Global-News.co.id
Kesehatan Utama

Bisa Jadi Endometriosis, Jangan Remehkan Nyeri Haid

Dr Sharifah saat memberikan paparan tentang endometriosis dalam health talk yang digelar Picaso Hospital Malaysia di Surabaya, Kamis (26/2/2026).

SURABAYA (Global-News.co.id) – Beberapa perempuan mengalami nyeri saat menstruasi (haid). Nyeri haid (dismenore) ini tidak bisa dianggap remeh, apalagi bila sampai membuatnya tidak bisa sekolah, tidak bisa bekerja, tidak bisa berhubungan suami istri, bahkan tidak bisa berdiri tegak.

Konsultan ginekologis yang mendalami masalah endometriosis, dr Sharifah Halimah Jaafar mengatakan, nyeri haid yang terus berlanjut tak bisa dianggap remeh, sebab bisa jadi itu adalah endometriosis. Gejalanya muncul sejak usia awal remaja.

Dia menyayangkan realitas di kalangan masyarakat yang masih menganggap remeh nyeri haid. “Sesama perempuan pun kadang ngomong ‘Ah cuma nyeri haid’. Atau ibunya sendiri bilang ‘Semua perempuan juga sakit’ atau ‘Nanti juga hilang sendiri’ karena mendasarkan pengalamannya,” kata ahli endometriosis dari Picaso Hospital Malaysia dalam health talk yang digelar di Surabaya, Kamis (26/2/2026).

Dijelaskan, nyeri haid tidak bisa dianggap sederhana dan harus mendapat perhatian, karena itu bisa berdampak pada kehidupan selanjutnya.

*Kapan nyeri haid itu dianggap normal?* Bila munculnya sekejap di 1-2 hari pertama haid, durasinya singkat (1-3 hari), yang bersangkutan masih bisa beraktivitas, segera membaik dengan obat anti nyeri biasa, dan tidak semakin berat setiap tahun.

Kalau setelah haid rasa nyeri itu masih berlanjut, harus segera diwaspadai. Karena dalam banyak kasus, setelah beberapa kali ke dokter dan dianggap hormonal, 10 tahun kemudian baru ketahuan kalau terjadi endometriosis.

*Kapan nyeri haid menjadi tidak normal?* Bila menyebabkan tidak bisa sekolah/bekerja, nyeri jadi semakin parah dari tahun ke tahun, nyeri muncul selum haid dan berlangsung lama, nyeri saat buang air besar/kencing saat haid, infertilitas, dan perlu suntikan atau masuk IGD setiap kali haid. Ketidaknormalan nyeri haid ini sering disebabkan oleh endometriosis, adenomiosis, myoma, atau infeksi panggul.

*Apa itu endometriosis?*
Sharifah menyebut endometriosis sebagai penyakit berbahaya pada anak-anak muda karena merusak masa depan mereka, merusak peluang untuk hamil, serta merusak kualitas hidup lantaran mereka tidak bisa bangun dan harus berbaring terus tak bisa keluar rumah untuk bekerja.

Penyakit ini lebih jahat daripada kanker. Orang kerap lebih peduli pada pasien kanker dan tidak memandang penderita endometriosis. “Pasien kanker bisa survival, kalau tidak ya meninggal. Endometriosis ini juga serius, meski tidak sampai membuat seseorang meninggal dunia. Tapi kesakitan yang disebabkan akan terus dirasakan sampai tua,” terang konsultan senior Obgyn ini.

Endometriosis adalah gangguan kesehatan reproduksi kronis di mana jaringan yang menyerupai lapisan dalam rahim tumbuh di luar rahim seperti di ovarium, saluran kemih, usus, atau jaringan panggul lainnya. Jaringan ini tetap menebal dan luruh mengikuti siklus menstruasi, namun tidak bisa keluar, menyebabkan peradangan, nyeri panggul hebat, dan risiko infertilitas.

Selain nyeri haid yang kalau dari skor 1 sampai 10, skornya 5 ke atas, gejala endometriosis lainnya adalah sakit saat kencing atau buang air besar, infertilitas, diare, konstipasi, dan sakit saat berhubungan suami istri.

Pada kondisi normal, darah haid yang luruh bukan di jalan yang seharusnya itu akan dimakan sel-sel darah putih sebagai respon sistem imun, sehingga seseorang itu akan pulih seperti biasa. Namun, lanjut Sharifah, pada kelompok tertentu yang karena genetik, tidak bisa membersihkan sehingga tumpahan yang tidak bisa keluar seolah terperangkap sehingga terus menumpuk hingga membentuk jaringan parut. Kalau setiap bulan perempuan itu menstruasi, luruhan atau tumpahan itu juga mengikuti siklus tapi tidak bisa keluar sehingga terus menumpuk hingga terjadi inflamasi yang kronik. Bila terjadi bertahun-tahun menyebabkan peradangan kronis membentuk jaringan yang bisa masuk ke dalam usus, kandung kencing, menutup saluran kencing, menyebabkan usus tersumbat karena organ jadi saling melekat. Dan juga merusak ovarium hingga membuat tak bisa hamil.

Sharifah menyebut endometriosis terjadi pada 2-10% perempuan usia reproduktif dan 30-50% perempuan infertile memiliki masalah endometriosis. Sebanyak 350 ribu perempuan di Malaysia terindikasi mengalami, sementara di Indonesia diperkirakan terdapat 6-7 juta perempuan yang hidup dengan endometriosis –sering dijuluki si penyusup di dalam tubuh.

Beberapa faktor risikonya meliputi genetik, mengalami menstruasi pertama di usia kurang dari 12 tahun, siklus menstruasinya pendek (kurang dari 24 hari dari normalnya 28 hari), belum pernah hamil.

Berdasarkan penelitian global, endometrioris menyebabkan penurunan produktivitas kerja, absensi meningkat, gangguan relasi, depresi dan kecemasan. Sementara di Indonesia banyak perempuan tetap bekerja sambil menahan nyeri — lantaran endometriosis belum dianggap sebagai masalah serius—dan tidak mendapatkan validasi medis.

*Apa yang harus dilakukan jika mengalami nyeri berat?* Jangan menormalisasi (menganggap nyeri haid sebagai hal biasa pada perempuan dan akan hilang dengan sendirinya), konsultasikan ke dokter, bisa dilakukan evaluasi dengan USG atau MRI, dan lakukan terapi medis dini. Dan jika tidak ada respon obat, segera rujuk ke dokter berpengalaman.

Sharifah menyayangkan stigma yang banyak beredar di masyarakat yang kerap membuat penderitanya baru ketahuan mengalami endometriosis sepuluh tahun kemudian, sejak keluhan nyeri pertama dialami. “Yang mesti diperhatikan, banyak yang sudah mengalami keluhan sejak remaja, tapi kerap dianggap biasa, diremehkan. ‘Kawinlah, nanti kalau sudah punya anak kan hilang sakitnya. Masalahnya kalau menikah pun dia gak bisa hamil. Penormalan ini tak jarang juga datang dari tenaga medis sendiri. Setelah ganti-ganti dokter hingga ke-10 baru ketahuan kalau terjadi endometriosis,” terangnya.

Untuk mencegah itu, Sharifah mengajak semuanya harus mulai peduli dan mengubah pandangan. “Budaya yang harus kita ubah, dari ‘Itu biasa’ menjadi ‘Mari kita cari penyebabnya.’ Bahwa tubuh perempuan tidak diciptakan untuk menderita setiap bulan. Nyeri adalah alarm dan alarm tidak boleh diabaikan,” ujarnya. (ret)

baca juga :

Juara Piala Presiden, Modal Berharga Arema FC Tatap Liga 1 2022/2023

Anggota DPR Pertanyakan Alasan Kenaikan Harga Tiket Candi Borobudur

Belum Rekrut Pemain Lokal Bintang, Ini Komentar CEO PSIS

Redaksi Global News