Global-News.co.id
Metro Raya Utama

Rumah Pakar Viaduk Gubeng Surabaya Raup Puluhan Juta Rupiah

Para pengunjung Rumah Pakar Viaduk Gubeng sedang ngobrol sambil minuman maupun kudapan.

SURABAYA (global-news.co.id) – Rumah Padat Karya (RPK) atau Rumah Pakar Viaduk di Jl Nias, Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, Jawa Timur, meraup omzet puluhan juta rupiah setelah diresmikan Walikota Eri Cahyadi, 28 Mei 2022 lalu.

Camat Gubeng Eko Kurniawan Purnomo, Selasa (12/7/2022), mengatakan, Rumah Padat Karya tersebut banyak diminati warga Surabaya karena tempatnya yang strategis dan kekinian.

“Selain kekinian, juga instagramable dan sangat pas untuk tempat meeting bersama teman kantor. Banyak digemari pengunjung, karena suasananya seperti di rumah sendiri, cocoklah untuk ngopi,” kata Eko.

Bukan hanya coffee shop, kata Eko, tetapi juga ada barbershop (cukur rambut) hingga cuci motor dan mobil. Dari tiga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) itu, yang paling banyak diminati adalah coffee shop. Sedangkan barbershop dan cuci kendaraan, masih kurang diminati dan belum maksimal.

Alasan kurang maksimalnya dua usaha tersebut, lanjut Eko, karena warga masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang bekerja di Rumah Pakar itu masih butuh pelatihan lebih mendalam. Selain itu, tempat untuk cuci motor dan mobil belum maksimal karena tempat yang kurang memadai.

“Sementara ini hanya menjalankan coffee shop, karena yang potong rambut itu ternyata tidak sesuai passionnya. Sedangkan cuci mobil dan motor, tempatnya belum memadai, rencananya pada 2023 nanti kami siapkan di Kantor Kelurahan Baratajaya,” kata dia.

Meskipun yang berjalan hanya coffee shop, Rumah Pakar di Viaduk Gubeng cukup memuaskan, yakni meraup omzet hingga Rp88 juta per bulan. Omzet itu nantinya digunakan untuk gaji, biaya operasional dan masih banyak lainnya.

“Ada 23 MBR yang bekerja, masing-masing mendapat gaji antara Rp1,5 juta – Rp 2 juta per bulan,” ujar dia.

Agar pendapatan meningkat, Eko bersama jajarannya juga mempromosikan Rumah Pakar Viaduk Gubeng melalui sosial media (sosmed). Selain itu, juga menggandeng sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk meningkatkan skil MBR yang bekerja di tempat tersebut.

“Tentunya kita terus melakukan evaluasi. Jadi tidak hanya coffee shop, kami juga menghadirkan pelatih dari bidang lain untuk meningkatkan pendapatan sesuai dengan permintaan Pak Wali (Eri Cahyadi) pendapatan MBR bisa sampai Rp4 juta perbulan,” kata dia.

Walikota Eri Cahyadi sebelumnya mengatakan, sejumlah aset berupa bangunan rumah milik Pemkot Surabaya dimanfaatkan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), salah satunya sebagai rumah padat karya

Eri menjelaskan, bentuk program padat karya itu dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah dan aset yang ada. Dia mencontohkan, ada aset berupa tambak, maka dapat dikelola untuk perikanan oleh MBR di wilayah sekitarnya. Demikian pula jika aset itu berupa lahan kosong, maka bisa dimanfaatkan untuk pertanian atau usaha yang lain. (pur)

baca juga :

Penanganan Kanker, Indonesia Masih Butuh Ratusan Fisikawan Medis

Redaksi Global News

DPRD Surabaya Usulkan Empat Dinas Pemkot Digabung

Operasi Zebra Semeru, Polisi Tilang 6.000 Pelanggar

Redaksi Global News