Global-News.co.id
Madura Utama

Gerakan Konservasi Lingkungan:  Komunitas Bluegreen  Gelar Sadakah Bibit dan Dai Lingkungan

PAMEKASAN (global-news.co.id) – Dalam momentum memeriahkan HUT ke-77 Kemerdekaan RI tahun ini, Komonitas Bluegreen Pamekasan ikut berperan aktif meramaikan kegiatan dalam bidang konservasi lingkungan. Selasa (30/8/22) lalu kelompok pesisir binaan Komonitas Bluegreen diundang menghadiri acara Festival Mangrove Jatim ke-1 di Pasuruan, yang dihadiri Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.
Pada kegiatan yang diprakarsai Yayasan Gajah Sumatera (YAGASU), organisasi non pemerintah yang concern terhadap konservasi lahan pesisir dan agroforesty itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan gerakan kepedulian terhadap lingkungan ini harus dimulai  semua kalangan, dari pesisir sampai pegunungan, dari kota sampai desa, guna menyelamatkan lingkungan dari abrasi yang merupakan sodakah kesehatan kepada banyak orang.
Gerakan ini, kata Gubernur, bukan hanya dilakukan di Jatim, Indonesia, tetapi se dunia. Indonesia adalah paru-paru dunia, karena satu batang pohon mangrove dapat menghasilkan oksigen lima kali lipat dari pohon yang ada di daratan. Melestarikan alam semesta dan peduli terhadap lingkungan, kata Khofifah,  merupakan tugas bersama, pahalanya sangat besar.
Sejalan dengan apa yang sampaikan Gubernur Jatim, seluruh aktivis lingkungan kelompok pesisir yang ada di kepulauan Madura yang tergabung dalam Komonitas Bluegreen, melalui ketuanya Sukardono Hidayat S, S.Pi, M. Agr,  menyatakan dukungan dengan program yang diprakarsai YAGASU ini. Pria yang akrab disapa Dodonk ini mengatakan bahwa pencegahan bencana alam melalui konservasi lingkungan baik di daratan maupun pesisir sudah merupakan kewajiban.
“Bukan hanya karena tingginya emisi gas carbon, selain mencegah abrasi, kelestarian biota laut juga sangat dipengaruhi oleh salah satunya tanaman mangrove ini, dan manfaatnya sangat dirasakan dari hulu sampai hilir, dari masyarakat pesisir, kota sampai ke pegunungan khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pangan,” ujarnya.
Pemerhati lingkungan yang juga guru SMKN 1 Tlanakan Pamekasan ini mengatakan pohon mangrove memiliki banyak fungsi baik secara ekologi maupun sosial ekonomi. Lalu dia menceritakan kehidupan semasa kecilnya yang hidup di wilayah pesisir utara, tepatnya di Desa Tlontorajah Kecamatan Pasean Pamekasan.
Saat itu hasil laut melimpah, pantainya bagus, banyak rumah di pinggir pantai, pendapatan ekonomi masyarakat tinggi. Dengan tingginya aktivitas ekonomi menyebabkan banyak pekerja kuli panggul dari daerah lain berdatangan.
Jika bulan haji warga Desa Tlontoraje ini berbondong bondong berangkat ke tanah suci dan merupakan rombongan jumlah jamaah terbanyak hampir setiap tahunnya.
Tetapi saat ini, lanjutnya,  kondisinya terbalik, bagian pesisir utara ini abrasi melanda, rumah rumah pinggir pantai sudah banyak pindah karena ombak semakin besar dan pasang serta kenaikan air semakin tinggi.
Terumbu karang rusak akibatnya masyarakat nelayan kesulitan dalam mencari ikan, mencari ikan semakin jauh karena dalam jarak dekat sudah tidak mendapat hasil tangkapan. Penyebabnya  karena di wilayah ini tidak ada tanaman mangrove sebagai pengganti terumbu karang yang sudah rusak.
Sebaliknya di pesisir selatan Madura sekarang ekonomi masyarakat pesisir jauh lebih tinggi dari pesisir utara, jumlah tangkapan melimpah, mencari ikan tidak perlu jauh jauh seperti nelayan pesisir utara, aktivitas ekonomi pesisir lebih ramai, hal ini karena ada banyak tanaman mangrove yang ditanam baik oleh kelompok masyarakat maupun perorangan.
“Hal ini terjadi disebabkan karena ekosistem mangrove memiliki fungsi Spawning Ground, Nursery Ground dan feeding Ground (tempat memijah, tempat Merawat, tempat mencari makan) biota kecil, anak ikan, kepiting dan biota lainnya. Oleh karena itu kelestarian ikan dan lainnya dapat terjaga walaupun tidak melakukan program Restocking atau penebaran benih dalam jumlah banyak,” ungkapnya.
Pria alumni IPB ini juga mengatakan jika keberadaan ikan banyak, nelayan mudah menangkap ikan, ekonomi meningkat, harga ikan dapat terjangkau, masyarakat kota sampai ke pegunungan dapat menikmati protein terbaik sebagai pemenuhan kebutuhan pangan. Tidak hanya untuk ekspor ikan, negara akan menambah devisa.
Dia berharap pelaksanaan Festival Mangrove berikutnya bertempat di Madura khususnya Pamekasan. Jika dibutuhkan dapat membuat Mangrove Festival For Student terutama untuk menggerakkan sekolah dan universitas yang berada dekat di pesisir pantai. Hal  ini dapat menjadi kekuatan besar dalam edukasi dan kepedulian gerakan konservasi alam dan kesehatan lingkungan.
Gayung bersambut, keinginan Dodong, didukung oleh Founder & Ceo YAGASU Ir Bambang Suprayogi. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pamekasan ini menegaskan bahwa tahun depan Festival Mangrove II akan dilaksanakan di Pamekasan. Karena itu dia mengajak semua pihak terkait untuk persiapan dan semangat menanam serta merawat dengan baik tanaman tanaman mangrove yang ada.
Wakil Ketua Komunitas Bluegreen Slaman,  langsung menawarkan tempat destinasi wisata miliknya yang terletak di Desa Lembung Kecamatan Galis Pamekasan sebagai lokasinya.
“Kami siap bapak, nanti Festival Mangrove berikutnya bisa ditaruh di tempat saya,” tutur pria peraih juara I Nasional Wahana Lestari Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2022 ini.
Peran Ulama Atas Kelestarian Lingkungan
Yang menarik saat ini aktivis Lingkungan yang tergabung dalam komonitas bluegreen kini memiliki program sodakoh bibit dan da’i   lingkungan. Untuk menjalankan programnya maka komunitas ini berharap bisa bekerjasama dengan aneka organisasi keagamaan untuk  membantu menjalankan tugas lembaganya dalam menjaga lingkungan.
“Kami beberapa hari lalu hadir dalam kegiatan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Kami yakin DMI juga dapat bekerjasama dengan kami melalui peran imam masjid sehingga dapat menangkal radikalisme lingkungan sesuai arahan Ibu Gubernur melalui ajakan sodakah bibit dan konservasi lingkungan,” tutur Dodong.
Dukungan juga datang dari  IKADI (Ikatan Da’i Indonesia). Dr Muhammad Baihaqi, MA Ketua Ikadi Jatim menyambut positif program Komunitas Bluegreen Pamekasan ini.
“Sebagai seorang yang memiliki concern di bidang konservasi lingkungan,  kami sangat berharap IKADI  mau melakukan terobosan dengan mengangkat persoalan lingkungan dalam dakwahnya juga “, ujar Baihaqi.
Mewakili Ormas Islam di Pamekasan, Drs Mursalin, M PdI, berharap agar Ikadi bisa bersinergi dengan ormas-ormas Islam lainnya, misalnya, melalui MUI (Majelis Ulama Indonesia) ataupun wadah yang lainnya. Kata dia, banyak problematika di Pamekasan ini yang membutuhkan peran serta dan sinergi  ormas-ormas Islam di Pamekasan.
“Kami yakin mereka semua akan mendukung sekali jika para da’i banyak menyuarakan pentingnya pelestarian lingkungan. Selama ini, banyak orang tidak sadar bahwa merusak lingkungan merupakan perbuatan yang dilaknat Allah. Dan banyak juga orang lupa atau tidak paham bahwa sikap melestarikan lingkungan adalah termasuk akhlaq yang mulia, ” terangnya. (mas)
Keterangan Foto:
Pengurus Komunitas Bluegreen  Pamekasan bersama Gubernur Jatim.

baca juga :

Piala AFF U-16: Daftar Penghargaan, Iqbal Gwijangge Pemain Terbaik

Redaksi Global News

Kompleks Makam Ki Ageng Pengging Dijadikan Cagar Budaya, Ahli Waris Setuju Lokasi Makam Langsung Direnovasi

Redaksi Global News

Mulai 1 Januari 2021 Indonesia Tutup Akses Masuknya WNA

Redaksi Global News