Global-News.co.id
Kesehatan Mancanegara Utama

Omicron Berpotensi Meningkat

SURABAYA (global-news.co.id) – Kasus Covid-19 yang disebabkan virus varian Omicron di Indonesia berpotensi terus meningkat. Hari Rabu (5/1/2022) Kementerian Kesehatan melaporkan terdapat 254 kasus, sementara kasus baru Covid-19 sendiri secara keseluruhan mencapai 404 dan total kasus aktif kini sebanyak 4.878.

Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan RI, Dr dr Siti Nadia Tarmizi MEpid, mengatakan, dari 254 kasus yang disebabkan varian Omicron, 54 di antaranya sudah dinyatakan negatif. “54 (sudah negatif). Sudah pulang. Ini kalau sudah dua hari dan hasil negatif,” paparnya kepada wartawan, Rabu (5/1/2022).

Untuk mencegah terus bertambahnya kasus Covid-19 ini, masyarakat terus diimbau untuk selalu disiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes) dan melaksanakan vaksinasi bagi yang belum. “Tetap kembali pada program pemerintah, prokes 6M, 3T (tracing, testing, treatment), dan vaksinasi, apa pun bentuk variannya atau mutasinya. Tugas kita cukup mengamankan diri sesuai rekomendasi WHO 6M, masker, menjaga jarak, mencuci tangan, (kurangi) mobilitas, menghindari kerumunan, menghindari makan minum bersama,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Dr dr Erwin Ashta Triyono SpPD, saat mengumumkan adanya kasus Omicron di Jatim.

Selain prokes, Erwin menekankan pentingnya tracing. Karenanya dia mengimbau pemilik café, pengelola mal dan hotel untuk menerapkan aplikasi Peduli Lindungi dengan sebaik-baiknya. “Karena itu (aplikasi Peduli Lindungi) merupakan alat terbaik kita untuk memberikan tracing yang optimal. Karena kita tidak mungkin melakukan tracing dengan mengandalkan ingatan pasien, dia habis dari mana saja. Aplikasi ini bisa membantu, dia posisi sebelumnya ada di mana saja,” ujar mantan Direktur RS Lapangan Indrapura Surabaya ini.

Nadia yang juga Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, mengatakan, mayoritas pasien Covid-19 yang terpapar varian Omicron mengalami gejala ringan dan tanpa gejala. Sebagian besar dari pasien mengalami batuk dan pilek. “Dari hasil pemantauan, sebagian besar kondisinya ringan dan tanpa gejala. Gejala paling banyak adalah batuk (49%) dan pilek (27%),” katanya.

Meski gejala Covid-19 yang disebabkan varian Omicron ringan, Erwin tegas mengingatkan jangan sampai hal itu membuat kita lengah. “Meski ringan, kalau jumlahnya seperti di luar negeri hingga ratusan ribu dalam sehari, itu akan mengacaukan sistem kesehatan kita. Tetap preventif promotif jauh lebih baik dibanding meremehkan yang ringan. Artinya, sehat jauh lebih baik,” katanya.

Nadia mengatakan, dari 254 kasus baru varian Omicron, 239 kasus merupakan pelaku perjalanan internasional (imported case) dan 15 kasus merupakan transmisi lokal. “Mayoritas (penularan) masih didominasi dari pelaku perjalanan internasional,” ujarnya.

Diungkapkan, penularan transmisi lokal diduga dari empat kota. “Jakarta dan Surabaya, tapi ada potensi di Medan dan Bali,” ujarnya.
Kasus pertama Covid-19 varian Omicron di Indonesia diumumkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada 16 Desember 2021. Penderita adalah petugas di RSDC Wisma Atlet. Makin ke sini jumlahnya terus meningkat.

Di Jawa Timur sendiri, Erwin mengonfirmasi seorang penderita positif setelah melakukan perjalanan liburan ke Bali dengan suaminya. Mereka berangkat tanggal 20 Desember 2021 dan pulang pada 25 Desember mengalami keluhan nyeri tenggorokan, terdapat lendir dan pilek. Pada tanggal 28 Desember 2021 dilakukan pemeriksan medis dengan tes PCR hasilnya positif dan kemudian dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan SGTF (S Gene Target Failure) dan WGS (whole genome sequencing) dan hasilnya keluar tanggal 2 Januari 2022.

Suaminya negatif. Hasil tracing yang dilakukan pada 15 orang yang kontak erat, hasilnya negatif. “Yang kini masih dalam pemeriksaan adalah cucunya yang berusia 4 tahun karena mengalami keluhan. Sang cucu sendiri tidak ada kontak dengan pasien pertama,” terang Erwin sembari mengatakan pada Senin (3/1/2022) sang cucu baru diambil sampel lendir hidungnya untuk dilakukan tes lebih lanjut dan butuh waktu 3-5 hari untuk mengetahui hasil WGS yang memastikan apakah terpapar varian Omicron atau bukan.

Sebagai bentuk kesiapsiagaan pemerintah dalam mencegah serta mengendalikan penularan varian Omicron, Kemenkes menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.01/MENKES/1391/2021 tentang Pencegahan dan Pengendalian Kasus Covid-19 Varian Omicron (B.1.1.529) yang ditandatangani Menteri Kesehatan pada 30 Desember 2021. Terbitnya aturan ini untuk memperkuat sinergisitas antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, SDM Kesehatan dan para pemangku kepentingan lainnya sekaligus menyamakan persepsi dalam penatalaksanaaan pasien konfirmasi positif Covid-19.

Selain itu, Kemenkes juga mendorong daerah untuk memperkuat kegiatan 3T, aktif melakukan pemantauan apabila ditemukan cluster-cluster baru COVID-19 dan segera melaporkan dan berkoordinasi dengan pusat apabila ditemukan kasus konfirmasi Omicron di wilayahnya.

“Poin utama dari aturan ini untuk memperkuat koordinasi pusat dan daerah serta fasyankes dalam menghadapi ancaman penularan Omicron. Mengingat dalam beberapa waktu terakhir kasus transmisi lokal terus meningkat. Karenanya kesiapan daerah dalam merespons penyebaran Omicron sangat penting agar tidak menimbulkan cluster baru penularan Covid-19,” tutur Nadia.

Erwin menambahkan, menghadapi Covid-19 perlu kerjasama tim. Bukan hanya dinas kesehatan, pemerintah daerah, pemerintah pusat, tapi juga masyarakat, TNI, Polri, semua harus jadi satu tim. Salah satunya memaksimalkan aplikasi yang sudah dibuat untuk kepentingan tracing.

Lebih lanjut dikatakan, yang harus dipahami masyarakat, bahwa ditemukan terpapar itu bukan aib. “Ditracing itu bukan aib, artinya kita menjalankan sistem, yang membuat kita bisa aman bersama. Dengan ketahuan ada yang positif, ada yang negatif, segera bisa kita pisahkan. Kita intervensi terapi dengan yang terbaik. Kita berikan manfaat untuk pasien supaya lebih dini ditemukan. Itu menjadi kunci untuk menyelesaikan atau mengendalikan Covid,” terangnya.

Sebelumnya, pakar imunisasi dewasa, Dr dr Gatot Soegiarto SpPD sudah mengingatkan, jika masyarakat abai dan menyepelekan, maka virus varian Omicron yang 500% lebih mudah menular ketimbang varian Delta ini akan menulari banyak orang dan menyebar. “Ketika dia menulari orang dan bereplikasi, maka akan ada kesalahan copy paste, dan hal itu akan menghasilkan varian baru lainnya yang bisa saja lebih ganas lagi. Jadi bagaimana? Jangan pernah abai, tetap waspada dan tetap menjalankan protokol kesehatan dengan ketat dan disiplin,” ujarnya.

Di Prancis muncul varian baru lagi yang membuat semua harus kembali waspada

Varian IHU di Prancis

Ketika dunia masih kalang kabut menghadapi varian Omicron, di Prancis muncul varian baru lagi yang membuat semua harus kembali waspada. Ilmuwan Prancis mengaku menemukan varian mutan Covid-19 yang disebut varian IHU atau B.1.640.2.
Varian ini pertama kali terdeteksi di Prancis sejak Desember 2021. Namun, sebagaimana dikutip NZ Herald Selasa (4/1/2022), baru saat ini varian tersebut menjadi perhatian para ahli kesehatan global.

Sedikitnya ada 12 kasus varian IHU dikonfirmasi di Marseilles. Disebutkan pula, banyak pasien varian IHU dirawat di rumah sakit di Prancis. Varian IHU diyakini terkait dengan perjalanan ke negara Kamerun, Afrika.

“Kami memang memiliki beberapa kasus varian baru ini di wilayah geografis Marseilles. Kami menamakannya ‘varian IHU’. Dua genom baru, baru saja dikirimkan.” kata Philippe Colson, kepala dan profesor departemen di Méditerranée Infection University Hospital Institute (IHU) di Prancis, yang menemukan varian tersebut, Selasa (4/1/2022).

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah mengklasifikasikan varian B.1.640.2 sebagai varian dalam pemantauan atau Variant Under Monitoring (VUM) sejak November. Dalam catatan WHO, varian ini pertama kali teridentifikasi di Republik Kongo pada September 2021. “B.1.640 diklasifikasikan sebagai ‘Varian dalam Pemantauan’ oleh WHO pada November,” tulis pemimpin teknis WHO untuk Covid-19, Maria van Kerkhove, Selasa. Varian IHU ini memiliki 46 mutasi, yang dikhawatirkan para ahli dapat berarti lebih resisten terhadap vaksin yang ada. (ret)

baca juga :

Pastikan Penerapan Protokol Kesehatan, Wagub Emil Tinjau Pasar Tradisional Gunung Anyar dan Nambangan Surabaya

Rencana Kedatangan 500 TKA Tiongkok, Politikus PKS Ingatkan Kemenkumkam

BI Prediksi Inflasi Juni di Jatim Kisaran 0,87 Persen

Redaksi Global News