Global-News.co.id
Sport Utama

Final Liga 3 Jogjakarta, Kronologi Wasit Ditampar dan Diinjak-injak

JAKARTA (global-news.co.id) – Pertandingan final Liga 3 Zona Jogjakarta 2021 antara Sleman United kontra Mataram Utama diwarnai aksi menginjak-injak wasit. Berikut kronologi kejadiannya.

Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jogjakarta, Ahmad Syauqi Soeratno, memastikan peristiwa ini menjadi perhatian dan langsung dibawa ke meja Komisi Disiplin Asprov Jogjakarta untuk diusut tuntas.

“Penegakan disiplin harus dijalankan, yang kedua kita tunggu sidang komisi disiplin. Lalu yang ketiga Asprov ngapain? Asprov kan tidak masuk ke wilayah disiplin,” kata Syauqi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (23/12).

“Intervensi pun saya tidak bisa. Apa yang dilakukan Asprov? Mulai hari ini kami akan mengevaluasi rangkaian kegiatan Liga 3 sejak kick off 14 November sampai kemarin (22/12),” ucapnya.

Mantan Ketua Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) PSSI ini mengatakan, berada di lokasi dan menyaksikan langsung peristiwa itu. Sebagai Ketua Asprov Jogjakarta ia diminta hadir dalam laga final tersebut.

Awalnya pertandingan di Stadion Tridadi, Sleman pada Rabu (22/12) sore berjalan lancar. Wasit Ikhsan Prasetya Jati bisa memimpin laga dengan lancar sepanjang 45 menit babak pertama.

Pada menit ke-16 Sleman United sempat memimpin lewat aksi Agus Prasetyo. Kedua tim saling menyerang dengan terbuka. Pertandingan yang disiarkan secara daring ini berjalan sengit dan menarik.

Namun pada babak kedua sejumlah insiden terjadi. Utamanya setelah Mataram Utama menyamakan kedudukan lewat Idris Mualif pada menit ke-68. Kedudukan imbang membuat pertandingan memanas.

Salah satu pemicunya kiper Sleman United, Firdaus Marga, diganjar kartu kuning kedua alias kartu merah pada menit ke-77 karena melakukan tendangan kiper di luar kotak penalti.

“Saya kasih perspektif karena saya di sana. Sebelumnya kiper sudah dapat kartu kuning untuk kesalahan yang sama. Dia megang dan nendang bola, tapi posisinya sudah di luar garis 16. Nah kemudian di babak kedua kejadian begitu lagi,” ucap Syauqi.

Insiden itu membuat tensi laga memanas. Tampil dengan 10 pemain membuat pemain Sleman United tidak tenang. Salah satu pemain yang tidak bisa mengontrol emosi adalah Muhammad Solechudin.

Dalam video yang beredar di media sosial, pada menit ke-82 Solechudin menampar wajah wasit Ikhsan. Insiden ini membuat pertandingan terhenti, sebab Solechudin juga bersitegang dengan pemain Mataram Utama.

Wasit Ikhsan akhirnya diganti wasit cadangan Bagus Kurniawan karena tamparan tersebut. Solechudin pun akhirnya diganjar kartu merah. Dengan demikian Sleman United tampil dengan sembilan pemain.

Situasi ini dimanfaatkan Mataram Utama untuk menambah gol. Pada menit ke-83 Aruna Brama Siwi mencatatkan namanya di papan skor, dan pada masa injury time (90+5) giliran Kusuma Silaban mencetak gol.

Akhirnya Mataram Utama unggul dengan skor 3-1. Berkat kemenangan ini tim yang ditangani pelatih Erwan Hendarwanto ini akan mewakili Jogjakarta dalam Liga 3 fase nasional pada 2022.

Seusai laga, hakim garis diburu. Penonton undangan yang berada di tribun sampai turun ke jalan masuk ruang ganti. Saat itulah hakim garis ditendang dan diinjak-injak sejumlah orang yang tersulut emosinya.

“Kayaknya asisten wasit yang dipukuli. Wasitnya kan diganti wasit cadangan. Situasinya saat itu crowded. Itu kan ada ofisial, undangan, ada aparat keamanan juga yang coba melerai,” kata Syauqi.

“Harusnya laga ini tanpa penonton. Mengapa yang dari tribun bisa masuk, terus menendang wasit sampai seperti itu. Ada jumlah lebih di technical area. Ini perspektif saya ya,” ujarnya. (CNN, ins)

baca juga :

Sambut HUT Kemerdekaan, PLN Beri Diskon Tambah Daya

Redaksi Global News

Erupsi Semeru, Perhutani Setuju Lahannya untuk Relokasi Warga Terdampak

Redaksi Global News

Beber Data Beras, Bulog Pun Tolak Impor

gas