Global-News.co.id
Kesehatan Sport Utama

Dokter Gadungan, 11 Tahun Tipu Sepakbola Indonesia dan Harus Diusut Tuntas

JAKARTA (global-news.co.id) – Sepakbola Indonesia ditipu dokter gadungan selama 11 tahun. Ya, sejak 2010 sosok bernama Elwizan Aminudin atau biasa disapa dokter Amin membohongi klub, operator liga, hingga federasi PSSI.

Aminudin yang mengaku sebagai lulusan Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh pada 2006 diketahui mulai terjun di sepakbola pada 2010 bersama Persita Tangerang.

Pria kelahiran Bireun, Aceh, 25 April 1981, ini mengabdikan diri di klub berjulukan Pendekar Cisadane itu hingga 2014.

Pada 2014 Aminudin juga sempat dipanggil PSSI untuk mengawal Timnas Indonesia U-19 yang akan tampil di turnamen Pre-Repatori AFF 2014 di Vietnam. Status Aminudin di Timnas hanya diperbantukan.

Tahun berikutnya Aminudin dikontrak PS TNI (sekarang Tira Persikabo) saat tampil di Piala Jenderal Sudirman 2015. Usai itu Aminudin dipinang Bali United yang sedang diasuh Indra Sjafri.

Musim berikutnya pria yang juga memperkenalkan diri sebagai El Amin ini bekerja untuk Madura United. Tak lama ia mendapat tawaran menangani tim asal Sumatera Selatan, Sriwijaya FC.

Pada 2018 Aminudin kembali mendapat kesempatan menangani Timnas Indonesia U-19. Seperti sebelumnya status Aminudin tidak tetap, melainkan hanya diperbantukan mengisi kekosongan.

Setelah itu berturut-turut klub asal Kalimantan, Barito Putera dan Kalteng Putra menggunakan jasanya. Terakhir ia bergabung dengan PSS Sleman mulai 2021 untuk Liga 1 2021/2022.

Selama 11 tahun malang melintang bersama klub profesional Indonesia, tidak ada yang menyadari Elwizan Aminudin adalah gadungan. Kedoknya terbongkar setelah ada dokter di Twitter yang berkicau.

Pengguna akun @igbalamin89 menyebut Elwizan Aminudin sebagai dokter gadungan. Akun itu juga menyebut Aminudin tak terdaftar di Ikatan Dokter Indonesia (IDI), juga di Kolegium Kedokteran Indonesia (KKI).

Setelah kicauan tersebut viral, PT Liga Indonesia Baru melakukan penyelidikan, dan hasilnya positif. Aminudin terbukti memalsukan ijazah Ilmu Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh.

Dokter PSIS Semarang yang juga mantan dokter Timnas Indonesia, Alfan Nur Asyhar, prihatin klub sepakbola Indonesia dan PSSI bisa kecolongan. Karenanya ia berharap hal ini diusut tuntas.

“Proses hukum saya rasa harus dilanjutkan sebagai efek jera dan jangan sampai terulang oleh oknum siapapun. PSS Sleman ataupun FK USK adalah garda terdepan untuk meneruskan hal ini ke ranah hukum,” kata Alfan.

Pasalnya, penipuan yang dilakukan dokter gadungan ini bukan perkara sepele. Ini merupakan kejahatan besar di bidang kesehatan dan olahraga yang terkait dengan prestasi sepak bola Indonesia.

“Posisi dokter tim itu sangat vital. Dokter tim bertanggung jawab tentang illness dan injury, penanganan yang tepat dan cepat saat cedera di lapangan agar pemain bisa selamat dari hal-hal yang fatal, mengatur gizi pemain, manajemen sistem medis klub, da lain sebagainya,” kata Alfan kepada CNNIndonesia.com.

Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Akhmad Hadian Lukita mengakui ada yang salah dengan sistem verifikasi di operator. Karenanya temuan ini jadi pelajaran agar tak terulang.

“Selama ini proses verifikasi ada di klub. Semua verifikasi tentang dokter tim ada di klub, bukan di PT LIB. Ini jadi pelajaran buat kita. Kami akan jadikan ini momen untuk berbenah,” ucap Lukita.

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan pun menyayangkan hal ini bisa menimpa sepakbola Indonesia. Karenanya Iriawan akan melakukan penerapan lebih tegas dalam perekrutan dokter Timnas Indonesia.

“2018 itu (saat Elwizan Aminudin di Timnas U-19) bukan zaman kepengurusan saya. Walau demikian saya sangat menyesalkan ulah oknum seperti ini. Sangat merugikan tim,” kata Iriawan, Jumat (3/12). (ins, cnn)

baca juga :

Kasus Aktif di Kantor Pemkot Surabaya Tidak Ditemukan

Redaksi Global News

Dampingi Menkopolhukam di Probolinggo, Wagub Emil Tegaskan Pemprov Jatim Tangani Covid-19 Bersama Ulama

Redaksi Global News

Komnas Pengendalian Tembakau Pertanyakan Perpres 82/2018

Redaksi Global News