Global-News.co.id
Mancanegara Utama

Pasukan Rusia Merangsek Dekat Kiev, Warga Setempat Siap Melawan

Militer Ukraina melatih warga sipil untuk ikut bertarung melawan tentara Rusia. (foto: afp)

JAKARTA (global-news.co.id) –  Sebagian warga Kiev, Ukraina, yang masih bertahan di ibukota terus mempersiapkan diri menghadapi gempuran tentara Rusia yang semakin mendekati ibukota.

Deretan panel beton yang disusun seperti labirin, sistem anti-tank yang dipasang sebagai penghalang jalan hingga tumpukan karung pasir memenuhi sebagian besar jalanan utama Kiev pada Selasa (1/3).

Pasukan militer dibantu dengan relawan penduduk setempat berlomba memasang benteng penghalang seadanya yang dibuat dari material yang tersedia mulai dari logam, kayu, hingga ban bekas.

Tujuannya hanya satu yakni mencegat atau setidaknya memperlambat pergerakan pasukan Rusia yang ingin menduduki Ibukota Kiev.

Di hari keenam invasi Rusia berlangsung ini, suasana Ibukota Kiev semakin sunyi sepi bak kota mati. Bendera Ukraina berbagai ukuran terpasang di setiap sudut bangunan ibukota.

Banyak penduduk Kiev telah melarikan diri menghindari gempuran Rusia dalam beberapa hari terakhir. Namun, warga ibukota yang memilih bertahan tinggal di bungker-bungker dan ruang bawah tanah sebagai tempat berlindung.

Pos pemeriksaan yang tersebar di setiap pintu masuk ke ibukota pun dijaga oleh warga sipil biasa, bukan tentara.

Oleksiy Goncharenko, salah satu warga sipil, memilih bertahan dan membantu militer menjaga salah satu pos pemeriksaan di Kiev.

Goncharenko mengatakan sepekan lalu dia masih bekerja dan beraktivitas layaknya warga sipil biasa. Ia tak pernah membayangkan bahwa dalam sepekan situasi berubah drastis hingga kini menuntutnya memegang senapan membela negara.

Goncharenko mengatakan dia telah menjawab panggilan negara untuk membela tanah airnya sejak hari kedua invasi Rusia. Sejak itu, ia bersama sukarelawan lainnya bekerja bergantian membantu militer mengamankan ibukota.

“Saya bekerja bergantian, membantu di mana pun yang saya bisa. Mengurusi bantuan kemanusiaan, membantu orang mencari tempat perlindungan, berbagi informasi dan lainnya,” kata Goncharenko kepada CNN.

“Saya sama sekali bukan tentara profesional tetapi saya akan mencoba melakukan yang terbaik membela negara dan saya akan melakukannya jika pasukan Rusia memasuki Kiev,” paparnya.

Gambar satelit dari perusahaan Maxar Technologies menunjukkan konvoi militer Rusia sepanjang 64 kilometer, Senin (28/2), mengepung ibu kota Ukraina, Kiev, Senin (28/2).

Sebelumnya, Maxar memprediksi konvoi ini hanya memiliki panjang 27 kilometer. Maxar menuturkan, konvoi militer besar ini membawa kendaraan lapis baja, tank, artileri, dan kendaraan logistik lain

Perusahaan tersebut juga menyampaikan, data dan gambaran satelit yang didapatkan menunjukkan konvoi ini terlihat dari pangkalan udara Antonov (sekitar 17 km dari pusat kota Kiev), hingga wilayah utara Pribyrsk, Ukraina.

Kota Pribyrsk disebut lebih dekat ke perbatasan Ukraina-Belarus dan reaktor nuklir di Chernobyl, dibandingkan ke Kiev.

Sejak beberapa hari lalu, pasukan Rusia dikabarkan terus bergerak ke arah ibukota Ukraina. Ledakan dan tembakan kerap terdengar di dekat Kiev menyusul pergerakan militer Rusia ini.

Beberapa warga bersiap berperang melawan Rusia, begitu pula para pejabat negara itu, termasuk Presiden Volodymyr Zelensky.

Sementara itu, lebih dari 500 ribu orang mengungsi dari Ukraina akibat invasi Rusia ke negara itu. (cnn, rtr, ins)

baca juga :

Surabaya Zona Oranye, Satgas Sebut Penanganan COVID-19 Semakin Baik

Redaksi Global News

Selama 1Q20, SIG Catatkan Pendapatan Rp 8,58 Triliun

AS Minta Seluruh Warganya Tinggalkan Irak

Redaksi Global News