Global-News.co.id
Ekonomi Bisnis Utama

PLTS Atap, Ubah Wajah SPBU Jadi Green Energy Station

Pemasangan PLTS Atap di SPBU Coco Jemursari Surabaya membuat SPBU jadi lebih ramah lingkungan. Sebanyak 14 panel PLTS dipasang di atap SPBU. (foto: GN/Titis Tri W.)

SEBANYAK  17 SBPU di Jatim saat ini terpasang PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Pembangunan PLTS di SPBU ini merupakan bentuk komitmen Pertamina untuk terus mendorong peningkatan bauran energi sebagai bagian dari upaya percepatan transisi energi yang dimulai dari halaman rumah sendiri.

Oleh : Titis Tri W

Hingga akhir Oktober 2021, terdapat 5 SPBU di wilayah Surabaya – Sidoarjo yang terpasang PLTS.  Yakni SPBU  5160165 Jemursari (Surabaya), SPBU 5161266 Juanda (Sidoarjo) , SPBU 51601108 Mastrip (Kebraon Surabaya), SPBU 5160177 Dr Soetomo (Surabaya) dan SPBU 5161247 Taman (Sidoarjo). Sedangkan 12 SPBU lainnya tersebar di wilayah Jatim lainnya mulai  Banyuwangi, Jember, Jombang, Krian, Lumajang, Malang, Ngawi, Madiun, Kediri hingga Nganjuk.

Di Surabaya pemasangan PLTS dilakukan sejak September  2020, dan beroperasi secara bertahap mulai Februari 2021 sampai sekarang. Sejak beroperasi, keberadaan PLTS ini mampu menyuplai energi listrik untuk keperluan operasional SPBU dan fasilitas penunjang, mulai minimarket, konter makanan dan minuman. Meski pasokan listrik PLN tetap menjadi andalan utama SPBU dan cadangan genset jika sewaktu-waktu listrik PLN bermasalah.

Supervisor SPBU 5160165 Surabaya – Jemursari, Arif Romadhon, menjelaskan PLTS di SPBU Coco Jemursari  dipasang di atap SBPU, sebanyak 14 panel. Setiap panel berukuran kira-kira 1×2 meter.
Pembangunan dan pengoperasian PLTS di SPBU  dilakukan oleh Pertamina melalui PT Pertamina Power Indonesia (PPI) sebagai sub holding Pertamina NRE (New Renewable Energy) dan PT Pertamina Retail yang merupakan bagian dari sub holding C&T bekerjasama dengan PT LEN Industri sebagai bagian dalam program sinergi BUMN. Seluruh listrik PLTS digunakan untuk operasional SPBU. Dan SPBU bisa menghemat pengeluaran setelah memasang PLTS . Penghematan itu berasal dari penghematan biaya tagihan listrik akibat pemasangan PLTS Atap.

Arif menggambarkan sebelum ada PLTS kebutuhan listrik di SPBU yang mengoperasikan 35 nozel ini rata-rata 400 KWh tiap bulan. Sejak ada PLTS kebutuhan listrik PLN berkurang hingga 25%, karena mampu dipasok listrik PLTS.

“Saat ini sejak ada PLTS  Atap, listrik PLN untuk operasional SPBU Coco Jemursari di kisaran 300-310 KWh tiap bulan, selebihnya  ditopang dari PLTS,” kata Arif ditemui di SPBU Coco Jemursari Surabaya belum lama ini.

Dia menjelaskan naik turunnya pasokan listrik PLTS tergantung matahari. Jika musim kemarau, PLTS bisa memberikan kontribusi listrik maksimal. Jika mendung atau hujan, kontribusi listrik PLTS berkurang.
Sementara itu Section Head Communication Patra Niaga Jatimbalinus Pertamina Arya Yusa Dwicandra menjelaskan dari total 891 SPBU di Jatim hingga akhir Oktober 2021, baru 17 SPBU yang terpasang PLTS Atap. “Tiga PLTS Atap sudah terpasang di SPBU di wilayah Surabaya,” katanya.

Arya menjelaskan transisi energi saat ini gencar dilakukan Pertamina. Salah satunya pemasangan  PLTS Atap di SPBU. Selain itu Pertamina juga aktif mendorong konsumen untuk beralih menggunakan BBM  ramah lingkungan sehingga udara menjadi lebih bersih.  Saat ini Pertamina memiliki BBM jenis gasoline seperti Pertamax yang memiliki kelebihan yaitu formula PERTATEC (Pertamina Technology), formula zat aditif yang memiliki kemampuan untuk membersihkan endapan kotoran pada mesin sehingga mesin jadi lebih awet, menjaga mesin dari karat serta pemakaian bahan bakar yang lebih efisien.

Selain itu, Pertamina juga telah memiliki bahan bakar dengan standar Euro 4 yaitu Pertamax Turbo. “Selain membuat awet mesin, dengan terpenuhinya standar tersebut artinya bahan bakar Pertamina juga ramah lingkungan,” katanya.

Pertamina melalui Patra Niaga Jatimbalinus juga terus memberikan edukasi dan sosialisasi kepada konsumen akan pentingnya mengisi bahan bakar sesuai spesifikasi mesin kendaraan.  “Kami juga mengajak praktisi lingkungan, akademisi, influencer sosial media, awak media dan stakeholder lainnya untuk bersama-sama mengedukasi masyarakat agar menggunakan energi secara lebih tepat dan efisien sehingga lingkungan dan udara menjadi lebih bersih,” katanya.

Sosialisasi ini mulai membuahkan hasil. Ada kecenderungan penggunaan BBM ramah lingkungan di wilayah Jatimbalinus terus meningkat. Misalnya untuk Pertamax ada kenaikan dari rata-rata April-Juni 2021 sebesar 92.000 KL menjadi 102 KL di Juli-September 2021 atau naik 11%. Begitu juga untuk wilayah Surabaya, kenaikan dari rata-rata April-Juni 2021 sebesar 28.000 KL menjadi 33.000 KL di Juli-September  2021 atau naik 18%.

76 Titik GES

Transisi energi yang gencar dilakukan Pertamina memang tampak pada wajah SPBU Pertamina yang baru. Green Energy Station (GES), konsep baru SPBU Pertamina, menyediakan layanan secara terintegrasi dan lebih ramah lingkungan kepada konsumen. Salah satu yang terlihat berbeda pada GES adalah penggunaan PLTS Atap untuk memenuhi kebutuhan listrik.

Chief Executive Officer Pertamina NRE Dannif Danusaputro menjelaskan Pertamina mendukung upaya pencapaian net zero emission. “SPBU yang selama ini hanya dikenal sebagai tempat untuk mengisi BBM menjadi lebih ramah lingkungan dengan konsep GES, di mana kebutuhan listriknya dipenuhi dengan PLTS serta menyediakan layanan untuk gaya hidup konsumen yang lebih ramah lingkungan,” katanya.

Dannif Danusaputro menjelaskan saat ini PLTS telah terpasang di 76 titik GES yang berlokasi di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara dan akan diperluas hingga 5.000 titik. Pemasangan PLTS tersebut akan dilakukan oleh Pertamina NRE sebagai sub holding Pertamina. Ada potensi penghematan tagihan listrik hingga Rp 4 miliar per tahun dari pemasangan di 5.000 PLTS Atap di SPBU. Selain itu pemasangan PLTS di 5.000 SPBU diperkirakan berpotensi menurunkan emisi sebesar 34 ribu ton CO2 per tahun.

Ruang kontrol operasional PLTS Atap di SPBU Coco Jemursari (foto: GN/Titis Tri W.)

Terkait biaya pemasangan PLTS, Pertamina menyampaikan hasil riset yang dilakukan oleh BloombergNEF menunjukkan bahwa pada rentang waktu 2010 sampai dengan 2020, biaya investasi PLTS turun drastis hingga 90 persen. Ke depan, diproyeksikan biaya pemasangan PLTS akan menjadi kompetitif dibandingkan dengan pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil.

Soal perawatan PLTS atap, Pertamina menyampaikan bahwa perawatan panel surya hanya perlu dibersihkan minimal setiap 6 bulan sekali agar terhindar dari kotoran dan jamur. “Keamanan dan kenyamanan konsumen sangat kami perhatikan. HSSE Golden Rules sudah menjadi budaya di Pertamina, di mana aspek keamanan dan keselamatan tidak akan lepas dari setiap aktivitas operasi kami, sehingga konsumen tidak perlu khawatir,” kata Dannif Danusaputro.

PT Pertamina Power Indonesia (PPI), sub holding Pertamina NRE menargetkan memiliki total kapasitas PLTS hingga 500 MW dari total potensi 1,5 GW dalam kurun lima tahun ke depan. Untuk tahun ini saja, Pertamina Power akan merealisasikan 50 MW PLTS.

Vice President Technical & Engineering PPI Norman Ginting mengatakan sampai dengan akhir 2021, ditargetkan pemasangan PLTS Atap di 76 SPBU yang berada di Pulau Jawa.  Nantinya jika 500 MW PLTS sukses dilaksanakan, potensi pengurangan emisi karbon sebanyak 630.000 ton CO2 per tahun.

Selain dari pasar Pertamina sendiri, segmentasi bisnis PLTS masih  cukup luas. Ceruk pasar lainnya adalah ke sektor komersial, residensial, dan industrial yang juga sedang digarap Pertamina saat ini.
Kemudian ke segmen solar farm/floating yang saat ini diakui Norman Ginting sedang digarap intens bersama dengan potensial investor  luar negeri. Menurut hasil studi, potensi PLTS floating di Indonesia sebesar 1.000 MW yang bisa dikembangkan. Pertamina akan menggandeng PLN untuk mengembangkan potensi ini.
Segmentasi pasar terakhir adalah ke pasar solar PV internasional. Norman Ginting bilang, ekspansi bisnis PLTS ke pasar internasional seperti ke Australia, Vietnam, India, dan negara lainnya dilakukan melalui skema akuisisi.

Dalam pengembangan bisnis PLTS di Indonesia, Pertamina melihat ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. “Tantangan pertama adalah isu segregated networks yakni terkait jaringan transmisi Indonesia yang saat ini terpisah tanpa jaringan pusat,” ujar Norman.

Kemudian, tantangan tarif listrik yakni harga BPP yang sebagian besar terkait dengan harga batubara domestik sehingga tarif listrik solar belum dapat kompetitif. Persoalan persyaratan konten lokal juga secara keekonomian akan meningkatkan belanja modal sehingga target tarif listrik yang akan dicapai menjadi tantangan tersendiri.  “Hal ini harus didiskusikan khusus dengan Menteri Perindustrian dan manufaktur lokal bagaimana mendapatkan capex yang kompetitif dibandingkan negara lain,” kata Norman.

Di sisi regulasi, Pertamina Power menilai, diperlukan dukungan kebijakan untuk mendorong pengembangan EBT semisal aturan standar penerapan harga listrik dari EBT, kebijakan batubara dan CPO untuk domestik, insentif sewa atau pembebasan lahan untuk pemanfaatan solar dan EBT lainnya.

Penggunaan Meningkat 21%

Seiring dengan upaya percepatan melalui regulasi pemerintah dan dukungan pemilik modal, Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) optimistis pemasangan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap akan mengalami peningkatan.

Dalam sebuah webinar, Ketua AESI Fabby Tumiwa mengungkapkan, peminat PLTS Atap terutama dari kalangan industri sudah mulai meningkat. “Minat ini akan terus tumbuh seiring dengan munculnya kesadaran industri untuk menghasilkan green product dengan mengoptimalkan konsumsi listrik dari energi terbarukan,” ungkap Fabby.

Dia menjelaskan, pemerintah perlu mendukung realisasi pemanfaatan energi terbarukan melalui regulasi agar seluruh masyarakat dapat ikut serta dalam mencapai target pemanfaatan energi bersih dan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Fabby menambahkan, penggunaan PLTS Atap makin diminati oleh pelaku industri lantaran adanya kecenderungan konsumen untuk mengonsumsi produk hijau yang harus dipenuhi industri, salah satunya dari penggunaan sumber energi bersih PLTS. “Tidak hanya perusahaan global yang mulai memperhatikan penggunaan listrik bersih untuk operasionalnya, tetapi perusahaan lokal juga semakin banyak yang mulai mengembangkan industri hijau,” paparnya.

Sebagaimana diketahui, dalam refleksi empat tahun Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap (GNSSA), kapasitas terpasang PLTS Atap terus mengalami peningkatan sejak 2018 dengan kontribusi sebesar 21% atau setara 46 Megawatt Peak (MWp) dari total kapasitas terpasang. Di mana pada 2025, Pemerintah menargetkan kapasitas terpasang PLTS atap mencapai 3,6 Gigawatt (GW) yang akan disuplai oleh sektor industri dan rumah tangga.

Sementara, Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan (EBTKE) Kementerian ESDM Chrisnawan Anditya, menuturkan bahwa pemerintah memfokuskan instalasi PLTS Atap dalam pengembangan energi terbarukan karena sumber listrik ini cepat dan biaya produksi yang bersaing.
“Kami terus berupaya dalam meningkatkan penggunaan tenaga surya dengan menyusun Rancangan Peraturan Menteri ESDM yang ramah bagi pengguna PLTS atap, salah satu yang diatur adalah memperluas penggunaan PLTS Atap dan meningkatkan nilai keekonomian PLTS Atap,” kata Chrisnawan.

Sementara  Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Rida Mulyana memprediksi bahwa tarif listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap akan lebih kompetitif di masa mendatang.
“Saya yakin tarif PLTS Atap ke depannya mampu bersaing dengan sumber energi lainnya. Apalagi tren teknologi EBT makin ke sini makin efisien dan makin masif sehingga bisa makin murah,” jelas Rida.
Menurutnya, pengembangan teknologi Solar Photovoltaic harus diimbangi dengan teknologi baterai. “Ini untuk menyimpan storage system, termasuk pendalaman hidrogen terkait carrier energy,” tutur Rida.

Rida menjelaskan, hasil riset menunjukkan PLTS Atap akan mampu mengalahkan PLTU seiring perkembangan teknologi baterai pada  2028. Selain Itu, Pemerintah juga mengatur kembali regulasi mengenai PLTS Atap yaitu Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap Oleh Konsumen PT PLN. “Semangat regulasi PLTS Atap adalah penghematan sekaligus menggalakkan penggunaan EBT,” kata Rida. (*)

baca juga :

Kapasitas Pengujian Labkesda Surabaya Ditingkatkan Jadi 4.000 Spesimen Mulai Agustus

Redaksi Global News

Pilkades Serentak di Jember, Pengamanan Antisipasi Konflik dan Bencana

Redaksi Global News

Rute KA Jarak Jauh Beroperasi 12 Juni, Kapasitas Penumpang 70%

Redaksi Global News