Global-News.co.id
Kesehatan Nasional Utama

Belum Bisa Diprediksi Kapan Pandemi Jadi Endemi!

Pemerintah saat ini juga menggalakkan vaksinasi booster alias dosis ketiga.

SURABAYA (global-news.co.id) – Baru-baru ini Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah telah mempertimbangkan untuk mengubah status pandemi Covid-19 menjadi endemi. Bahkan sudah disiapkan protokol mengenai strategi pengubahannya. Trennya sendiri memang ada kecenderungan penurunan kasus Covid-19.

Menanggapi pengubahan status pandemi menjadi endemi, pakar imunisasi dewasa Universitas Airlangga, Dr dr Gatot Soegiarto SpPD-KAI mengatakan, bahwa hingga saat ini kita semua sedang terus belajar memahami bagaimana tindak-tanduk si virus yang sedang menyebabkan pandemi Covid-19 ini.

“Kuliah (pelajaran) yang diberikan oleh si virus ini masih belum selesai. Mari dengan sabar, secara bersama-sama, saling bahu-membahu melawan si virus, yaitu dengan kontribusi masing-masing sesuai bidang keahlian dan pengabdiannya. Masyarakat umum diharapkan dapat memahami bahwa semua upaya itu hanya akan berhasil jika masyarakat berpartisipasi aktif untuk ikut memotong rantai penularan virus,” katanya saat dihubungi Global News, Selasa (1/3).

Endemi sendiri adalah suatu wabah di mana kuman penyebabnya (virus, misalnya) ada terus secara konsisten, tetapi hanya terbatas pada daerah tertentu. Artinya pola penyebaran dan laju penularannya bisa diprediksi dengan baik.

Sejauh ini WHO memang belum secara resmi menyatakan bahwa pandemi akan mereda dan dianggap sebagai endemi. “Mengapa? Ternyata jumlah penduduk dunia yang sudah terinfeksi (atau sudah divaksin lengkap) masih sekitar 56,1%. Berarti masih ada 44% penduduk dunia yang belum punya kekebalan, artinya rentan terinfeksi,” terang Gatot.

Selain itu, laju vaksinasi di beberapa negara di 5 benua juga tidak seragam. Banyak negara yang belum dapat vaksinasi atau tingkat vaksinasinya masih sangat rendah. “Dalam kondisi demikian, tidak ada satu pihak pun bisa menyatakan atau meramalkan bahwa pandemi akan berakhir dan bergeser hanya sebagai endemi saja,” ujarnya.

“Ketika semua daerah di dunia masih bisa terinfeksi dan penularan masih belum bisa dikendalikan, artinya ya belum bisa dikategorikan sebagai endemi,” tambahnya.

Untuk diketahui, total penduduk dunia pada 2021 sebanyak 7,87 miliar orang. Sampai dengan 1 Maret 2022, yang pernah terinfeksi Covid-19 sebanyak 434.154.739, yang sudah mendapatkan vaksin dosis 1 sebanyak 4,94 miliar (63,3% populasi dunia), vaksin dosis 2 sebanyak 4,37 miliar (56,0%), dan vaksin booster sebanyak 1,38 miliar (17,8%).

Di Indonesia sendiri, lanjut Gatot, angka kematian masih naik terus dari 7 orang per hari pada akhir Januari 2022, naik menjadi 325 orang per Selasa (1/3/2022), sehingga totalnya 148.660 orang. Kemudian positivity rate masih tinggi (berkisar antara 7 – 28% pada 33 provinsi).

Sementara vaksinasi dosis 2 yang lebih dari 70% baru dilaksanakan di 9 provinsi dengan kemungkinan di dalamnya ada Kab/kota/kecamatan/desa yang masih kurang dari 70% cakupannya, sedang 25 provinsi lainnya masih di bawah 70%. “Karena itu belum waktunya Indonesia berubah jadi endemis,” katanya.

Virus SARS-CoV-2 sendiri terus mengalami mutasi. Ini lantaran sebagai virus RNA, dia tidak memiliki mekanisme “proof read”, sehingga kesalahan copy-paste dalam replikasi virus selalu berpotensi menghasilkan perubahan kode genetik, menghasilkan varian virus yang baru dengan berbagai sifatnya.

“Varian virus yang baru dengan perubahan kode genetik memiliki bentuk protein yang juga berubah. Hal ini memengaruhi kemampuannya untuk berikatan dengan reseptor, juga mengganggu kemampuan antibodi untuk mengenali dan mengikatnya,” kata anggota Tim Advokasi Vaksinasi PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini.

Diingatkan, mereka yang sudah punya kekebalan pun masih tetap bisa terinfeksi jika yang menyerang adalah varian virus yang baru, yang belum atau tidak dikenali oleh antibodi yang terbentuk sebelumnya.

“Saat ini belum diketahui kapan akan ada varian virus berikutnya, apakah varian berikutnya itu semakin lemah? Atau semakin kuat? Semakin ganas? Karena proses mutasi virus itu adalah terjadi secara acak,” tuturnya.

Pengamatan terhadap fakta-fakta yang terjadi di lapangan, lanjutnya, ternyata orang yang punya penyakit komorbid, orang lansia, anak-anak, dan orang yang belum divaksin, lebih mudah terinfeksi, lebih mudah mengalami penyakit yang parah, lebih banyak yang meninggal dunia. “Karena itulah panduan selalu disesuaikan dengan hasil pengamatan dari fakta di lapangan,” katanya.

Untuk memotong rantai penularan Covid-19, di antaranya dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes) 6M dan vaksinasi. 6M meliputi memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas, menghindari makan bersama.

Booster Sinopharm

Pemerintah resmi memasukkan vaksin Sinopharm sebagai vaksin booster Covid-19. Ini berarti ada 6 regimen vaksin booster yang digunakan di Indonesia, masing-masing Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, Moderna, Janssen (J&J), dan Sinopharm.

Sementara untuk penyuntikan booster, tidak lagi dilakukan 6 bulan pasca mendapatkan vaksin primer (dosis 1 dan 2). Berdasarkan aturan yang dituangkan lewat Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor SR.02.06/II/1180/2022, penyuntikan dosis lanjutan (booster) bagi masyarakat umum dapat diberikan minimal tiga bulan setelah menerima vaksinasi dosis lengkap.

Mengapa berubah? Menurut Gatot, sebagaimana yang sudah diungkapkan, pelajaran yang diberikan oleh virus belum selesai. Pengetahuan bertambah terus dari penelitian dan pengamatan terhadap proses yang sedang berlangsung dan dinamis. Dinamis artinya selalu berubah mengikuti data temuan baru, perkembangan baru, kesimpulan dari penelitian dan observasi semua aspek.

Gatot menyebut, panduan terkait Covid-19 ini sebagai moving guideline, panduan yang sifatnya dinamis berubah sesuai perkembangan baru. Masyarakat diharapkan memahaminya sebagai bentuk perbaikan rekomendasi (baik dalam segi diagnosis, terapi obat-obatan, cara dan lamanya isolasi, termasuk vaksinasi) mengikuti perkembangan.

“Jangan dipandang sebagai anjuran yang mencla-mencle. Isuk tempe bengi dele (kedelai). Bukan begitu. Jadi mustinya dapat dianggap sebagai sesuatu yang positif,” tandasnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per Senin (28/2/2022), total warga yang sudah divaksinasi Covid-19 dosis kedua berjumlah 144.458.756 orang atau 69,36% dari total target sasaran vaksinasi sebanyak 208.265.720 orang. Sementara yang sudah disuntik dosis pertama sebanyak 190.969.599 (91,7%). Sedang yang sudah divaksinasi dosis ketiga atau booster sebanyak 10.187.505 (4,89%). (ret)

baca juga :

Khofifah Tunggu Restu Jokowi Maju Pilgub Jatim

nasir nasir

Lagi, Gempa M 5,0 Kembali Guncang Majene

Redaksi Global News

Terseret Dugaan Kasus Korupsi Bansos Mensos, Gibran Tegaskan Tak Pernah Beri Rekomendasi

Redaksi Global News