
“Tolong aku anterkan ke Cito (mall yang lokasinya di ujung selatan Surabaya). Aku mau tukar baju. Tunggu di luar nanti. Kamu gak usah masuk parkiran. Sebentar kok,” kata Amik, istri Mat Tadji, sore hari di penghujung Januari 2026.
“Iya. Sekarang?,” kata Mat Tadji.
“Sebentar lagi,” kata Amik.
Dengan berkendaraan sepeda motor, Mat Tadji meluncur mengantarkan istri tercintanya.
Di perjalanan, konsentrasi Mat Tadji terganggu. Di pertigaan jalan sang istri berteriak, “Mas belok kanan. Kok mau terus lurus jalannya. Ngelamun ya,” Amik setengah berteriak memperingatkan Mat Tadji untuk belok kanan menuju Mal Cito.
“Sory. Hampir lupa,” kata Mat Tadji.
Tak lama kemudian suami istri ini sampai di tujuan. Jarak Mal Cito yang hanya sekitar 200 meter dari pertigaan tadi. Mat Tadji berhenti di pagar depan mal tersebut.
“Tunggu sebentar. Jangan ke mana-mana. Aku hanya tukar baju. Tempatnya di bagian depan kok,” kata Amik.
“Ya,” jawab Mat Tadji singkat.
Tak menunggu lama. Mat Tadji langsung mengeluarkan bungkusan rokoknya. Dicabutnya sebatang Sampoerna Mild. Dia langsung menyalakan rokoknya. Dia berani merokok, karena pikirnya kalau wanita ke mal itu pasti lama.
Sambil menikmati hiruk pikuknya kendaraan yang memutari bunderan Waru, Sidoarjo, kepulan asap rokok keluar dari hidung Mat Tadji. Dia benar-benar menikmati sedotan demi sedotan rokoknya.
Hanya sekitar empat menit, Mat Tadji dikejutkan oleh suara nyaring sang istri. Istrinya pulang kembali lebih cepat dari perkiraan Mat Tadji, karena stan yang dituju tak menyediakan baju yang dicari istrinya.
“Heyyy. Merokok lagi ya. Kenapa kok belum berhenti merokok. Jadi selama ini kamu hanya janji palsu. Berbohong. Katanya berhenti merokok, Anter aku aja kamu berani. Bagaimana kalau tak bersama aku. Paling tak berhenti merokoknya ,” suara keras Amik melengking di batas pagar.
Sementara Mat Tadji terkejut bukan kepalang. Dia langsung membuang rokoknya yang belum tuntas disedot habis. Dia tak mengira secepat itu istrinya kembali. Pikirnya, seseorang, apalagi wanita ke mal itu paling tidak butuh waktu 30 menit. Karena itu, Mat Tadji berani menyulut rokoknya.
Tanpa basa basi Amik langsung duduk di motor (bonceng).
“Ayo pulang. Kamu itu kapan berhentinya. Merokok lagi. Merokok lagi, Kapan berhentinya. Kamu itu orang yang mengerti dan tahu rokok itu bahaya. Tidak hanya bahaya bagi dirimu. Orang serumah itu ikut menanggung dampaknya,” Amik terus mengomel selama perjalanan pulang.
Sementara Mat Tadji memegang setir dengan penuh “ketakutan” hanya berdiam. Dia tahu watak istrinya, semakin disauti, semakin jadi marahnya. Dia sudah tak bisa mengelak lagi, istrinya sudah mengetahui langsung saat dirinya merokok.
“Kamu itu janji-janji terus. Ngomongnya sudah berhenti, tetapi tetap saja merokok. Bosen aku kalau kamu terus begini. Kalau tak berhenti merokok, lebih baik gak usah pulang ke rumah. Rumah tak akan aku biarkan ada penghuninya yang merokok,” kata Amik sembari turun dari sepeda motor, karena sudah sampai di kediamannya.
Mat Tadji pun, langsung ngacir ke kantornya. “Aku mau ke kantor,” kata Mat Tadji.
“Ya. Lebih baik jangan kembali, kalau masih merokok,” tandas istrinya penuh amarah.
Dalam perjalanan ke kantornya yang jaraknya sekitar 10 menit perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. “Aku harus berhenti. Kapan? Amarah istriku memang benar. Dia ingin saya sehat. Kaluarga sehat. Maafkan aku istriku,” guman Mat Tadji, sembari menghidupkan komputernya untuk mengerjakan penulisan berita yang belum rampung. (*)

