Global-News.co.id
Kesehatan Metro Raya Utama

300 Pasangan di Surabaya Raya Butuh Layanan Bayi Tabung

Kiri ke kanan, dr Ali Mahmud SpOG, Dr dr Amang Surya SpOG, Prof Dr dr Hendy Hendarto SpOG dan dr Pudjo Djanuartono MKes saat meresmikan ASHA IVF RS PHC Surabaya, Kamis (1/9/2022).

SURABAYA (global-news.co.id) – Sekitar 12,5% dari 7,8 juta pasangan  usia reproduktif di Jawa Timur merupakan pasangan yang membutuhkan terapi fertilitas lantaran mengalami kesulitan mendapatkan buah hati. Sementara di Surabaya Raya, diperkirakan terdapat sekitar 300 pasangan yang harus mendapatkan layanan bayi tabung.

Direktur Utama ASHA IVF Indonesia, Dr dr Amang Surya P. SpOG F-MAS, mengatakan, angka tersebut terbilang luar biasa banyak. Dengan kemampuan 5 klinik bayi tabung yang ada, dari 300 pasangan itu yang terlayani masih kurang dari 200 pasangan. “Sisanya ke mana? Mungkin belum terlayani atau mungkin lari ke luar negeri. Ini menjadi tugas kita untuk membantu masyarakat di bidang fertilitas,” ujarnya usai peresmian pembukaan ASHA IVF RS PHC Surabaya, Kamis (1/9/2022).

Sementara dr Ali Mahmud, SpOG-KFER menyebut gaya hidup dan kondisi lingkungan yang buruk, ikut memicu naiknya angka infertilitas di masyarakat. “Polusi begitu hebat dampaknya. Kita tidak merasakan (polusi itu), tapi itu akan memengaruhi kondisi fisik kita, termasuk organ reproduksi baik laki-laki maupun perempuan,” ujar dokter kandungan sekaligus konsultan ferilitas endokrinologi reproduksi ini.

Terkait gaya hidup, Ali mencontohkan, kalau dulu pukul 21.00 orang sudah beristirahat tidur. Sementara yang terjadi sekarang, pukul 21.00 baru keluar rumah dan baru tidur pukul 02.00 dini hari. “Ini memengaruhi. Karena tubuh itu saat istirahat akan melakukan regenerasi sel-sel di seluruh tubuh, termasuk organ reproduksi. Tentunya sedikit banyak ini akan memengaruhi,” tambahnya.

Lantas kapan pasangan harus ke klinik IVF (in vitro fertility)? Amang menjelaskan, IVF atau bayi tabung bukanlah alternatif terakhir, tapi merupakan sebuah pilihan di mana ini adalah solusi saat menentukan treatmen pada kasus-kasus infertilitas. “Jadi bukan berarti harus dimulai dengan cara alami, lalu inseminasi dulu. Tapi didasarkan pada problem atau masalah fertilitas yang dialami,” ujarnya.
Kalau problemnya itu merupakan indikasi untuk dilakukan tindakan IVF, lanjutnya, maka IVF itu pilihannya. “Bukan berarti harus dicoba secara alami dulu, karena akan membuang waktu dan biaya,” tandas Amang.

Jadi mereka yang datang ke klinik IVF bukan berarti yang harus menjalani bayi tabung, tapi semua pasangan yang ingin memiliki keturunan. Karena itu tidak ada batasan kapan saat pasangan harus berkunjung ke klinik IVF.  “Berapa pun lamanya usia pernikahannya, mereka bisa ke sini,” kata Amang.

Dia lantas mencontohkan kliennya, pasangan berusia 23 tahun yang baru 3 bulan menikah, tapi yang perempuan sudah menopause. Pasien tersebut kemudian diberikan terapi yang luar biasa. Karena ada kegagalan fungsi ovarium, dilakukan terapi supaya telurnya tumbuh. “Terapi ini berujung, 6 bulan kemudian dilakukan proses bayi tabung. Alhamdulillah pasien ini hamil dan kini sudah melahirkan anak,” ujarnya.
“Kalau misalnya dia datang ke klinik kemudian dicoba cara alami, inseminasi, saya yakin mustahil,” tambahnya.

Ditegaskan, terapi fertilitas harus didasarkan pada kondisi dan bayi tabung harus dilakukan sesuai indikasi. “Bukan orang yang bisa (menggunakan cara) alami lalu dibuat bayi tabung. Dan sebaliknya orang yang harus bayi tabung, jangan dicoba alami, karena kasihan. Buang biaya, buang waktu, kesempatan,” kata Amang

Sebagaimana diketahui, semakin tua usia perempuan, kemampuan untuk hamil semakin rendah. Kenapa rendah? Karena cadangan telurnya semakin turun, kualitas sel telurnya juga memburuk, kemampuan rahimnya untuk menerima embrio juga semakin rendah. Belum lagi hormon yang dimiliki akan semakin tidak karu-karuan. “Potensi risikonya semakin besar,” ungkapnya.

“Tujuan program hamil itu kan bukan sekadar hamil, tapi hamil dengan kondisi sehat ibunya, sehat bayi yang dilahirkan, syukur-syukur kalau bisa yang berkualitas, karena kita kan harus mencetak generasi bangsa yang lebih baik,” terangnya.

ASHA IVF RS PHC Surabaya merupakan klinik pertama dari brand ASHA IVF Indonesia. Amang berharap dalam 5 tahun ke depan, pihaknya sudah bisa membangun 8 klinik IVF dan 30 klinik fertilitas di seluruh Indonesia.

Direktur RS PHC Surabaya, dr Pudji Djanuartono MKes, menyebut, seiring dibukanya layanan ini, menjadikan rumah sakit yang dipimpinnya menjadi rumah sakit pertama dalam jaringan rumah sakit  BUMN  IHC yang memiliki layanan teknologi reproduksi berbantu atau bayi tabung. “Mudah-mudahan keberadaan klinik ini mendatangkan manfaat yang luas bagi masyarakat Indonesia dan Jawa Timur pada khususnya,” ujarnya.

Sementara Ketua Perhimpunan Fertilitas In Vitro Indonesia (Perfitri), Prof Dr dr Hendy Hendarto SpOG (K) mengatakan, sebagai organisasi profesi Perfitri bertujuan meningkatkan kualitas pelayanan bayi tabung dan tanggungjawab-nya pada masyarakat yang membutuhkan. “Mari berkolaborasi membangun proyek ini agar masyarakat terhindar dari masalah fertilitas,” ujarnya.

Menurut Hendy kolaborasi antar klinik bayi tabung –yang jumlahnya sebanyak 52 klinik—dengan dokter-dokter yang sudah canggih akan mendorong masyarakat untuk tidak lagi ke luar negeri. (ret)

baca juga :

Pacu Proyek Infrastruktur Daerah, PT SMI Siap Kucurkan Pinjaman Rp 16,5 T

Nutrisi untuk Menjaga Daya Tahan Tubuh si Kecil

Titis Global News

Positif COVID-19, Dokter di Kota Blitar Meninggal di Malang

Redaksi Global News