Global-News.co.id
Mat Tadji Na Rona Utama

Lirikan CLBK di Acara Reuni (3)

MAT Tadji

MAT Tadji belakangan ini mulai aktif mengikuti reuni. Baik itu bersama teman SMA maupun kampusnya.

“Sengkok rang rang akompol. Kalakoan atompok. Sateya sengkok koduh bannyak akompol so cakancah. Makle tak esanggu gendhek (Saya jarang berkumpul, pekerjaan menumpuk. Sekarang, saya harus banyak berkumpul dengan teman-teman. Biar tidak dikatakan sombong/Madura, Red.),” kata Mat Tadji kepada Yaser, teman kentalnya sedari masih duduk di bangku SD di sela reuni Alumni SMPP (setingkat SMA) 83, Pamekasan, Madura, awal Januari 2026 di Sidoarjo.

Tonton video Reuni Stikosa AWS ini:

Pada akhir Januari 2025, tepatnya 25 Januari 2026, Mat Tadji lanjut ke reuni kampusnya. Tepatnya Reuni Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) Angkatan 1983.

Sengak sehhh. Jek sampek CLBK, Cinta Lama Bersemi Kembali. (Awas ya. Jangan sampai CLBK/ Madura, red.),” kata Yaser yang bertandang ke kantor Mat Tadji, sehari sebelum acara reuni Stikosa-AWS 83.

Hari yang dinanti pun tiba. Reuni Stikosa-AWS berlangsung di kantor Mat Tadji. Dia menyalami satu persatu temannya masa kuliah yang mulai berdatangan. Senyum ceria menyembur dari bibir Mat Tadji.
“Alhamdulillah. Ternyata temanku masih sehat-sehat, meski usianya rata-rata 62 tahun. Ya Allah berikan kesehatan dan umur yang barokah kepada yang hadir di acara ini,” doa Mat Tadji.

Dari sekian yang hadir di acara reuni ini, Mat Tadji menyalami teman wanita sambil mengatakan, “Ini siapa ya. Lupa saya.”

“Saya Asnawita mas,” kata perempuan enerjik yang saat kuliah dulu dikenal sebagai penyanyi.

“Ohhh, ini Asnawati ya,” lanjut Mat Tadji.
“Asnawita, bukan Asnawati,” katanya.

“Iya..iya…Ini akibat jarang bertemu. Mungkin sekitar 30 tahunan ya kita tak bertemu. Kamu kan akhir-akhir ini ikut reuni. Sama. Saya juga begitu,” tambah Mat Tadji pada Asnawita.

“Alhamdulillah. Saya masih dipertemukan dengan teman-teman sekampus. Menjalin tali silaturrahim itu memperpanjang umur. Dibukakan pintu rezeki. Pokoknya saya bahagia. Tak terasa air mata saya menetes masih bisa berkumpul dengan teman-teman,” kata Asnawita yang masih menyisakan kecantikannya.

Lalu Mat Tadji menyeruak di antara temannya dengan bauran tawa dan canda. Ada juga yang menyumbangkan lagu. H. Saiful, spesialis lagu dangdut berirama syahdu dengan balutan jogetnya tipis-tipis cukup mendapat perhatian teman-temannya.

“More…more…,” suara sejumlah temannya bersautan, setelah H. Saiful menuntaskan lagu pertamanya.

Mat Tadji benar-benar bahagia hari itu. Seharian itu tubuhnya hanya bergelut dengan acara reuni. Terlepas dari rutinitas yang “menyiksa” tubuh dan pikirannya. Memang, kita harus menyeimbangkan waktu. Apalagi sudah berumur. Reuni merupakan salah satu “obatnya”.

Kebahagiaan Mat Tadji hari itu benar-benar dinikmati tubuhnya. Sebelum-sebelumnya dirinya membiarkan tubuhnya bergulat dengan pekerjaan yang menuntutnya untuk berkonsentrasi. Beberapa tahun belakangan sudah tidak lagi. Dia menyadari. Dia harus berbagi. Dia harus bersama. Dia harus mengurangi egoisnya. Dia menyadari memupuk tali silaturrahim penting, dan ini ajaran agama.

Di antara lamunannya itu, Mat Tadji menoleh ke sebelah kanan.

“Oh…Itu wanita satu-satunya yang pernah kucintai saat aku di kampus. Masih manis. Seperti saat dia masih sekelas denganku dulu. Oh…Andai saja…,” hati Mat Tadji berbunga-bunga.

Namun hentakan suara Sila yang melantunkan lagu pop membuyarkan lamunan Mat Tadji selanjutnya.

Acara yang didominasi rasa kegembiraan itu memang banyak diisi teman-temannya bernyanyi. Suaranya bagus-bagus. Lagu yang dibawakan juga sesuai dengan usia yang hadir. Tak terasa, sekitar pukul 15.00 sejumlah temannya sudah meninggalkan acara. Sekitar pukul 16.00, teman terakhir pulang.

Setelah memberesi semuanya, sekitar pukul 17.15, Mat Tadji pulang ke kediamannya. Baru duduk di antara istri, anak dan cucunya, sang istri yang juga hadir di acara reuni tersebut mengatakan, “Lun…tadi aku lihat saat papimu duduk di sebelah barat menoleh ke sebelah kanan. Cukup lama. Tak biasa tolehannya. Seperti orang ngelamun. Mencurigakan,” kata sang istri sambil ketawa di dekat Nailun, putrinya.

“Hayooo… Papi CLBK ya… Inget looo yo. Sudah tua. Ojok aneh-aneh,” kata Nailun. Nadanya berbau warning.

Saat bersamaan, Giorumy, sang cucu menggelayut ke Mat Tadji. Seketika Mat Tadji menggendongnya keluar halaman. Dan cerita CLBK pun tak berlanjut. (*)

baca juga :

ITS Rintis Kawasan Binaan Lewat Produksi Filet dan Gelatin Halal di Pacitan

Redaksi Global News

Masalah Pupuk Bersubsidi Jatim Klir, Lampiran Permentan No 01 Tahun 2020 Siap Direvisi

Redaksi Global News

Erupsi Semeru, Penyintas Dapat Bantuan Huntara dan Paket Sembako dari YLKM

Redaksi Global News