Global-News.co.id
Mancanegara Utama

Keteteran Lawan Ukraina, Rusia Siap Kerahkan 300 Ribu Tentara Cadangan

Rusia siap mengerahkan 300 tentara cadangan usai Presiden Vladimir Putin menandatangani dekrit mobilisasi di tengah kekalahan pasukan di beberapa titik Ukraina. (foto: afp)

MOSKWA (global-news.co.id) – Rusia siap mengerahkan 300 ribu tentara cadangan setelah Presiden Vladimir Putin menandatangani dekrit mobilisasi di tengah kekalahan Negeri Beruang Merah di beberapa titik di Ukraina.

“Ada 300 ribu tentara cadangan yang akan dipanggil,” ujar Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, seperti dilansir AFP, Rabu (21/9/2022).

Menurut Shoigu, angka tersebut hanya satu persen dari keseluruhan tentara cadangan yang dapat dikerahkan berdasarkan dekrit Putin.

Ia menjabarkan, tujuan utama pengerahan pasukan ini adalah untuk membantu “mengamankan” wilayah di sekitar dan di belakang garda terdepan.

Di kesempatan itu, Shoigu juga mengungkap bahwa 5.937 tentara Rusia tewas sejak awal mereka mulai menginvasi Ukraina pada Februari lalu. Ini merupakan kali pertama Rusia mengakui jumlah tentara yang tewas di Ukraina.

Putin pun menganggap Rusia perlu mengambil langkah lebih jauh untuk melindungi tentara dan wilayahnya. Saat mengumumkan dekrit terbaru ini, Putin menyebut negaranya dalam bahaya akibat “blackmail” Barat.

Belakangan, sejumlah negara Barat memang sedang terus menyerukan kekhawatiran mereka bahwa Putin bakal menggunakan senjata nuklir karena sudah terdesak di Ukraina.

Menurut Putin, negara Barat sengaja mengembangkan isu ini agar pada akhirnya mereka dapat menyerang negaranya atas dalih protes atas penggunaan senjata nuklir.

“Jika integritas wilayah negara kami terancam, kami akan menggunakan segala daya upaya untuk melindungi rakyat kami. Ini bukan omong kosong,” kata Putin.

Ini merupakan kali pertama Rusia melakukan mobilisasi setelah Perang Dunia II. Namun, penasihat kepresidenan Ukraina, Mykhailo Podolyak, mengaku tak heran mendengar keputusan Putin ini.

“Sungguh upaya yang sangat tertebak, yang lebih terlihat seperti upaya untuk membenarkan kesalahan mereka sendiri,” ucapnya.

“Perang ini jelas tak berjalan sesuai skenario Rusia dan akhirnya Putin membuat keputusan tak populer untuk memobilisasi dan membatasi hak asasi manusia.”

Saat ini, kondisi di Ukraina memang dianggap tak sesuai dengan rencana awal Rusia. Ukraina terus melakukan perlawanan balik yang tak dapat dibendung pasukan Rusia di berbagai titik.

Ukraina pun dianggap meraih kemenangan besar ketika berhasil merebut kembali Kharkiv, kawasan yang berbatasan langsung dengan Donbas, tempat separatis pro-Ukraina bercokol.

Karena kian terdesak, kelompok separatis di Donbas mulai merencanakan referendum untuk bergabung dengan Ukraina pada pekan ini. (cnn, ins)

baca juga :

Tertahan di Jeddah, 46 JCH Furoda Bervisa Tak Resmi Dipulangkan ke Indonesia

Pakai APD Lengkap, Relawan Surabaya Memanggil Gelar Upacara Kemerdekaan di HAH

Titis Global News

Di Lumajang, Petrokimia Semprot Pupuk Organik di Lahan Seluas 30 Hektare

Redaksi Global News