Global-News.co.id
Secangkir Kopi

Sekali Lagi, Omicron

Inggris melaporkan kematian perdana akibat Covid-19 varian Omicron. Pasien tersebut meninggal setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Omicron adalah varian baru virus Corona. Virus ini pertama kali terdeteksi di Afrika. Pertanyaannya bagaimana dengan Indonesia? Bisakah menangkal virus ini masuk ke negara ini?

Hingga saat ini di Indonesia belum ada laporan secara resmi masuknya virus yang katanya tidak ganas bila dibandingkan varian delta. Lantas seperti apa di Indonesia? Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengakui varian Omicron tak bakal bisa seratus persen dicegah masuk ke wilayah RI. Informasi seputar varian Omicron masih serba tidak pasti.

Transmissibility atau laju penularan Omicron tinggi. Lebih tinggi dan lebih cepat daripada varian Delta. Kita bisa lihat di Afrika Selatan, mereka sudah lebih besar dari Delta. Menkes juga menyebutkan, adanya kemungkinan varian Omicron mampu menghindari imunitas dari vaksin COVID-19 baik vaksin berbasis mRNA seperti Moderna dan Pfizer, atau AstraZeneca. Namun, belum ada kepastian terkait hal-hal itu. Menurutnya, kepastian perihal sifat varian Omicron bakal terlihat lebih jelas dalam dua hingga empat pekan ke depan.

Lalu langkah apa yang bisa dilakukan. Ini masih dikatakan lagi dalam dua sampai empat minggu ke depan. Karena itu, kita cepat merespons karena Indonesia salah satu Negara terbaik kondisinya. Juga, kita harus memperketat border supaya memperlambat masuknya Omicron. Karena rasanya kita tak bisa bisa kita menghindari 100 persen, tapi setidaknya kita memperlambat. Itulah yang menjadi langkah penting untuk itu.

Varian Omicron adalah penyebab durasi karantina untuk WNI dan WNA yang baru tiba di RI pasca perjalanan luar negeri ditetapkan menjadi 10 hari. Kebijakan tersebut bertujuan melindungi masyarakat Indonesia dari terpaan varian Omicron. Langkah-langkah pemerintah ini harus kita apresiasi. Lebih penting lagi, kita jangan kendor menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah. (*)

baca juga :

Pernikahan Dini

Redaksi Global News

Trump dan Yerusalem

Redaksi Global News

Perlunya Sinergi Memajukan Desa

gas