Global-News.co.id
Kesehatan Nasional Utama

Kasus DBD di Jatim, Dalam Tiga Hari Bertambah 243

Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Dr dr Erwin Astha Triyono SpPD

SURABAYA (global-news.co.id) – Hanya berselang 3 hari, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jawa Timur bertambah sebanyak 243 orang. Dengan begitu selama bulan Januari hingga 27 Januari 2022, terdapat 1.220 penderita DBD dengan jumlah kematian sebanyak 21 orang.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jatim, hingga tanggal 24 Januari jumlah kasus DBD sebanyak 977 orang dan korban meninggal 17 orang. Sementara dari 1.220 penderita DBD tersebut, terbanyak masih tetap berasal dari Bojonegoro, menyusul Nganjuk sebanyak 82 orang (bertambah 10), Kabupaten Malang sebanyak 73 orang (bertambah 7), Ponorogo  64 orang (bertambah 11), dan Tuban 61 orang (bertambah 8).  Kota Surabaya sendiri terdapat 31 penderita (bertambah 24 kasus).

Untuk korban meninggal, jumlah terbanyak dari Pamekasan (3) menyusul Bojonegoro dan Nganjuk masing-masing 2. Sementara 14 kota/kabupaten lain termasuk Surabaya masing-masing satu orang. Kematian terbanyak terjadi pada usia 5-14 tahun yaitu 17 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Dr dr Erwin Astha Triyono SpPD, menyebut, ada beberapa hal yang mungkin bisa menjadi penyebab melonjaknya kasus DBD. Pertama, karena terlalu fokus pada Omicron, dan kedua karena masyarakat tidak bergerak. “Memang harus satu tim antara Dinkes Kota/Kabupaten, Puskesmas dengan masyarakat,” ujarnya dalam penjelasan Kamis (27/1).

Dibandingkan dengan kasus DBD pada Januari tahun sebelumnya yang sebanyak 668, berarti telah terjadi kenaikan yang mendekati 100%. Karena itu Erwin mengingatkan, semua harus mulai berbagi perhatian.

“Bukan hanya Covid-19 yang tetap perlu perhatian, tapi mulai sekarang masyarakat juga harus berpikir DBD. Contoh, kalau ada demam, manifestasi DBD lebih banyak demam, maka kita jangan hanya memikirkan kemungkinan Covid, tapi juga harus dipertimbangkan kemungkinan DBD. Sehingga masyarakat maupun tenaga medis harus sudah mulai boleh mencurigai kalau ada gejala demam,” tandasnya.

Ke depan, lanjut Erwin, aware-nya bukan hanya untuk Covid, tapi baik masyarakat maupun tenaga medis juga mesti aware untuk kemungkinan DBD.

Diakui untuk mengetahui DBD, yang pertama berdasarkan klinis. Kedua berdasar pemeriksaan laboratoris untuk memeriksakan darah lengkap sehingga bisa diketahui berapa banyak trombosit yang  masih ada di dalam tubuh.

Bila ada kecurigaan DBD, Erwin menyarankan lebih baik rawat inap. “Mengapa? Karena terapi DBD itu yang paling penting adalah cairan. Sehingga daripada nanti kecolongan, lebih baik lebih awal masuk rumah sakit, karena di RS bisa diberikan infus sambil dimonitor,” ujarnya.

Dijelaskan, DBD ini penyakit spesial yang akan sembuh sendiri dalam waktu 7 hari periode demam. Jadi kalau pasien datang panas hari ke-3 misalnya, secara teoritis hanya butuh rawat inap kurang lebih 4 hari.

“Masalahnya untuk menuju 7 hari itu, ada 2 ancaman yang tidak bisa diprediksi yaitu kemungkinan terjadinya syok atau trombosit yang cenderung menurun dan menyebabkan perdarahan. Karena itu terapi (cairan) tetap banyak membantu bila dilaksanakan sambil rawat inap, karena monitornya lebih baik,” katanya.

Diingatkan kehati-hatian pada anak. Anak-anak lebih berisiko pada hari ke-3 di mana demam turun, saat demam turun mereka merasa nyaman maka mainlah dia. “Saat bermain, risiko dua tadi tidak bisa diprediksi. Kalau itu terjadi, kita akan sering terlambat sampai ke RS. Karenanya, begitu ada demam, lebih baik kita mulai curiga kemungkinan bisa Covid, kemungkinan bisa DBD. Sehingga cepat dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium dan dimonitor di RS,” terangnya.

Pentingnya 3M

Menurut Erwin, kunci keberhasilan dalam menangani DBD adalah mengendalikan yang berawal dari strategi di hulu, yaitu bagaimana menerapkan 3M dengan baik, yaitu menguras bak-bak mandi yang selama ini jadi tempat tumbuhnya jentik-jentik (uget-uget), menutup bak-bak tertentu yang jarang dikuras, serta menyingkirkan atau mendaur ulang barang-barang bekas.

Infeksi dengue terjadi karena virus dengue yang penularannya melalui perantara nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk ini spesial, dia tidak ada di tempat-tempat yang jorok seperti got, tempat yang berbau tanah, melainkan di tempat yang bersih dan jernih seperti tempat penampungan air di dispenser. Dan nyamuk yang banyak tinggal di tempat yang gelap dan lembab ini menggigit korbannya pada siang hari.

Karena itu masyarakat diimbau untuk bersama-sama menyelesaikan dari level hulu, yaitu dengan mencegah agar jangan ada nyamuk yang berkembang biak di sana. Selanjutnya memaksimalkan fogging pada area-area yang terdapat pasien DBD, karena fogging untuk membunuh nyamuk dewasa supaya tidak menularkan ke orang lain.

“Sisanya, kita menggunakan larvasida abate yang tujuannya mematikan jentik-jentik. Sehingga ke depan, kita sangat butuh peran serta masyarakat untuk  bisa menerapkan 3M,” kata Erwin. (ret)

baca juga :

Riskesdas 2018, Angka Stunting Turun

Redaksi Global News

Risma Dikabarkan Jadi Mensos Gantikan Juliari

Redaksi Global News

Ragu Hadapi Vaksinasi Covid-19?

Titis Global News