Global-News.co.id
Nasional Utama

Minta Tetap Waspada, Gubernur Khofifah Ajak Masyarakat Bergotong Royong Cegah Banjir

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa

SURABAYA (global-news.co.id) – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, meminta masyarakat mewaspadai hujan lebat beserta petir yang berpotensi terjadi di beberapa kabupaten/kota Jawa Timur.

Gubernur Khofifah menyatakan hal itu sesaat setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis perkiraan cuaca untuk Kamis (20/1). Analisis BMKG menyebutkan, dari siang hingga sore hari, 12 kab/kota diperkirakan mengalami hujan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang.

Di antaranya adalah Kota Mojokerto, Kab. Lamongan, Jombang, Kab. Madiun, Ponorogo, Kab. Blitar, Kab. Malang, Kota Malang, Kab. Pasuruan, Kab. Probolinggo, Lumajang dan Bondowoso.

Sedangkan, untuk malam hari, hujan disertai petir diperkirakan terjadi di 13 daerah yaitu  Banyuwangi, Bojonegoro, Gresik, Kota Kediri, Magetan, Ngawi, Pamekasan, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, Kota Surabaya, Trenggalek, dan Tulungagung.

“Kabar dari BMKG akan ada potensi hujan lebat, petir, dan angin kencang di beberapa wilayah ini. Meski begitu, saya minta semua masyarakat di seluruh kabupaten/kota untuk terus waspada,” ujar Khofifah.

Ia menerangkan, kewaspadaan penting dikerahkan karena hujan lebat dan petir bisa saja menimbulkan kerusakan dan kerugian. Mengingat, Jawa Timur telah dilanda banjir beberapa bulan ke belakang, dan di beberapa daerah juga terjadi peristiwa pohon tumbang akibat hujan deras disertai angin kencang.

“Berkaca dari pengalaman sebelumnya, jangan anggap remeh hujan petir ini. Karena seringkali kita lihat hujan lebat dalam beberapa jam saja sudah dapat menimbulkan kerugian materiil dan immateril  masyarakat,” katanya.

Ia mengajak masyarakat saling bergotong royong mencegah terjadinya banjir maupun pohon tumbang. Kontribusi semua lapisan masyarakat bisa dilakukan dari hal terkecil. Yakni membuang sampah pada tempatnya dan menjaga sungai tetap bersih.

Tak hanya itu, lanjut Khofifah, masyarakat bisa bergotong royong memangkas pohon yang rawan roboh, serta memastikan selokan tidak mampet.

Khofifah juga menegaskan, pemerintah dan masyarakat dapat bekerjasama dalam pelaksanaan mitigasi bencana. Sehingga, kerugian dan kerusakan dapat diminimalisir.

“Saya selalu bilang, masyarakat harus bisa mitigasi bencana secara mandiri karena tidak akan cukup waktunya untuk menunggu bantuan datang saat bencana terjadi. Di lain sisi, pemerintah kabupaten/kota juga harus memiliki peta mitigasi yang matang dan mengedukasi masyarakat,” tuturnya.

Sebagai informasi, perkiraan hujan lebat disertai petir ditimbulkan oleh monsun Asia yang cenderung menguat. Hal itu ditandai dengan Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis atau Intertropical Convergence Zone (ITCZ) di selatan Ekuador yang memanjang dari perairan Sumatera hingga Laut Flores.

ITCZ itu yang kemudian memberikan pengaruh terhadap penambahan uap air basah dan pembentukan awan hujan di sekitar wilayah yang dilalui.

Selain itu, terdapat pula sirkulasi siklonik atau atmosfer bertekanan rendah di wilayah Laut Arafuru sebelah utara Australia. Sirkulasi ini memang tidak berintensitas kuat, namun memberikan pengaruh signifikan terhadap penambahan potensi hujan dan peningkatan kecepatan angin. (jtm, fan)

baca juga :

Dilibas Bali United, Persela Kian Dekat Terdegradasi

Kekerasan Seksual terhadap Mahasiswi, Unesa Nonaktifkan Dosen Terduga Pelaku

Redaksi Global News

Berlebaran, Waspadai Ancaman Penyakit Kronis

Redaksi Global News