Global-News.co.id
Madura Utama

Bupati Anti Mainstream, Dahlan Iskan Kagum Program Terobosan Baddrut Tamam

PAMEKASAN (global-news.co.id) – Pemkab Pamekasan Minggu (22/5/2022) kemarin menggelar sarasehan pendidikan dan kewirausahaan membedah buku “Membangun Manusia Indonesia, Inspiring Prof Dr KH Saifuddin Chalim MA”. Acara ini digelar di Pendopo Ronggosukowati dan dibuka oleh Bupati Baddrut Tamam.

Hadir sebagai pemateri dalam acara tersebut Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MA, pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummat Pacet Mojokerto, D. Zawawi Imron, penyair dan budayawan, dan M. Ismail Adnan penulis buku Inspirasi dan Perjuangan Kiai Asep Saifuddin Chalim, “Membangun Manusia Indonesia”.

Baddrut Tamam mengatakan etos kerja orang Madura luar biasa, inovatif dan cerdik. Kalau kecerdikan itu dikelola sedemikian rupa, ditambah dangan ilmu pengetahuan yang cukup serta pengalaman yang cukup akan melahirkan manusia hebat dan luar biasa.

“Etos Madura luar biasa. Wajar kalau Arya Wiraraja menjadi bagian dari panglima perang berdirinya Majapahit. Bahkan berdirinya NU itu kalau nggak ada orang Madura, bisa saja NU tidak berdiri. Bahkan saya juga ikut mendengar, di sekitarnya Kiai Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah itu juga ada orang Madura,” ungkapnya.

Karena orang Madura hebat, lanjut dia, maka tinggal disemangati dalam kewirausahaan yang dilakukan oleh pemerintahan secara konkret. Dia mengakui, di Pamekasan pendidikan menjadi prioritas dan telah terwujud dalam banyak program antara lain pemberian beasiswa santri.

Ada 3.650 orang yang sudah dikirim ke pesantren. “Dalam semangat ini Pak Kiai Asep turut hadir ke tempat ini untuk menginspirasi kita. Pak Dahlan Iskan hadir di tempat ini untuk menginspirasi kita, Kiai Zawawi Imron hadir untuk membimbing kita. Ini kolaborasi. Pak Dahlan dari zero menjadi hero. Kiai Asep dari biasa menjadi luar biasa dengan Amanatul Ummah-nya yang mengantarkan beberapa orang hebat,” ungkapnya.

Sementara itu Dahlan Iskan mengaku mendukung penuh kegiatan sarasehan pendidikan dan kewirausahaan ini. Dia mengaku kagum pada Bupati Baddrut Tamam yakni bupati yang anti mainstream, yang selalu mengambil langkah yang orang lain tidak melakukannya. Di antaranya program Pamekasan Call Care yang telah berjalan baik.

Terkait masalah pendidikan, mantan bos Jawa Pos Group ini menegaskan agar guru cepat berubah. Karena bisa jadi suatu saat nanti guru akan kalah dengan artifisial intelligent, karena artifisial intelligent bisa mengajar murid dengan memori lebih besar daripada guru.

“Guru tidak bisa mengingat murid 1 per 1 di kelasnya, karena sibuk mikir yang lain. Sehingga ketika ada murid yang hari itu kurang pandai, itu dimarahi. Tanpa guru tahu mengapa hari itu murid itu tidak bisa menjawab. Artifisial intelligent itu nanti bisa menjawab,” katanya.

Terkait yang dilakukan Kiai Asep Saifuddin, Dahlan Iskan mengatakan bahwa Kiai Asep membangun pendidikan bukan karena ingin bekerja, bukan karena penghasilan, tapi karena ingin membangun negara lewat pendidikan.

“Saya amati yang dilakukan Kiai Asep. Satu mengenai agamanya, bagaimana beriman, bagaimana bertaqwa dan beribadah. Lalu kedua adalah ilmu pengetahuan agar bisa cerdas pandai dan sehat. Sedangkan paket tiga adalah bagaimana punya welas asih, punya kehalusan budi, punya kebaikan bersikap,” ungkapnya.

Dahlan lalu mengungkapkan perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Dulu, kata dia, sekolah terbaik pasti sekolah Katolik, lalu Kristen. Berikutnya baru sekolah umum.

Sekolah Islam di bawah semua. Tetapi dengan kemajuan belakangan ini, sekarang terlalu banyak sekolah Islam yang kualitasnya baik bahkan ada yang lebih baik dari sekolah Katolik.

“Sekolah di tempatnya Kiai Asep, indent, tidak bisa mendaftar lalu masuk. Yang mendaftar terlalu banyak, yang bisa diterima tidak sebanyak itu. Dan ini gejala banyak sekali pesantren. Malang itu ada sekolah Islam yang indentnya 6 tahun. Berarti ketika kelas 1 SD, dia sudah harus membayar dan mendaftar untuk masuk SMP di Madrasah itu,” ungkapnya.

Untuk sukses besar, Dahlan Iskan menyarankan banyak hal yang harus dilakukan, di antaranya sekali kali madrasah harus membuat program yang keluar dari mainstream kemudian melakukan jalan sendiri. “Ini saya kira menginspirasi kita semua,” pungkasnya. (mas)

baca juga :

Hadapi Thailand, Timnas Indonesia U-19 Dibayangi Tren Buruk

Redaksi Global News

PDIP Siapkan Tim Lawan Gugatan Machfud Arifin-Mujiaman ke MK

Redaksi Global News

Satu Sabuk Satu Jalan, Disambut Dunia

gas