Global-News.co.id
Ekonomi Bisnis Utama

Desa Energi Berdikari Tasikharjo Tuban: Warga Makin Asik Membatik-Menjahit dengan PLTS Bantuan Pertamina

Para pembatik di Rumah Batik Sekar Tanjung di Desa Tasikharjo, Kec. Jenu, Kab. Tuban, kini tak lagi menggunakan kompor gas atau listrik konvensional, tapi sudah sepenuhnya memakai listrik dari PLTS bantuan Pertamina.

 

 

Sebagai “komandan” transisi energi, PT Pertamina (Persero) berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goal’s (SDG’s). Salah satunya Program Desa Energi Berdikari (DEB). Sukses DEB antara lain bisa dirasakan manfaatnya oleh warga Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

 

Oleh:  GATOT SUSANTO

 

SUSIANI, Ketua Kelompok Membatik pada Rumah Batik Sekar Tanjung di Desa Tasikharjo, Kec. Jenu, Kab. Tuban, Jawa Timur, tersenyum saat diminta menceritakan program Desa Energi Berdikari (DEB) PT Pertamina (Persero). Dia mengaku berterima kasih kepada Pertamina atas penunjukan dirinya dan juga anggota kelompok lain dalam program DEB.

“Iya benar, saya kalau untuk Program Pertamina Desa Energi baru tahun ini. Tentang bagaimana ceritanya mungkin kami merupakan satu binaan Pertamina yang mampu menunjukkan perkembangan yang baik. Untuk manfaatnya sendiri sangat kami rasakan dengan adanya PLTS di Rumah Batik Sekar Tanjung, antara lain proses membatik yang semula menggunakan kompor gas, sekarang semakin asik ketika beralih ke kompor listrik. Dan kegiatan lain yang menggunakan listrik bisa tercover dengan adanya PLTS yang dibangun di rumah batik kami ini,” katanya kepada Global-News.co.id, Rabu (30/10/2024).

Kini dengan semakin berkembangnya Rumah Batik Sekar Tanjung, Susiani berharap ada bantuan lagi untuk memperluas gedung rumah batik tersebut. Gedung rumah batik ini milik kelompok, bukan milik pribadi, yang dibangun oleh PT Pertamina lengkap dengan PLTS yang diletakkan di sekitar gedung rumah batik.
Saat ini ada dua kelompok yang beraktivitas di rumah batik ini. Yakni Kelompok Membatik dan Kelompok Menjahit. Total anggota dua kelompok ini 35 orang.

“Semoga ke depannya Rumah Batik Sekar Tanjung bisa diperluas bangunanya karena anggotanya semakin banyak dan untuk tempat belajar membatik siswa-siswi dari berbagai sekolah. Semoga ada bantuan dari Pertamina lagi untuk memperluas bangunan tersebut. Semua ini dibangun dengan tujuan untuk meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat desa sini, khususnya untuk pemberdayaan perempuan,” katanya.

Selain banyak warga antusias dengan program ini, omzet dari penjualan batik juga meningkat 100% lebih. Sebelum ada pembinaan dan bantuan dari Pertamina, omzet penjualan batik Rumah Batik Sekar Tanjung masih di bawah Rp 50 juta per tahun. Namun sekarang bisa di atas Rp 50 juta hingga Rp 100 juta lebih per tahun. “Kami berharap ke depan bisa lebih besar lagi,” ujarnya.

Batik Sekar Tanjung, kata Susi, memiliki motif yang mengangkat tentang kearifan lokal. Motifnya tidak jauh dari batik khas Tuban yaitu gedog.

“Sedang untuk pasarnya kami masih lokal tapi Alhamdulillah juga sudah ke luar kota, sementara untuk ekspor semoga selanjutnya batik kami bisa menjadi komoditi ekspor ke luar negeri,” katanya.

Vanny Tousignant, diaspora yang merupakan Founder, Desainer, dan Produser New York Indonesia Fashion Week, kepada Global News, menyatakan, siap membantu UMKM Batik di Tanah Air, seperti Batik Sekar Tanjung, ke Amerika. Dia juga memuji peran BUMN, termasuk Pertamina, yang mendukung berkembangnya UMKM di Tanah Air, termasuk mendukung pemasaran global.

“Kami siap membantu, siap berkolaborasi,” kata Vanny yang sebelumnya pernah membeli batik Pamekasan untuk didesain dan dipamerkan dalam event New York Indonesia Fashion Week.

Penambahan Daya PLTS

Namun bukan hanya Susiani dan anggota kelompoknya saja yang bisa merasakan bantuan Pertamina, warga Desa Tasikharjo saat ini sudah biasa dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Bukan hanya untuk penerangan, energi terbarukan ini juga dipakai untuk aktivitas usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di desa setempat. Lalu diberi label Ekonomi Kreatif Tasikharjo (Ekokraf Asik). Program Desa Energi Berdikari PT Pertamina di desa ini membuat warga sadar akan pentingnya menjaga alam dengan cara menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

Sebanyak 35 penerima manfaat dari program Ekokraf Asik terdiri dari tiga program pemberdayaan UMKM. Masing-masing Program UMKM Rumah Batik Sekar Tanjung, Program Jahit Sekar Tanjung, dan Program Ethical Creative Tasikharjo.

Ahad Rahedi, Area Manager Communication, Relation & CSR Regional Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga, kepada Global-News.co.id, mengatakan, Desa Energi Berdikari (DEB) di Tasikharjo, Tuban, Jawa Timur, masih berjalan sesuai dengan perencanaan sampai dengan saat ini. DEB tersebut dimulai pada tahun 2022. Salah satu keunggulan program yang berada pada DEB tersebut yaitu Green Ekokraf Asik berupa produksi batik yang mengedepankan tiga aspek penting yaitu waste management, water management, dan renewable energy.

Dalam pelaksanaannya menggunakan sumber-sumber energi yang ramah lingkungan dan terbarukan di antaranya 6 unit PLTS berkapasitas 200 Watt-peak (Wp) menghasilkan daya 1.200 Wp. Pada rumah produksi, menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

“Selain itu juga memanfaatkan tanaman liar indigofera sebagai pewarna alami, hingga melakukan reverse osmosis (mengubah air tanah menjadi air yang aman dikonsumsi) dan juga pemanfaatan limbah kulit jagung untuk material packaging atau pengemasan kain batik premium,” katanya kepada Global-News.co.id, Rabu (30/10/2024).

Dia menjelaskan, tahun 2023 terdapat penambahan daya pada instalasi PLTS dengan kapasitas 6.54 kWp pada kondisi siang hari yang paparan sinar mataharinya lebih tinggi dibanding biasanya.
Instalasi ini dapat menghasilkan daya 6.540 Wp. Sehingga menghasilkan total daya di rumah batik saat ini mencapai 7.740 Wp.

“Saat ini produksi batik sudah tidak bergantung dengan listrik konvensional karena 100% sudah menggunakan solar panel dan peralatan produksi sudah beralih ke kompor portabel yang semuanya menggunakan listrik,” katanya.

Sebelumnya Ahad Rahedi menjelaskan bahwa program TJSL (Tanggung Jawab Sosial Lingkungan) dari Pertamina ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDG’s) yang telah diupayakan Pemerintah poin ke-6 (air bersih dan sanitasi layak), ke-7 (energi bersih & terjangkau), dan ke-8 (pekerjaan layak & pertumbuhan ekonomi), dan Poin 13 (penanganan perubahan iklim).

“Selain itu, program ini juga sebagai aksi nyata Pertamina untuk mendukung upaya pemerintah dalam mencapai Net Zero Emission di tahun 2060,” kata Ahad.

Dukung NZE 2060

Panel Surya/PLTS bantuan Pertamina dipasang di Rumah Batik Sekar Tanjung.

 

Program Desa Energi Berdikari Pertamina dinilai turut mendukung pencapaian target Net Zero Emission 2060. Berdasarkan data di PT Pertamina, secara nasional sebanyak 85 Program Desa Energi Berdikari di seluruh Indonesia berhasil menurunkan 729.127 ton Co2eq/tahun reduksi emisi karbon. Jumlah ini didapatkan dari pemanfaatan 5 jenis energi terbarukan yakni pembangkit listrik tenaga surya (64 program), gas metana dan biogas (12 program), micro hydro (6 program), biodiesel (2 program), serta energi hybrid dari tenaga surya dan angin (1 program).

Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengatakan Program Desa Energi Berdikari memberikan akses Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai solusi atas tantangan kebutuhan energi masyarakat yang semakin meningkat.

“Dalam pelaksanaannya, Pertamina berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, karena Pertamina percaya bahwa energi yang bersih dan mudah diakses akan membuka jalan bagi pembangunan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat menuju kemandirian berkelanjutan,” katanya.

Fadjar menambahkan, Program DEB sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) #4, #7, #8, dan #13 serta target Pemerintah untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Menurut Fadjar, Program DEB telah menghasilkan energi terbarukan sebanyak 324.039 Wp (tenaga surya), 609.000 m3/tahun (gas metana), 16.500 Wp (Hybrid/Matahari & Angin), 28.000 Watt (micro hydro) dan 6.500 L/tahun (biodiesel).

Selain membangun ketahanan energi berbasis desa, Program DEB juga memberikan dampak ekonomi bagi 5.413 KK Penerima Manfaat. Dalam setahun, DEB memberikan manfaat ekonomi senilai Rp2,5 miliar sehingga sekaligus akan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa.

“Pertamina akan terus mengembangkan Program Desa Energi Berdikari sehingga semakin banyak masyarakat yang bisa menikmati energi bersih sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat khususnya di perdesaan,” tandas Fadjar.

Penghargaan Internasional

Program DEB pun menjadi salah satu kunci PT Pertamina kembali mencatatkan prestasi dengan meraih penghargaan dalam ajang Enlit Asia 2024 untuk kategori “ASEAN Electrification Project Of The Year” pada Selasa (8/10/2024). Penghargaan ini diterima langsung oleh Norman Ginting, Direktur Proyek dan Operasi Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), pada acara penyerahan penghargaan yang berlangsung di MITEC, Kuala Lumpur, Malaysia. Penghargaan ini menjadi bukti komitmen Pertamina dalam mendorong transisi energi dan pengembangan energi baru dan terbarukan di ASEAN.

“Kami mengucapkan terima kasih atas penghargaan ini. Pertamina akan terus mendukung upaya elektrifikasi dan transisi energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan,” ujar Norman dikutip dari rilis Pertamina yang diterima redaksi Global-News.co.id.

Proyek elektrifikasi yang membawa Pertamina pada penghargaan ini dinilai memiliki dampak signifikan dalam meningkatkan akses energi berkelanjutan khususnya untuk masyarakat di wilayah pedesaan.

Dari PLTS ke Hidrogen?

Namun, ke depan, PT Pertamina juga disarankan mencoba energi hidrogen untuk program DEB. Artinya tidak hanya PLTS. Kepada Global- News.co.id, peneliti hidrogen yang juga Designated Assistant Professor di Nagoya University, Jepang, Dr Miftakhul Huda M.Sc, menilai, Pertamina bisa fokus pada produksi hidrogen, misalnya dari minyak bumi dan gas alam.

“Perlu diingat, teknologi hidrogen tidak hanya untuk kendaraan, tapi bisa digunakan untuk industri maupun rumahan. Salah satu keunggulannya teknologi hidrogen adalah tidak tergantung cuaca seperti solar cell (panel surya). Teknologi hidrogen sangat cocok untuk genset saat sumber utama listrik mati dan juga saat bencana alam,” katanya.

Indonesia, kata dia, sering sumber listrik utamanya mati dan juga sering terjadi bencana alam sehingga sangat cocok memanfaat teknologi hidrogen. “Ya untuk genset darurat maupun alternatif,” katanya.
Dia mengatakan teknologi hidrogen pada dasarnya teknologi masa depan karena bersumber dari air, hidrogen, dan oksigen yang berlimpah di alam dan sama sekali tidak menghasilkan emisi. Hanya saja saat ini perkembangannya masih dalam tahap awal.

“Teknologi hidrogen pada dasarnya bisa dibagi ke dalam beberapa area. Produksi hidrogen, transpor hidrogen, distribusi hidrogen, dan terakhir penggunaan energinya sebagai sumber energi kendaraan, rumahan, maupun industri. Masing-masing punya tingkat kemajuan sendiri-sendiri,” kata ilmuwan asal Pekalongan yang juga Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jepang ini.

Hidrogen, kata pakar teknologi Nano ini, bisa diproduksi dari reaksi pemecahan air atau dari sumber turunan minyak bumi dan gas alam. Sistem dan katalis reaksi pemecahan air masih memerlukan energi besar sehingga sangat membutuhkan penelitian dan pengembangan lebih lanjut.Indonesia dengan mineral berlimpah bisa turut serta dalam penelitihannya.

Indonesia yang punya sumber daya minyak bumi dan gas alam ke depan bisa turut serta dalam menjadi produsen hidrogen baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun sebagian untuk ekspor. Indonesia perlu mempersiapkan teknologi dan industri ini. Jepang sudah mulai ekspor hidrogen,” katanya.

Miftakhul Huda sendiri tengah melakukan riset yang tujuannya untuk efisiensi produksi hidrogen di Jepang. Saat ini, kata dia, penerapan teknologi fuel cell di Jepang selain untuk kendaraan pribadi juga akan diarahkan untuk pemakaian kendaraan beratseperti bus, truk, alat berat, kereta, kapal, maupun pesawat, lantaran kelebihannya yang bisa menghasilkan lebih besar power dan juga bisa dipakai jarak jauh dibandingkan memakai baterai.

“Teknologi fuel cell juga didorong untuk dipakai di perumahan dan industri mengingat Jepang sering terjadi bencana alam dan cuaca buruk. Ke depan Jepang juga akan fokus dalam penelitian dan pengembangan teknologi proses produksi hidrogen dari air yang tujuan utamanya untuk mengurangi cost dan penggunaan katalis logam mulia yang mahal,” katanya. (*)

 

baca juga :

Liga 1: PSIS Telah Lepas 5 Pemain

Beredar Voicenote Rintihan Laskar FPI, Dipepet 3 Mobil dan Tak Ada yang Bawa Senjata

Redaksi Global News

Komisi C Sebut Pembangunan Underpass Taman Pelangi Kembalikan Fungsi RTH

Redaksi Global News