Global-News.co.id
Mancanegara Utama

Indahnya Ramadan di Negeri Tango dengan Toleransi Luar Biasa

Meta Ayu Puspitantri yang kini tinggal bersama suami dan anaknya di Buenos Aires, Argentina, merasakan indahnya beribadah Ramadhan di negeri yang mayoritas penduduknya nonmuslim.

Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim perlu belajar toleransi dari negeri Tango, Argentina. Mengapa? Ya, karena di negeri Maradona itu toleransi melimpah karena sudah mendarahdaging bagi warganya. Pemandangan selama Ramadhan di Argentina pun diliputi suasana saling menghargai antar pemeluk agama. Muslim yang minoritas pun bisa hidup aman dan nyaman.

Laporan Gatot Susanto

PITA, istri Arya Daru Pangayunan, diplomat muda yang sekarang menjabat Sekretaris Ketiga Fungsi Ekonomi, Sosial, dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Buenos Aires, menjalani puasa Ramadhan di musim gugur yang nyaman. Lulusan Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis, UGM, ini merasa rutinitas puasa Ramadan di Argentina tidak jauh beda dengan di Indonesia.

“Subuh sekitar jam 6 kurang, kemudian buka sekitar jam 6.30 malam. Sahur dan bukanya, karena untuk sehari-hari kami suka yang simpel jadi terbawa saat bulan Ramadhan ini juga. Untuk sahur, menunya seperti roti atau pasta. Lalu saat buka menunya agak lebih berat seperti daging, daging di sini juara enaknya, lalu ayam, dengan nasi,” kata Pita, yang bernama lengkap Meta Ayu Puspitantri, kepada Global News, Rabu 13 April 2022.

Ibadah salat Tarawih sebelumnya di awal Ramadhan dilakukan di rumah karena anak-anak harus mengikuti les privat Bahasa Spanyol setiap hari Senin-Jumat malam selama 30 menit sampai satu jam dan les Bahasa Mandarin setiap Sabtu malam selama satu jam. Untuk ibadah sholat Tarawih di masjid sudah diadakan seperti biasa. Artinya, tidak ada pembatasan yang terlalu ketat akibat pandemi Covid-19.

“Rencananya kami akan Tarawih di masjid pada weekend besok ini. Lalu ibadah lainnya seperti Tadarus kami lakukan di rumah. Untuk anak-anak, ada les mengaji satu kali seminggu pada hari Rabu sebelum les Bahasa Spanyol yang sudah dilakukan dari sebelum bulan Ramadhan tiba,” katanya.

Salat Tarawih rencananya dilakukan di Masjid The King Fadh yang merupakan masjid paling besar di kota tersebut. “Ada kurang lebih dua masjid lainnya namun kami belum pernah ke sana karena masjid yang terdekat dengan apartemen kami adalah masjid The King Fadh,” ujarnya.

The King Fahd Islamic Cultural Center merupakan masjid yang sekaligus menjadi pusat kebudayaan Islam yang terletak di kawasan Palermo, Buenos Aires. Masjid ini berdiri atas hasil kunjungan kenegaraan Presiden Argentina, Carlos Menem, ke Arab Saudi pada tahun 1995. Pemerintah Argentina menghibahkan lahan seluas 34 ribu meter persegi untuk kemudian dibuat masjid dengan proyek dan dana dari Pemerintah Arab Saudi. Masjid megah ini pun rampung dengan menghabiskan dana hingga 30 juta dollar AS atau sekitar Rp 300 miliar.

Dirancang oleh arsitek Arab Saudi, Zuhair Faiz, masjid ini sangat kental dengan gaya Timur Tengah lengkap dengan kubah dan menara. Kapasitas masjid dapat menampung jamaah hingga 1.200 pria dan 400 wanita. Tak hanya ruang ibadah, terdapat pula pusat kebudayaan, perpustakaan, taman, dan sekolah Islam.

Selama bergaul bersama warga lain, baik muslim maupun nonmuslim, Pita merasakan adanya saling menghormati antara sesama warga. Tidak ada perbedaan antara warga asli dan pendatang. Begitu pula tidak ada masalah dengan perbedaan agama. Toleransi sudah menjadi darahdaging bagi warga Argentina.

“Iya, mereka sangat menghargai kami sebagai muslim, apalagi saya memakai jilbab. Tidak ada pandangan aneh atau bagaimana gitu dari mereka. Mereka tetap menyapa sama seperti mereka menyapa yang lain dan bahkan di jalan seringkali ada orang menyapa dengan “assalamualaikum..” katanya.

Pelajaran yang bisa diambil dari hubungan antara orang di Argentina, kata Pita, adalah, toleransi agama di negeri ini sangat baik. Muslim, orang Yahudi dengan pakaian lengkapnya, orang Katolik religius hingga orang atheis, semua hidup berdampingan tanpa ada rasa terintimidasi dan sejeninya.

“Untuk di ibukota administrasi khusus bernama CABA, orang-orang tidak begitu memperhatikan jilbab saya. Mereka memperhatikan saya saat mengenakan batik. Beberapa orang langsung mendatangi dan memuji bagus. Untuk orang-orang di luar CABA dan Buenos Aires akan lebih “memandang” jilbab saya namun pandangannya lebih ke seperti pandangan penasaran, bukan pandangan curiga dan sebagainya,” katanya.

Istri Diplomat

Pita merupakan istri diplomat muda asal Yogyakarta bernama Arya Daru Pangayunan. Dia pun bercerita suka duka menjadi istri diplomat. Ternyata banyak suka dan hanya sedikit duka saja yang dialami Pita selama ini.

Dukanya adalah dia harus berpisah jauh dengan keluarga terutama Ibu yang selama ini sangat dekat dengan dirinya namun itu dapat terbantu karena adanya teknologi. Saat tinggal di Dili dulu, ketika mengikuti suami bertugas di ibukota Timor Leste itu, Pita lebih sering video call dengan sang ibu karena perbedaan waktu yang tidak terlalu jauh dengan Jogjakarta, tempat tinggal Ibundanya. Selisihnya hanya 2 jam. Namun selama di Argentina intensitasnya sedikit berkurang karena perbedaan waktu di antara dua kota di belahan dunia lain itu selama 10 jam.

“Sedangkan sukanya adalah, saya bisa bertemu dengan orang-orang baru, kultur baru, pengetahuan baru dan pengalaman yang tidak dapat tergantikan oleh apa pun. Saya sebagai pendamping suami yang seorang diplomat, menuntut diri saya sendiri untuk dapat beradaptasi dengan cepat dalam hal apa pun. Itu saya lakukan juga supaya saya dapat mendampingi anak-anak yang menghadapi tantangan lebih berat. Misalnya soal bahasa, pergaulan di sekolah dan pelajarannya. Tentu saja juga agar dapat mendampingi suami bertugas,” katanya.

Selama mendampingi suami, Pita belajar banyak sekali hal-hal baru. Mulai dari menulis artikel hingga menari. Tantangan paling besar baginya pribadi adalah menghadapi permintaan untuk menari. Pertama kali dia menari adalah saat suami bertugas di Dili dahulu dalam rangka mengikuti lomba Tari Tobelo bersama dengan Ibu-ibu lainnya.

Kemudian selama di Buenos Aires ini, Pita “ditantang” untuk bisa menari Lenggang Nyai bersama dengan satu orang internal untuk tampil dalam malam resepsi diplomatik. Berlanjut pula untuk acara lainnya, yaitu malam kesenian di salah satu taman yang berada di kota ini. “Saya yang tadinya bukan seorang penari dan belum ada minat ke sana, lama-lama mulai bisa merasakan enjoy,” ujarnya.

Pada dasarnya, Pita memang suka berteman. Saat tinggal di Kota Dili karena kebanyakan orangnya berbahasa Indonesia, Pita tidak mengalami kesulitan. Lain halnya dengan sekarang di Argentina.

“Saya tidak fasih berbahasa Spanyol, namun orang-orang yang saya temui dapat maklum dan menjawab dengan bahasa Inggris. Ada kalanya saya bertemu orang yang tidak dapat berbahasa Inggris, saya akan melakukan bahasa ‘salah paham’. Ya, saya salah, tapi dia paham,” katanya sedikit bercanda.

Kehidupan seorang pendamping diplomat sehari-hari untuk dirinya pribadi jauh dari kata glamor. Namun dia mengerti bila orang pada umumnya menganggap kehidupan keluarga diplomat glamor karena melihat foto atau gambaran tentang kehidupan diplomat saat menghadiri jamuan atau resepsi diplomatik.

“Memang untuk momen tertentu kami sebagai pendamping suami saat bertugas dituntut untuk dapat tampil baik dan representatif dengan busana nasional beserta atributnya. Namun di hari-hari biasa, kehidupan saya sama seperti kehidupan Ibu-ibu pada umumnya di Indonesia,” katanya.

Pita setiap hari pun harus berberes rumah, memasak dan antar jemput anak sekolah. Justru “beban moral” yang dia rasakan lebih besar karena di manapun itu, perilaku dan kebiasaan dirinya dan keluarga diplomat lain akan “dilihat” terutama oleh orang-orang setempat.

Apalagi saat di Argentina ini, yang memiliki kebiasaan jauh berbeda dengan Indonesia. Salah satu contohnya adalah, Pita sudah terbiasa menunduk dan membungkukkan badan saat lewat di depan orang yang lebih tua, yang sedang duduk seperti yang sudah dilakukannya sejak dari kecil.

“Suatu hari, saat saya bertemu dengan tetangga apartemen saya yang sudah sepuh sedang duduk menunggu lift bersama, saya melakukan itu dan Beliau bertanya, ‘Apa kamu malu bertemu dengan saya?’ Kemudian saya jelaskan dan kami pun menjadi sama-sama belajar,” katanya. (*)

 

baca juga :

Pembangunan Gedung Terpadu Ditunda, Dijegal DPRD Bupati Lobi Fraksi

Redaksi Global News

Anggaran Pemda Dipotong, Pendapatan Daerah Secara Nasional Anjlok 17%

Redaksi Global News

April 2020, Pemkab Mojokerto Bangun TPA Ramah Lingkungan

Redaksi Global News