Global-News.co.id
Kesehatan Utama

Pentingnya Skrining Pendengaran pada Bayi

Dr Rosa Falerina Sp THT (dua dari kiri) bersama Trista Kasoem dan Ang Hoey Tiong (3 dari kanan).

SURABAYA (global-news.co.id) – Selama ini pemeriksaan pendengaran pada bayi kurang menjadi perhatian.  Padahal sebagaimana dikatakan dr Rosa Falerina SpTHT KL (K), gangguan pendengaran yang tidak segera terdeteksi akan memiliki dampak besar pada perkembangan seseorang.

“Anak dengan gangguan pendengaran akan mengalami penurunan kualitas hidup.  Pertama dia akan  mengalami gangguan wicara, berikutnya gangguan komunikasi, gangguan sosialisasi, gangguan akademik, terjadi depresi, dan kualitas hidupnya turun,” terang spesialis telinga hidung dan tenggorokan dari National Hospital dalam health talk terkait pembukaan layanan penanganan gangguan pendengaran di rumah sakit tersebut.

Untuk mencegah hal tersebut, penting dilakukan deteksi dini lewat pemeriksaan pendengaran sejak bayi. Rosa menyebut, pada bayi usia 2 hari sudah bisa dilakukan pemeriksaan pendengaran.

Yang sering terjadi di masyarakat, begitu anaknya lahir yang dilihat tangan dan jari-jarinya lengkap, bobot dan panjangnya berapa, hanya fisiknya. Pemeriksaan baru akan dilakukan manakala bayi yang dilahirkan itu sakit.

Padahal 50% bayi dengan gangguan pedengaran, tenyata tanpa faktor risiko. Anak memang terlihat tidak sakit. “Tapi ketika diperiksa ada gangguan pendengaran,” katanya.

Untuk deteksi dini, pada bayi baru lahir akan dilakukan tes Oto Accoustic Emission (OAE), yaitu tes pendengaran guna mengetahui kondisi atau fungsi koklea/rumah siputnya. Dilanjutkan pada usia 3 bulan dengan tes BERA (brainstem evoked response audiometry) adalah pemeriksaan sampai ke batang otak untuk mengukur aktivitas gelombang otak yang merespons klik atau nada tertentu. Pemeriksaan ini merupakan metode yang efektif untuk mengukur bagaimana telinga menerima suara dan mengirimkannya ke otak melalui saraf pendengaran.

Menurut Rosa, bayi sehat maupun sakit tetap harus diperiksa. “Selama ini, yang diperiksa kan hanya bayi sakit saja. Bayi sehat maupun bayi sakit harus sudah dilakukan skrining.  Mengapa 2 hari setelah dilahirkan, supaya tidak ada lost case,” terangnya.

Dia lantas menyontohkan, orangtua yang merasa bayinya normal-normal saja, saat hamil pun biasa saja sehingga merasa tak perlu melakukan pemeriksaan. Ketika bayinya sudah berusia 2 tahun ternyata tidak bisa bicara. Setelah dilakukan pemeriksaan, rupanya si bayi mengalami gangguan pendengaran.

Patokannya, di saat anak berusia 1 tahun ke atas belum ada satu kata pun yang diucapkan, kalau dipanggil tidak merespon, kalau butuh sesuatu dia menarik-narik tangan. Bila itu yang terjadi, orangtua harus berhati-hati, anak perlu dibawa ke dokter THT untuk dilakukan pemeriksaan pendengaran. Kalau tidak segera dilakukan, anak akan terlambat mendapat pertolongan yang akan membuat kualitas hidupnya turun.

Gangguan pendengaran yang sering terjadi adalah gangguan kongenital, yaitu gangguan sejak lahir akibat ibunya mengalami infeksi TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes) saat hamil, penggunaan obat-obatan ototoksid oleh ibu hamil, bayi yang lahir kuning, bayi lahir prematur atau berat badan lahir rendah (BBLR), lahir dengan ventilator, lahir dengan gangguan sindrom kelainan tulang kepala. Selain itu, penyakit pada anak-anak seperti cacar, gondong, flu, juga bisa menyebabkan gangguan pendengaran.

Bayi sendiri sudah bisa mendengar 7 minggu sebelum kelahiran, namun belum bisa diketahui apakah mengalami gangguan atau tidak. Karena sudah bisa mendengar, sejak dalam kandungan bayi harus diberi stimulus suara selain dengan sentuhan pada perut.
Gangguan pendengaran juga bisa terjadi akibat pemakaian cutton bud. Karena itu dokter spesialis THT tidak pernah menyarankan penggunaan cutton bud untuk membersihkan telinga. Minyak yang terlalu banyak dalam telinga secara otomatis akan keluar dengan sendirinya.

“Minyak ini berfungsi untuk menjaga telinga dari bakteri. Kalau menumpuk tidak bisa ke luar, jangan dikorek dengan cutton bud tapi bawa ke dokter THT untuk dibersihkan. Kalau mau membersihkan sendiri, cukup daun telinganya,” terang Rosa.

Penggunaan headset atau earphone yang terus menerus juga berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran. Maksimal pemakaian dalam sehari adalah selama 60 menit dengan tingkat kebisingan maksimal 60dB. “Di hp kan ada peringatan terkait pemakaian headset,” katanya.

Sementara Deputy Chief Executive Officer Kasoem Group, Trista Mutia Kasoem, mengatakan, telinga merupakan salah satu indera yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi anak. “Pendengaran ini menjadi salah satu basic untuk bertanya, belajar berbicara dan berkomunikasi. Faktanya, data WHO menyebut sekitar 5,5% dari seluruh penduduk dunia mengalami gangguan pendengaran yang meliputi gangguan pendengaran sejak lahir, karena faktor usia, karena gaya hidup,” ungkapnya.

Data WHO juga menyebutkan sekitar 1-3 per 1.000 kelahiran bayi, mengalami gangguan pendengaran sejak lahir. Dengan jumlah populasi di Indonesia yang lebih dari 270 juta, maka saat ini masih banyak orang yang membutuhkan bantuan dalam penanganan kasus gangguan pendengaran.

Hingga kini tuli atau gangguan pendengaran masih menjadi masalah kesehatan karena akan memengaruhi kualitas hidup seseorang. Untuk membantu masyarakat menangani gangguan pendengaran, National Hospital membuka layanan Hearing Excellent Center dengan menggandeng Kasoem Hearing Center.

CEO National Hospital Surabaya, Ang Hoey Tiong, berharap dengan layanan ini arek-arek Suroboyo tak perlu lagi ke luar kota bahkan ke luar negeri untuk melakukan pemeriksaan pendengaran yang lengkap dan komprehensif. “Ini sekaligus merupakan jawaban kami dari banyak pertanyaan dari pasien, ‘kapan ada layanan untuk orang dengan gangguan pendengaran’,” katanya. (ret)

baca juga :

Tolak Pembahasan, MUI Minta RUU HIP Ditunda Selamanya

Redaksi Global News

Erupsi Semeru, Mahasiswa UWKS Bantu Pemulihan Pascabencana

Redaksi Global News

Raih Gubes di Usia 39 Tahun, Heri Ulas Solusi Ketidakpastian di Era Big Data

Titis Global News