Global-News.co.id
Metro Raya Utama

Ning Lia: Ingatkan Stikosa-AWS soal Jurnalis dan Digitalisasi

SURABAYA (Global-News.co.id) – Zaman berubah. Semua berubah. Termasuk jurnalis atau wartawan harus “berubah”. Mangapa?
Sebelumnya, kuli tinta banyak bekerja di media cetak. Sekarang tidak lagi. Medsos saat ini seolah menjadi “kiblat” untuk mendapatkan informasi. Kita dengan mudah mendapatkan informasi melalui handphone (HP). Digitalisasi memang tak dapat dihindari.

“Dulu zaman kita kuliah atau masih remaja, media cetak, TV dan radio menjadi pilihan untuk mendapatkan informasi. Kini, media sosial sudah menjadi ‘pilihan’ banyak orang untuk mencari informasi. Praktis. Bertolak pada kenyataan ini, peran Stikosa-AWS atau Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya, sebagai pencetak tenaga-tenaga komunikasi menjadi penting keberadaannya. Terutama bila dikaitkan dengan digitalisasi dunia,” kata DR Lia Istifhama, S.H.I., S.SOS., S.SOS.I., M.E.I., anggota DPD RI asal Jawa Timur ketika turut mengisi acara “Munio” di kampus Stikosa-AWS, Surabaya, Rabu (25/2/2026).

Ning Lia (4 dari kanan) berpose dengan sejumlah dosen Stikosa-AWS.

Seperti diketahui, “Munio” merupakan ruang belajar terbuka yang digagas dan digelar Stikosa-AWS setiap bulan sekali (awal bulan) sejak Oktober 2024. Konsepnya sinau bareng di ruang terbuka yang pesertanya kalangan muda dengan topik yang lagi hangat saat itu.

Lebih lanjut keponakan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa ini mengatakan, beberapa waktu lalu kita pernah mendengar, sekitar 30% hingga hampir 60% pengguna internet di Indonesia terpapar hoaks saat mengakses media sosial, menjadikannya sarana utama penyebaran informasi bohong. Dampaknya, masyarakat cemas, salah mengambil keputusan, dan rentan perpecahan

Bahaya hoaks (berita bohong) sangat luas, meliputi penciptaan keresahan sosial, memicu konflik/adu domba, serta merusak reputasi individu maupun lembaga. Hoaks mengancam persatuan bangsa, merugikan secara ekonomi, menimbulkan kepanikan publik, hingga risiko hukum pidana bagi penyebarnya. Literasi digital adalah kunci untuk menangkalnya. Celakanya itu, kata Ning Lia, sebagian masyarakat belum bisa membedakan antara fakta dan hoaks.

Bertolak pada kenyataan ini, Ning Lia, mengingatkan Stikosa-AWS untuk memperhatikan kenyataan ini. “Melihat ini, Stikosa-AWS, salah satu perguruan tinggi komunikasi yang berdiri sejak 1964 menjadi penting. Terutama untuk mencetak jurnalis handal. Tujuannya untuk turut serta memerangi hoaks dengan menginformasikan berita-berita berkualitas dan benar,” katanya.

Jurnalis, katanya, di era digital membawa banyak perubahan dalam kehidupan. Termasuk penyebaran informasi. Begitu cepatnya transformasi dari konvensional beralih pada digitalisasi.

Karenanya, pers harus mampu beradaptasi di tengah era digital dengan munculnya media baru (new media). Di sinilah pers yang sehat tetap dibutuhkan dengan berpegang pada prinsip kebenaran dan kualitas informasi.

Senator yang aktif dalam isu-isu sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat ini mengatakan. keberadaan Stikosa-AWS sangat penting, karena telah melahirkan wartawan handal di tanah air. Keberadaan wartawan ini penting bagi bangsa negara.

“Saya sebagai masyarakat Jatim bangga bisa hadir di Stikosa, Sekarang zaman digital. jurnalis khususnya lulusan Stikosa harus menyesuaikan dengan zaman digital ini. Kita harus dengan cerdik mengetahui kebutuhan masyarakat,” katanya.

Saat sebagai pembicara di “Munio”, Ning Lia mengapresiasi model kaderisasi pendidikan yang diterapkan Stikosa-AWS. Pola regenerasi yang melibatkan alumni sebagai pengajar muda hingga dosen dinilai menjadi kekuatan strategis dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pendidikan dan jurnalistik di Jawa Timur.

Apresiasi itu disampaikan pada acara yang bertajuk “Puasa Digital” tersebut yang mempertemukan akademisi, mahasiswa Stikosa-AWS, siswa SMK Prapanca 1 dan 2 Surabaya. Dalam forum tersebut, Lia menilai sistem kaderisasi yang berjalan di bawah naungan Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur mampu membangun budaya akademik sekaligus melatih kepemimpinan sejak dini.

Lia berharap pola kaderisasi berbasis kolaborasi dan pengabdian ini dapat menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lain di Jawa Timur.

“Model keberlangsungan ini adalah kekuatan. Bukan hanya mencetak lulusan unggul, tetapi juga menyiapkan generasi pendidik dan pemimpin masa depan,” pungkasnya.

Integreted

Sementara itu, Imawan Mashuri, Ketua Yayasan Pendidikan Wartawan Jatim yang membawahi Stikosa-AWS mengucapkan terima kasih atas kunjungan Senator Ning Lia ke kampus tersebut. “Semoga kunjungan senator dapat membawa pesan untuk pemerintah,” kata mantan Dirut Jawa Pos tersebut.

Lalu Imawan menitipkan pesan soal bagaimana perguruan tinggi negeri belakangan ini menyedot sebanyak-banyak calon mahasiswa baru. Hanya menyisakan segelintir calon mahasiswa untuk masuk ke perguruan swasta.

“Ini gila. Sungguh pada akhirnya membunuh perguruan tinggi swasta,” kata pendiri televisi JTV tersebut.

Menurut Imawan, yayasan ini menaungi sebuah SMP, dua SMK dan satu perguruan tinggi, yakni Stikosa-AWS. Yayasan sejak beberapa tahun lalu mempunyai konsep mendirikan perguruan integrated. Yakni Perguruan Komunikasi. Nantinya SMP, SMK hingga Stikosa, linier. Artinya, belajar komunikasi itu sejak SMP sampai Stikosa.

“Saya penuh harapan kehadiran Ning Lia ini dapat membantu impian tersebut. Ini merupakan salah satu kita berperang melawan hoaks dengan mendidik banyak tenaga handal di bidang komunikasi. Khususnya jurnalis,” kata Imawan

Dr Jokhanan Kristiyono, ST MmedKom, Ketua Stikosa-AWS mengatakan, Stikosa AWS merupakan kampus komunikasi pertama di Indonesia Timur, berdiri sejak 1964. Awal berdiri merupakan kampus komunikasi berbasis vokasional untuk menciptakan jurnalis dengan nama Akademi Wartawan Surabaya (AWS) bertempat di kampus Kapasari Surabaya.

Pada tahun 1983, berkembang dan berpindah lokasi kampus di Nginden Intan Surabaya hingga pada tahun 1985 menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) dengan program studi Sarjana (S1) Ilmu Komunikasi. Dengan 3 peminatan jurusan di dalamnya yaitu Jurnalistik, Public Relations (Kehumasan), dan Broadcasting.

Pada Tahun 2024, kampus ini berkembang memiliki 2 program studi yaitu S1 Ilmu Komunikasi dan S1 Bisnis Digital.

Stikosa AWS dengan prodi Ilmu Komunikasi yang terakreditasi Unggul terus melakukan pengembangan dan inovasi, salah satunya adalah kurikulum berbasis digital dan sinergi dengan kebutuhan kompetensi dunia usaha dunia industri. (Erfandi Putra)

 

baca juga :

Empat Mahasiswa ITS Kembangkan Panel Surya untuk Daerah 3T

Titis Global News

Kasus DBD Meningkat, Masyarakat Diimbau Aktif Lakukan PSN

Redaksi Global News

Sudah Gelar 26 UKW, PWI Jatim Telorkan Wartawan Kompeten Terbanyak di Indonesia

gas