Global-News.co.id
Kesehatan Utama

Cegah Stunting, Perhatikan Asupan Protein Hewani saat Memberikan Makanan Pendamping ASI

Ahli Gizi Kesehatan Masyarakat dan Gubes FKM UI Prof Dr drg Sandra Fikawati MPH (tengah) dan Direktur Corporate Affairs JAPFA Rachmat Indrajaya berbincang usai menjadi pembicara dalam acara bertajuk Penuhi Asupan Protein Hewani, Sambut Generasi Bebas Stunting di Surabaya.

Stunting masih menjadi masalah gizi utama bagi bayi dan anak di bawah usia dua tahun di Indonesia. Kondisi ini harus segera diatasi karena akan menghambat momentum generasi emas Indonesia 2045.

Oleh : Titis Tri W

STUNTING (kekurangan gizi kronis pada bayi di 1.000 hari pertama kehidupan dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak) masih menjadi masalah serius di Indonesia. Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, prevalensi balita stunting sebesar 24,4% pada 2021 atau 5,33 juta balita. Artinya, hampir seperempat balita Indonesia mengalami stunting pada tahun lalu. Namun, demikian, angka tersebut lebih rendah dibanding 2020 yang diperkirakan mencapai 26,9% dan dibanding 2019 yang mencapai 27,7%. Meski prevalensi kasus stunting di Indonesia menunjukkan penurunan sejak beberapa tahun belakangan namun penurunan angka stunting tersebut masih jauh dari standar WHO (di bawah 20%) dan target nasional yakni sebesar 14% pada 2024.

Setidaknya ada 7 provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi berdasarkan pada hasil studi Status Gizi Indonesia Kementerian Kesehatan pada 2021, yaitu Nusa Tenggara Timur 37,8%, Sulawesi Barat 33,8%, Aceh 33,2%, Nusa Tenggara Barat 31,4%, Sulawesi Tenggara 30,2%, Kalimantan Selatan 30% dan Kalimantan Barat 29,8%. Sementara terdapat 5 provinsi dengan jumlah balita stunting terbesar, yaitu Jawa Barat 971.792, Jawa Tengah 651.708, Jawa Timur 508.618 , Sumatera Utara 347.437 dan Banten 268.158.

Dengan fakta ini, masalah stunting penting diatasi segera karena berpotensi mengganggu sumber daya manusia dan berhubungan dengan tingkat kesehatan dan kemampuan kognitif, bahkan kematian anak karena rendahnya kekebalan tubuh sehingga si kecil mudah sakit.

Penelitian yang dilakukan kalangan medis mengurai fakta, salah satu penyebab stunting akibat kekurangan protein hewani pada makanan pendamping ASI (MPASI) yang mulai diberikan sejak usia enam bulan. Padahal protein hewani mengandung asam amino esensial lebih lengkap yang bermanfaat mendukung pembentukan semua hormon pertumbuhan.

Berdasarkan data Food and Agriculture (FAO) pada tahun 2017, total konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia saat ini masih tergolong rendah, hanya sebesar 8%. Angka tersebut berbeda secara signifikan dibandingkan negara Asia lainnya, seperti Malaysia dan Thailand yang tingkat konsumsi protein hewaninya masing-masing mencapai 30% dan 24%.

Keunggulan Protein Hewani

Ahli Gizi Kesehatan Masyarakat dan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia Prof Dr drg Sandra Fikawati MPH menjelaskan stunting menjadi masalah genting karena memiliki dampak jangka panjang yang berkontribusi pada rendahnya produktivitas ekonomi dan pertumbuhan negara. Selain itu kualitas kerja yang tidak kompetitif, hingga rawan risiko munculnya PTM (diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah).

Makanan yang mengandung protein hewani tidak selalu mahal. Salah satunya telur, mudah didapatkan dan harga terjangkau.

“Padahal salah satu cara pencegahan stunting dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang mengandung protein hewani,” katanya saat acara bertajuk Penuhi Asupan Protein Hewani, Sambut Generasi Bebas Stunting yang digelar di Surabaya beberapa waktu lalu.

Prof Sandra menjelaskan protein hewani, selain mengandung asam amino esensial yang lebih lengkap dan lebih banyak dibandingkan protein nabati, juga memiliki kandungan vitamin dan mineral yang beragam serta memiliki kualitas yang lebih baik untuk mendukung daya tahan tubuh manusia. “Oleh karenanya, penting agar mengonsumsi jenis makanan yang mengandung protein hewani setiap harinya. Protein hewani, tidak harus makanan mahal. Tiga sumber protein hewani yang murah adalah telur, ikan, dan susu,” katanya.

Manusia, lanjut Prof Sandra, membutuhkan protein yang terdiri atas asam-asam amino yang berfungsi sebagai zat pembangun dan pengatur bagi tubuh. Tubuh manusia membutuhkan sebanyak 20 jenis asam amino dan 9 di antaranya adalah asam amino esensial yang harus didapatkan dari makanan. Dan itu bisa didapatkan dari makanan yang mengandung protein hewani.

Secara gamblang Prof Sandra mengungkap sederet keunggulan protein hewani. Yakni padat zat gizi makro dan mikro (protein, vitamin A, B-12, riboflavin kalsium, zat besi dan seng), mengandung zat gizi yang sulit ditemui atau tidak ada di pangan nabati. Zat gizi mikro yang dikandung mudah diserap oleh tubuh. Mutu protein tinggi dengan asam amino esensial lengkap. Memiliki kandungan faktor anti nutrient rendah. Khusus untuk susu, mengandung IGF-1 yang mampu meningkatkan tinggi badan. “Temuan terbaru, konsumsi protein hewani menurunkan risiko obesitas yang secara metabolik tidak sehat,” jelasnya.

Dalam kaitannya dengan pencegahan stunting, menurut Prof Sandra asupan protein hewani tidak hanya dibutuhkan oleh anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Lebih jauh lagi, asupan protein hewani harus dicukupi sejak awal di 1.000 hari pertama kehidupan yakni sejak ibu hamil hingga anak berusia 2 tahun. Periode ini merupakan periode emas pertumbuhan dan perkembangan anak, masa yang menentukan perkembangan fisik dan kecerdasan jangka panjang.

Sedangkan protein nabati cocok untuk vegetarian. Protein nabati bersumber dari biji-bijian, kacang-kacangan. Salah satu perbedaan utama antara protein nabati dan hewani pada kandungan asam aminonya. Kandungan asam amino protein hewani lebih banyak dan lebih lengkap yang berperan penting dalam proses pertumbuhan anak dibandingkan protein nabati.

Sementara itu Direktur Corporate Affairs PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) Rachmat Indrajaya mengakui tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia masih rendah, bahkan dibandingkan negara tetangga Malaysia. Ada beberapa hal menjadi penyebabnya, di antaranya kurangnya informasi dan edukasi akan pentingnya asupan protein hewani, kurang kepedulian orangtua untuk memberikan asupan protein hewani hingga faktor ekonomi.

“Sebagian orangtua memandang pemenuhan asupan protein hewani itu mahal. Padahal protein hewani tidak harus mahal. Dengan memberikan asupan satu telur pada anak setiap hari dapat mencegah stunting. Alternatif lain bisa memberi daging ayam dan 1 kotak susu UHT setiap hari,” katanya.

Karena itu pihaknya berkomitmen untuk memberikan edukasi ke masyarakat terkait pentingnya mengonsumsi protein hewani. Terutama untuk usia anak, protein hewani sangat dibutuhkan terutama masa pertumbuhan.

Sebagai penyedia protein hewani di Indonesia, lanjut Rachmat JAPFA berkomitmen memberikan kualitas produk terbaik dengan harga terjangkau. Dalam menjamin kualitas produk, JAPFA selalu memperhatikan penerapan Standard Operating Procedure (SOP) yang ketat serta didukung oleh tenaga lapangan yang profesional. Sehingga, produk olahan protein hewani yang dihasilkan memenuhi konsep ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal). “Kami berharap, semakin banyak masyarakat Indonesia terutama usia anak yang mengonsumsi protein hewani sehingga terhindar dari stunting,” katanya.

Untuk diketahui PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk merupakan perusahaan agribisnis di Indonesia yang memiliki lini bisnis produksi pakan ternak, pembibitan unggas, peternakan komersial, pengolahan hasil peternakan dan produk konsumen, budidaya perairan, serta perdagangan dan lain-lain. (*)

baca juga :

Sektor Penyerangan Persik Masih Bermasalah

Wakil Menkes Iran Terinfeksi Virus Corona

Redaksi Global News

Sekdaprov Jatim Pastikan Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 Perdana di Surabaya

Redaksi Global News