Global-News.co.id
Gaya Hidup Mancanegara Utama

Tiga Hijabers Taklukkan Eropa, Lewat Rock Metal Harumkan Indonesia

Para personel Voice of Baceprot

Mendengar genre musik yang dimainkan, orang tak akan mengira kalau yang membawakan adalah tiga dara imut-imut asal Garut, Jawa Barat. Lewat musik cadas yang dibawakan dalam Fight Dream Belive European Tour 2021 yang berakhir 10 Desember 2021, mereka yang tergabung dalam Voice of Baceprot ini sukses memukau publik Eropa.

DALAM balutan hijab warna hitam dipadu aksesoris khas rocker, Firdda Marsya Kurnia, Euis Siti Aisyah, dan Widi Rahmawati menyuguhkan raungan melodi gitar dipadu gebukan drum yang garang ditambah petikan bas khas music cadas. Tak cuma mencabik senar gitarnya, Marsya pun menyanyi sekaligus ngerap.

‘Sekolah pagi pasti ragaku ini berlari/Paksa mimpi yang tak satupun ku mengerti/Terlempar kepala dipaksa pintar/Terdampar moral digoda bingar. Don’t try to judge us now/Don’t try to judge us now/Don’t try to judge us now/Don’t try to judge us now.’ (School Revolution)

Di panggung, Voice of Baceprot tak hanya mengcover lagu-lagu grup music cadas mancanegara, tapi juga lagu-lagu karya mereka sendiri. Salah satunya School Revolution yang diciptakan berdasarkan kegelisahan masing-masing semasa sekolah, serta singel terbaru God, Allow Me (Please) to Play Music yang dirilis pada 17 Agustus 2021. “Saat manggung, kami upayakan lebih banyak menyanyikan karya sendiri,” ujar Marsya yang merangkap jadi vokalis.

Hal itu tak memengaruhi antusias penggemar musik di kota-kota tempat mereka mangggung. Untuk diketahui, aksi panggung mereka di Trans Musicalis Renes Prancis pada 4 Desember lalu disaksikan sekitar 3.000 pengunjung. Dalam hingar bingar musik VoB, pengunjung berjingkrak, berheadbang dan melakukan moshing yang menjadi ciri pertunjukan rock . Kalau tidak ada aral, Jumat (10/12/2021) besok, grup musik yang didirikan pada 2014 ini tampil di Jenewa Swiss.

VoB juga dijadwalkan tampil dalam ajang festival metal terbesar dunia Wacken Open Air (W:O:A) 2022 di Jerman.

Menanggapi video tur Voice of Beceprot di 4 negara Eropa, Belanda, Prancis, Belgia, dan Swiss, yang tayang di YouTube, komentar pun berdatangan. Seseorang yang menggunakan nama akun Kanak telage Potet menulis, “Dulu band dari Eropa sering manggung di Indonesia, sekarang generasi Indonesia yg mengguncang benua eropa??????sht2 sukses sllu.”

Sementara Ramdanih Brammenga menulis, “VOB, bangga saya jadi orang Indonesia yg mempunyai band metal cewe berhijab asal Garut yg membuat bangga Indonesia..walau tanpa medali emas layaknya olahragawan tpi bisa menaikan bendera Indonesia..siapa Kita Indonesia.!!!

Sementara itu, Tom Morello –gitaris Rage Against The Machine—menulis di akun Twitternya saat tahu VoB akan mengadakan tur konser di Eropa. Dia mengaku awalnya tak mengetahui VoB. Namun, beberapa orang di Twitter menyebutnya dan menandai dalam beberapa lagu karya VoB.

“Lewat Twitter, beberapa orang mention saya dengan lagu-lagumu. Aku menontonnya hampir 10 kali dan aku pikir ‘wah ini adalah band yang sangat luar biasa, yang jarang ada pada industri rock and roll pada umumnya’,” lanjutnya.

Tom bahkan juga melakukan video call pada VoB. Dia mengatakan VoB adalah salah satu band metal yang unik dan sangat menarik. “Saya ingin mendengar lebih banyak ceritamu. Dan bagaimana kalian bisa menjadi band metal. Ini adalah band menarik dari sekelompok perempuan muda seperti kalian,” ujarnya.

Tom mengaku dirinya kini juga merupakan penggemar VoB. “I am fan of your band,” ujarnya hingga membuat ketiga personel VoB histeris.

Jauh sebelum Tom, penampilan band perempuan berhijab ini telah mencuri perhatian pemain bas Red Hot Chili Peppers, Michael Peter Balzary atau Flea. Dalam sebuah unggahan di Twitter, Flea bahkan mengomentari langsung video latihan Voice of Baceprot.

“Apa nama band ini???,” tulis Flea dalam bahasa Turki di Twitter, Rabu (6/5/2020).
Komentar Flea tersebut tentu saja langsung dibalas oleh Voice of Baceprot yang sekaligus memperkenalkan diri. Mereka berujar, tak mudah melafalkan nama Voice of Baceprot.

“Ini kami. Percaya atau tidak, tidak mudah, lho mengatakan ‘Baceprot’ dengan benar. Apakah kamu mau mencobanya?” tantang VoB pada pemain bas berusia 57 tahun itu.

Di sela tur Eropa, Voice of Baceprot juga melakukan wawancara dengan media Eropa. Pengalaman wawancara ini pun dibagikan vokalis VoB ke TikTok.

Dalam video itu, Marsya dengan lantang berbicara di atas panggung. Dia mengaku sebelum konser, melakukan wawancara dan mendapatkan satu fakta mengejutkan dari sesi tanya jawab dengan media tersebut.

“Jadi sebelum pertunjukan, kami melakukan beberapa wawancara. Dan ada satu hal yang membuatku terkejut. Mereka semua kebanyakan bertanya kepada saya tentang hijab yang kami kenakan. Dan kamu tahu apa, itu membuatku merasa seperti aku datang ke sini untuk fashion show. Bukan untuk itu! Karena mereka hanya fokus pada penampilan kami! Jadi aku akan memberitahu kamu sekarang, kami benar-benar datang ke sini tidak hanya untuk membuat impian kami menjadi kenyataan,” ucap Marsya sambil memegang gitar.

“Tetapi juga untuk menunjukkan kepada kamu bahwa hijab tanda perdamaian, cinta dan keindahan. Dan jika kamu bertanya kepada aku apa yang kami lakukan, jika seseorang bertanya tentang hijab kami, apa yang kami lakukan? Ini yang kita lakukan,” ucap Marsya yang kemudian disambut Siti dengan gebukan drumnya.

“Dan jika seseorang memberi kita kata-kata kebencian tentang hal itu, kamu tahu apa yang kami lakukan? Ini yang kita lakukan,” ucap Marsya lagi yang juga disambut Widi dengan memetik senar bass listrik.

“Dan jika kamu bertanya kepada saya lagi, apakah kamu yakin dengan pilihan kamu? Apa yang kita lakukan dengan hijab kita? Inilah yang kami lakukan dengan hijab kami,” lalu ketiganya langsung beraksi di atas panggung. Dan berhasil membuat penonton ikut terkesima.

VoB terbentuk sejak mereka masih berusia 14 tahun pada 2014 lalu. Band ini berdiri bermula dari kegiatan ekskul teater di sekolah, Madrasah Tsanawiyah Al-Baqiyatussolihat di Singajaya Garut. Mereka membuat drama tentang anak band. “Kami harus belajar alat musik, karena teater kan harus live. Rupanya kami asyik di musiknya,” kata Marsya.

Sejak saat itu, baik Marsya, Widi, maupun Euis, memutuskan menekuni dunia musik. Awalnya VoB terdiri 15 personel, lalu menyusut jadi 7 orang. “Ketika ber-7 orang ini kami membawakan lagu-lagunya Maroon 5, nggak ada genre tertentu,” ujar Marsya.

Dalam perjalanannya, VoB tinggal bertiga karena yang lain tidak mendapat izin orangtua untuk lanjut membuat band. Diakui Marsya, mereka pun butuh perjuangan untuk mendapatkan restu orangtua agar bisa membentuk band.

“Awalnya tujuh orang tapi kita semua susah dapat izin orangtua. Kita di situ sama-sama berjuang buat dapat izin orangtua, akhirnya yang empat mundur. Orangtua nggak izinin karena kalau band itu masih jarang dilakuin sama cewek, orangtua juga khawatir, apalagi dunia musik itu dekat dengan pergaulan bebas,” urainya dalam sebuah talkshow yang tayang di YouTube.

Setelah mendapat izin orangtua, ketiga remaja ini memutuskan membuat band bergenre hiphop, metal, dan funky. Genre tersebut dipilih sesuai dengan selera musik masing-masing. Jadi ketiga personel dituntut untuk bisa mengusai permainan musik hiphop juga metal. Baceprot sendiri dalam bahasa Sunda artinya bawel, berisik.

Pada awalnya, mereka –dengan bimbingan guru konselingnya Ersa Eka Susila Satia yang akrab disaba Abah– kerap melakukan cover version. Di antaranya lagu-lagu milik Rage Against The Machine, Slipknot, Red Hot Chilli Peppers dan lainnya.

Dalam bimbingan Abah yang kemudian merangkap jadi pelatih, mereka mulai menciptakan lagu sendiri. You’ll Never Walk Alone, The Enemy, Age Oriented (Lets Be Old), Rumah Tanah Tidak dijual, Jalan Kebenaran adalah beberapa karya yang kerap mereka bawakan saat tampil di panggung.

Ini bukan kali pertama Voice of Baceprot jadi sorotan. Pada 2017, mereka pernah menghebohkan setelah aksi mereka bermain musik viral di media sosial. Media besar seperti Reuters, The New York Times, hingga The Guardian sampai ikut menyorot.

Marsya mengungkap, tak hanya senang dan bangga. Viralnya VoB membantu mereka meyakinkan serta membanggakan orangtua. Berbicara soal orangtua, Siti menambahkan kalau sebenarnya orangtua sempat melarang mereka membentuk band beraliran metal. Musik metal masih dikaitkan dengan sesuatu yang negatif di mata orangtua ketiga hijabers tersebut.

“Masih serasa mimpi sih kita sampai terkenal kayak gini, se-booming ini. Kita dikenal di luar negeri juga, jadi bisa banggain orangtua. Mungkin orangtua juga sekarang percaya. Kalau dulu mereka melarang itu mungkin karena ketidaktahuan. Musik metal identik dengan hal negatif, karena sekarang sudah dikenal orang banyak, tahu kegiatan kita seperti ini jadi mereka ngerti dan mulai kasih support,” kata Euis dalam sebuah wawancara. (ret)

baca juga :

Polresta Sidoarjo Asah Kepedulian Anggotanya Melalui Zakat

gas

Besok, Ratusan Angkot ‘Duduki’ Grahadi, Protes Taksi Online

nasir nasir

e-Tilang di Surabaya Diberlakukan Mulai 14 Januari

Redaksi Global News