
Oleh Zainal Arifin Emka
(Wartawan Senior/Pengajar Jurnalisitik)
BELAKANGAN muncul celoteh bernada sindiran terhadp sekelompok pengunjung mall atau pusat perbelanjaan. Ada Rojali ada Rohana. Rojali menunjuk pengunjung mall sebagai “rombongan jarang beli”. Sedangkan Rohana akronim “rombongan hanya nanya”. Bahkan ada Rohalus, “rombongan hanya mengelus-elus”.
Tiga sebutan itu menunjuk hidung orang-orang yang datang ke mall “hanya” untuk jalan-jalan atau cuci mata. Belakangan lalu muncul Robeli, “rombongan benar-benar beli”.
Tiga yang pertama bernada pesimisme sekaligus sinisme. Yang disebut belakangan, Robeli, seperti diungkap Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Anne Patricia Sutanto, berbau harapan dan optimisme.
Optimisme itu dibangun bukan tanpa alasan. Kabarnya ada tanda-tanda mall di Surabaya sudah kembali bergairah setelah melalui berbagai cara dan acara. Misalnya, Surabaya Shopping Festival (SSF) 2025, Mei 2025.
Juga pembukaan gerai-gerai baru dengan konsep baru sebagai upaya menarik kembali pengunjung. Parade Surabaya Vaganza dan Surabaya Pestapora juga digelar untuk memeriahkan kota dan menarik lebih banyak pengunjung ke pusat perbelanjaan.
Surabaya Shopping Festival (SSF) 2025 yang merupakan program yang melibatkan 19 mal, menawarkan diskon besar-besaran untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan perekonomian lokal.
Sementara City of Tomorrow (CITO) Mall sedang melakukan revitalisasi dengan membuka wahana permainan keluarga, mengusung konsep yang lebih fokus sebagai tempat berkumpul komunitas dan pusat wisata. Bukan hanya belanja.
Kompleks
Kondisi mall kesepian dan banyaknya gerai kosong di beberapa mall di Surabaya adalah fenomena yang kompleks. Gabungan faktor global, nasional, dan lokal yang spesifik.
Platform E-commerce seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, dan sosial commerce (TikTok Shop) telah mengubah cara berbelanja. Kebutuhan akan barang elektronik, fashion, dan kebutuhan sehari-hari bisa dipenuhi. Harganya lebih murah, diskon agresif, dan gratis ongkir, langsung ke rumah. Jadilah mal tampak kurang menarik untuk belanja.
Fenomena Rojali dan Rohana tak sepenuhnya bisa disalahkan. Konsumen, khususnya generasi muda, sekarang lebih menghargai pengalaman daripada sekadar membeli barang. Mereka ke mall untuk mencari hiburan, kuliner, dan menghabiskan waktu. Jika mall hanya menawarkan gerai retail tanpa variasi hiburan, Rojali dan Rohana sekalipun enggan datang. Apalagi Rohalus.
Toh banyak pilihan hiburan alternatif. Menghabiskan waktu luang tak lagi hanya di mall. Bioskop premium, kafe kekinian, taman kota seperti Taman Bungkul, arena olahraga, dan tempat nongkrong terbuka menjadi pesaing kuat mall.
Terlalu Sedikit
Khusus di Surabaya, ada yang berpendapat kota ini sudah terlalu banyak mall, tapi terlalu sedikit pengunjung. Surabaya memiliki konsentrasi mall yang padat, terutama di kawasan pusat kota dan jalan utama.
Terjadilah perlombaan memikat pengunjung. Mall baru dan mall yang direnovasi menawarkan konsep yang lebih segar, arsitektur modern, dan tenant yang lebih menarik, menyedot pengunjung dari mall lama yang tidak berinovasi.
Salah satu berkah pandemi Covid-19 adalah terpupuknya kebiasaan baru dalam berbelanja. Pandemi memaksa orang untuk berbelanja online untuk menghindari kerumunan. Meskipun pandemi telah berakhir, kebiasaan ini terbawa hingga sekarang.
Tumbuhnya Rojali dan Rohana sesungguhnya bisa dimengerti. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang. Belanja sekunder dan tersier (seperti fashion dan hiburan di mall) seringkali menjadi yang pertama dikurangi.
Melemahnya daya beli ini bertemu dengan sewa gerai di mall yang memang sangat mahal. Bagi tenant, margin keuntungan mereka terkikis oleh biaya sewa, listrik, dan operasional. Jika omzet tidak mencukupi, mereka memilih untuk tutup atau pindah ke lokasi yang lebih terjangkau, meninggalkan gerai kosong.
Ada saran untuk meredefinisi model sewa yang lebih luwes. Seperti bagi hasil omzet, menggantikan model sewa tetap yang memberatkan. Langkah ini bisa menarik untuk mencoba dan mengurangi risiko.
Sediakan ruang untuk tenant pop-up (jangka pendek). Kehadiran mereka bisa memberikan kesan kepada pengunjung selalu ada yang baru. Ini sekaligus menjadi wadah uji coba bagi tenant sebelum berkomitmen sewa jangka panjang.
Optimisme
Alhasil, penyebab sepinya mall bukanlah satu hal, melainkan kombinasi dari perubahan perilaku konsumen yang beralih ke online dan mencari pengalaman, ditambah dengan kelebihan jumlah mal di Surabaya yang berkompetisi merebut jumlah pengunjung yang terbatas.
Mall yang bertahan dan ramai adalah yang memahami perubahan ini. Bertransformasi dari sekadar “tempat belanja” menjadi “destinasi gaya hidup dan hiburan”. Yang berhasil menawarkan pengalaman berbelanja, makan, hiburan, dan bersosialisasi. Sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh online. Mall yang gagal beradaptasi akan ditinggalkan dan dipenuhi oleh gerai-gerai kosong.
Menyelamatkan mall dari “kesepian” memerlukan transformasi mendasar dari sekadar tempat berbelanja menjadi destinasi gaya hidup dan pengalaman. Ciptakan alasan bagi orang untuk datang dan betah berlama-lama.
Ya, ada optimisme. Faktor penggerak utamanya adalah perubahan demografi, peningkatan daya beli, serta pergeseran nilai dalam masyarakat Indonesia, khususnya di kota besar seperti Surabaya. (*)

