Global-News.co.id
Ekonomi Bisnis Laporan Khusus Utama

Harga Bahan Pangan Mulai Naik Jelang Ramadhan

Pedagang bahan pangan di Pasar Kolpajung Pamekasan mengakui harga bahan pangan naik menjelang Ramadhan. (Foto: RRI)

PAMEKASAN (Global-News.co.id) – Harga sejumlah bahan pangan untuk kebutuhan sehari-hari di Kabupaten Pamekasan dan beberapa daerah lain mulai naik menjelang Imlek, Bulan Suci Ramadhan, dan Lebaran Idul Fitri. Untuk Pamekasan, kenaikan paling terasa terjadi pada komoditas cabai rawit merah, bawang putih, dan telur ayam, seperti terpantau di Pasar Kolpajung, Selasa, 3 Februari 2026.

Secara umum, pantauan di Siskaperbapo Jatim pukul 11.25 WIB, harga cabai rawit naik Rp3.150. Sedang cabai merah keriting dan cabai merah besar mengalami kenaikan tapi tidak signifikan. Untuk harga beras medium, harga rata-rata saat ini adalah Rp12.888. Kabupaten Sidoarjo menduduki harga tertinggi yakni Rp13.750, sedangkan harga terendah berada di Kabupaten Lumajang Rp11.700. Untuk Kota Surabaya harga bahan pangan pokok relatif masih stabil.

Salah seorang pedagang bahan pangan di Pasar Kolpajung Pamekasan, Wati, mengatakan, harga cabai rawit merah sebelumya kisaran Rp50 ribu per kilogram, tapi sekarang naik menjadi Rp75 ribu per kilogram. Kenaikan harga cabai rawit merah itu sudah terjadi sejak lima hari terkahir.

Sedang pedagang lain, Hafid, menawarkan harga cabai rawit merah Rp80 ribu per kilogram dari harga sebelumnya Rp70 ribu per kilogram. Dia menyebut stok bahan pangan ini di petani sudah menipis.
“Kenaikan harga cabai rawit merah karena stok di tingkat petani mulai sedikit,” ujarnya.

Menurut dia, kenaikan harga juga terjadi pada komoditas bawang putih dari sebelumnya Rp30 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp34 ribu per kilogram. Termasuk harga telur ayam juga mengalami kenaikan, dari sebelumnya Rp25 ribu per kilogram naik menjadi Rp28 ribu per kilogram.

Staf Bidang Perdagangan Disperindag Pamekasan, Rifaus Silviani, mengatakan, kenaikan harga cabai rawit merah dipengaruhi oleh penurunan produksi. Hal itu akibat cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini. “Saat ini cuacanya tidak mendukung, sehingga stoknya sedikit, sedangkan permintaan cenderung meningkat,” katanya.

Silvi menjelaskan, terkait kenaikan harga bawang putih dipengaruhi proses penyesuaian regulasi impor yang berdampak langsung pada stok dalam negeri sehingga memicu lonjakan harga. Sementara, kenaikan harga telur ayam dipengaruhi peningkatan permintaan untuk pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) pasca libur sekolah. Akibat peningkatan permintaan membuat stok berkurang di pasar dan memicu kenaikan komoditas telur ayam.

Di tempat terpisah, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memastikan ketersediaan stok pangan di Kota Pahlawan berada dalam kondisi aman dan terkendali menjelang perayaan Imlek serta memasuki awal Bulan Ramadhan. Kondisi tersebut diperkuat Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Kota Surabaya tahun 2025 yang mencapai angka 73,28, menandakan ketahanan pangan daerah berada pada kategori baik dan relatif stabil.

Namun Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya terus melakukan pemantauan intensif terhadap ketersediaan dan harga bahan pokok strategis guna mengantisipasi lonjakan permintaan masyarakat pada momentum hari besar keagamaan.

Kepala DKPP Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, menyampaikan bahwa hingga saat ini stok pangan di Surabaya dalam kondisi aman dan distribusi berjalan lancar. Pemantauan dilakukan secara rutin di pasar-pasar untuk memastikan stabilitas pasokan dan harga.

Menjelang Imlek dan Bulan Ramadhan tahun ini, stok pangan di Kota Surabaya berada dalam kondisi aman. Hal ini juga tercermin dari Indeks Ketahanan Pangan Surabaya tahun 2025 yang berada di angka 73,28. Kami terus melakukan pengawasan agar ketersediaan dan distribusi tetap lancar, kata Antiek, Selasa 3 Februari 2026.

Antiek menjelaskan bahwa stabilitas harga ini tidak lepas dari langkah antisipatif Pemkot Surabaya dalam menghadapi potensi lonjakan permintaan. Jika terjadi indikasi kenaikan harga atau berkurangnya pasokan, Pemkot Surabaya siap berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) maupun operasi pasar.
Ketika permintaan meningkat atau pasokan rawan berkurang, kami akan segera berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk menyediakan bahan pangan dengan harga lebih terjangkau bagi masyarakat, jelasnya.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga terus mengintensifkan upaya stabilisasi harga bahan pokok menjelang Bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah. Salah satu langkahnya dengan menyelenggarakan Pasar Murah yang antara lain digelar di halaman Kantor Kelurahan Klangon, Kecamatan Bojonegoro Kota, Kabupaten Bojonegoro, Rabu (28/1/2026). Harga bahan pangan di pasar murah ini lebih rendah dari harga pasar biasanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, menilai Harga Eceran Tertinggi (HET) perlu disesuaikan secara berkala dengan mempertimbangkan faktor musiman, termasuk Ramadhan, Lebaran, Natal, dan hari besar lainnya. Menurut dia, kebijakan stabilitas pangan kerap bersifat reaktif.

“Kebijakan stabilitas pangan kerap reaktif karena pemerintah biasanya jika menerapkan ceiling price (HET) tidak dipatuhi pedagang bahan pangan, karena biasanya HET di bawah harga pasar, sehingga biasanya direspon dengan menghilangnya bahan pangan di pasar,” ungkap Esther, dikutip Selasa (3/2/2026).

Menurutnya, kenaikan harga pangan berdampak langsung pada daya beli masyarakat berpendapatan rendah, yang sekitar 40-50 persen penghasilannya dialokasikan untuk kebutuhan pangan. Esther menyebut gejolak harga juga dipicu keterbatasan suplai, lonjakan permintaan, serta faktor musiman.

Meski demikian, dia menyebut, harga pangan masih bisa ditekan melalui penguatan distribusi dan peningkatan suplai. Dua langkah tersebut menjadi kunci menjaga stabilitas harga di tengah lonjakan permintaan musiman.

“Jika ingin meredam kenaikan harga bahan pangan maka harus melakukan upaya memperlancar distribusi bahan pangan dari hulu sampai konsumen, (serta) meningkatkan pasokan bahan pangan melalui peningkatan produksi dan operasi pasar,” katanya.

Menurut Esther, hingga kini inflasi masih didominasi bahan pangan dan transportasi, meski relatif terkendali. Namun ke depan terdapat tiga risiko yang perlu diwaspadai.

Pertama, meningkatnya konflik geopolitik yang berpotensi mendorong harga energi dan komoditas pangan impor seperti gandum, kedelai, dan bawang putih. Kedua, lonjakan permintaan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ketiga, kondisi cuaca ekstrem yang dapat memicu gagal panen dan mengurangi pasokan di pasar.

Karena itu, Esther menilai langkah preventif perlu dilakukan sejak dini dengan menjaga pasokan melalui percepatan program swasembada pangan dan energi. Pemerintah juga diminta melancarkan distribusi serta menekan biaya logistik lewat perbaikan infrastruktur dan pemberian subsidi.

Adapun terkait MBG, Esther menyarankan evaluasi agar program tersebut difokuskan pada daerah dengan tingkat stunting tinggi, sehingga tekanan tambahan terhadap permintaan pangan dapat lebih terkendali. (Ros/rri/kbc/rmol)

baca juga :

Ketua DPRD Sidoarjo Hadiri Sosialisasi Insentif 2024 diĀ  Buduran

Redaksi Global News

Wawali Armuji Rakor dengan Industri Oksigen dan PMI

Titis Global News

Surabaya Great Expo 2023: Transaksi Lampaui Target, Tembus Rp 8,2 Miliar

Redaksi Global News