Global-News.co.id
Kesehatan Laporan Khusus Utama

Usus, Titik Awal Kualitas Hidup Optimal

Sebagian orang masih menganggap urusan pencernaan sebagai bagian yang berurusan dengan perut. Tak banyak yang menyadari, pencernaan justru adalah titik awal dari kualitas hidup yang optimal.

 

Salah satu bagian dari sistem pencernaan adalah usus, saluran yang bermula dari lambung hingga anus. Pencernaan usus adalah bagian penting dari sistem pencernaan manusia dan melibatkan dua organ utama yaitu usus halus dan usus besar. Usus halus memecah makanan dan menyerap nutrisi, sementara usus besar menyerap air dan membentuk tinja.

Kunci kesehatan seseorang dimulai dari ususnya. Selain kelancaran pencernaan, kesehatan saluran cerna menentukan kekebalan seseorang, kesehatan mental, serta kemungkinan munculnya masalah kesehatan serius seperti kanker, penyakit jantung, dan penyakit autoimun.

Kepala bidang edukasi dan pelatihan nutrisi Herbalife Asia Pacific, Dr Vipada Sae-Lao, mengatakan kesehatan usus layak disebut sebagai bentuk investasi jangka panjang bagi tubuh. Ia menyebut usus sebagai “gerbang utama” yang menentukan seberapa baik tubuh menyerap nutrisi, menjaga daya tahan, dan bahkan memengaruhi suasana hati.

“Usus bukan hanya tempat makanan dicerna, tetapi juga tempat sistem imun dibangun, hormon diproduksi, dan interaksi dengan otak terjadi. Jika kita abaikan, dampaknya bisa muncul dalam bentuk kelelahan kronis, inflamasi, hingga gangguan metabolisme,” ujar Sae-Lao dalam keterangannya di Jakarta.

Data menunjukkan sekitar 70-80% sel kekebalan tubuh berada di sistem pencernaan. Selain itu, mikrobioma usus, triliunan mikroorganisme yang hidup di dalam saluran cerna, berperan penting dalam mengatur metabolisme dan membantu tubuh melawan infeksi.

Kebiasaan sehari-hari yang dianggap tidak penting dan diabaikan, perlahan bisa menyebabkan adanya kesalahan pada organ tubuh, salah satunya bisa merusak kerusakan usus tanpa disadari.

“Kebanyakan orang mencoba makan makanan sehat, tetapi tanpa sadar membuat pilihan-pilihan kecil yang lama-kelamaan merusak lapisan usus mereka,” kata Dr Imran Shaikh, konsultan Gastrointestinal (GI), ahli bedah hati, pankreas, dan saluran empedu (Hepato-Pancreato-Biliary/HPB), dan ahli bedah onkologi GI, Rumah Sakit Wockhardt, Mumbai Central dikutip dari Hindustan Times.

“Lapisan usus seperti penghalang pelindung yang mencegah zat kimia berbahaya masuk ke aliran darah sekaligus memungkinkan nutrisi masuk. Jika lapisan usus rusak, seseorang cenderung mengalami masalah seperti kembung, intoleransi makanan, kekebalan tubuh yang buruk, dan bahkan perubahan suasana hati,” katanya.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, gangguan pencernaan dapat berdampak pada kualitas hidup masyarakat, terutama jika dikombinasikan dengan pola makan tinggi lemak, rendah serat, serta gaya hidup sedentari.

Selain itu, memperhatikan kebiasaan makan, seperti tidak terburu-buru, menjaga hidrasi, dan menghindari konsumsi berlebihan sebelum tidur, juga menjadi bagian penting dari perawatan pencernaan.

“Masyarakat perlu melihat kesehatan usus sebagai aset jangka panjang. Sama seperti kita menabung untuk masa depan finansial, menjaga pencernaan hari ini akan sangat menentukan bagaimana tubuh kita berfungsi lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan,” ujar Dr Sae-Lao.
Melansir laman Hindustan Times, seorang ahli jantung yang berspesialisasi dalam pembalikan diabetes dan penyakit kardio-metabolik, Dr Alok Chopra menyampaikan tanda-tanda peringatan kesehatan usus yang buruk yang tidak boleh diabaikan.

“’Usus adalah otak kedua’. Namun, itu sudah ketinggalan zaman. Saat ini, usus adalah otak pertama. Dan otak kecil Anda itu hanya berusaha untuk mengimbangi,” katanya.

Senada Imran Shaikh, Chopra menyebut tanda kesehatan usus yang buruk salah satunya mengalami kembung dan gangguan pencernaan yang terus-menerus.

“Jika selalu merasa kembung atau mengalami ketidaknyamanan pencernaan apa pun yang dimakan, usus Anda mungkin tidak memecah makanan secara efisien,” jelasnya.

Hal ini dapat menandakan ketidakseimbangan bakteri usus atau kekurangan enzim pencernaan.
Tanda indikasi kesehatan usus yang buruk juga berupa kelelahan kronis dan pikiran kabur. Ini lantaran penyerapan nutrisi yang buruk akibat adanya peradangan yang membuat usus tidak sehat.

Sering menginginkan gula juga menjadi tanda peringatan, menurut Dr Chopra bakteri usus dapat memengaruhi keinginan makan. “Ketidakseimbangan bakteri jahat dapat membuat Anda menginginkan lebih banyak gula dan makanan olahan, sehingga menciptakan siklus makan yang tidak sehat,” ucapnya.

Menurut dia, masalah kulit seperti jerawat, eksim, atau ruam sebenarnya berasal dari usus yang juga menjadi tanda. Kondisi ini sering dikaitkan dengan disbiosis usus dan sindrom usus bocor.

Lebih lanjut ia menyoroti peran penting usus dalam fungsi kekebalan tubuh. Sebab, kekebalan tubuh yang lemah juga dapat mengindikasikan kesehatan usus yang buruk. “Jika Anda sering jatuh sakit, masuk angin, atau menderita alergi, kesehatan usus yang buruk bisa menjadi penyebabnya,” kata Chopra.

Dr Imran Shaikh menyebut, ada lima kesalahan umum secara kumulatif yang mampu merusak kesehatan usus.

1.Terlalu banyak mengonsumsi makanan olahan. Makanan ringan kemasan, makanan beku, sereal manis, dan minuman ringan sering kali mengandung bahan pengawet, pengemulsi, dan pemanis buatan yang mengganggu keseimbangan bakteri usus.

Zat adiktif ini menyebabkan peradangan dan membuat lapisan usus lebih mudah menyerap atau disebut usus bocor. Sebaliknya semakin banyak makanan utuh dan minim olahan yang kita konsumsi, semakin baik lapisan usus dapat terjaga.

2.Melewatkan makanan kaya serat. Kurang mengonsumsi buah, sayuran, kacang-kacangan serta biji utuh, membuat bakteri baik tubuh jadi kurang dan menyebabkan pelemahan lapisan usus. Akibatnya bakteri berbahaya tumbuh subur.

3.Terlalu sering menggunakan obat pereda nyeri. Banyak orang mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen atau aspirin secara teratur untuk sakit kepala atau nyeri otot tanpa terlalu memikirkannya.

Bila dikonsumsi terlalu sering, obat ini mampu mengikis pelindung usus dan membuatnya meradang. Kerusakan ini tidak langsung terlihat, namun terjadi selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

4.Makan terburu-buru atau stres. Menelan makanan di tengah kesibukan atau sambil menonton sesuatu, atau saat stres dan terganggu, pencernaan melambat dan makanan tidak dipecah dengan baik. Hal ini menyebabkan iritasi pada usus dan seiring waktu merusak lapisan usus.

Dokter menyarankan agar masyarakat mengunyah makanan dengan penuh kesadaran, mengunyah perlahan, bernapas dan fokus pada makanan.
5.Menghilangkan semua lemak dari makanan. Sebagian orang barangkali menghilangkan lemak dalam makanan untuk mendapatkan makanan yang bersih. Namun, lemak sehat seperti zaitun, alpukat, membantu struktur lapisan usus dan mengurangi peradangan.

Pola makan rendah lemak dapat melemahkan sel dinding usus dan mengganggu fungsi hormon yang dapat berdampak buruk seiring berjalannya waktu.

Dokter Imran juga menambahkan bahwa mengusahakan agar usus sehat bukan hanya soal menjauhi junk food, tetapi juga soal memperhatikan bagaimana dan apa yang dikonsumsi setiap hari.

“Perubahan kecil namun sadar bisa sangat penting dalam menjaga lapisan usus dalam kondisi prima,” pungkasnya.
Agar kualitas hidup Anda optimal, saatnya untuk lebih peduli pada saluran pencernaan. (ret,ant)

baca juga :

Cheng Hoo Tutup Ramadhan dengan Tuntaskan Penyalurkan Paket Beras

gas

Akibat Virus Corona, 865 Orang Meninggal dalam Sehari di AS

Telah Berpulang ke Rahmatullah Komisaris Utama Bank Jatim

Redaksi Global News