Global-News.co.id
Kesehatan Utama

Nakes Jatim Terima Penghargaan Perawat Teladan Covid-19 Covid-19, Melandai Tak Berarti Santai

Fitriyah Putri Ardyasana SKep,Ns.

SURABAYA (global-news.co.id) – Salah satu Tenaga Kesehatan Jawa Timur (Nakes Jatim), Fitriyah Putri Ardyasana, SKep,Ns, akan menerima penghargaan sebagai Tenaga Kesehatan Teladan 2021 dari Kementerian Kesehatan. Perawat Ruang Intensif Isolasi RSU Haji Surabaya ini terpilih sebagai Tenaga Perawat Berprestasi dalam Penanganan Covid-19 Provinsi Jatim.

Acara penyerahan penghargaan kepada nakes teladan ini digelar Jumat (12/11) di Jakarta. Para penerima penghargaan itu hasil seleksi dari 232 peserta se-Indonesia, di mana hanya 60 orang yang lolos ke Jakarta. Jumlah 60 penerima penghargaan ini terbagi 35 dari nakes puskesmas se-Indonesia, 15 orang nakes RS se-Indonesia, dan 10 orang non-nakes. Mereka dinilai sebagai pahlawan dalam menangani Covid-19 di tempat tugasnya masing-masing.

Saat dihubungi Global News Rabu (10/11), Putri, panggilan akrab Fitriyah Putri, tengah berada di Jakarta untuk menerima penghargaan tersebut. Dia mengaku bersyukur bukan hanya karena mendapat penghargaan dari pemerintah, tapi juga karena Covid-19 sudah berangsur melandai. Meski demikian, Putri dan para nakes lain tidak otomatis santai berleha-leha sebab tetap harus bertugas menghadapi segala kemungkinan terkait pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah sudah melandai. Dan ruangan intensif isolasi di RS kami kosong. Sudah tidak pontang-panting lagi. Kalau sekarang kesibukan kerjanya ya seperti biasa, seperti ketika belum terjadi pandemi,” katanya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menganugerahkan tanda kehormatan bintang jasa kepada 300 tenaga kesehatan (nakes) yang gugur dalam penanganan Covid-19. Pemberian tanda kehormatan itu dilakukan di Istana Negara Jakarta, bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional, Rabu (10/11).

Seperti disiarkan secara langsung di Youtube Sekretariat Presiden, penganugerahan bintang jasa kepada 300 nakes itu diwakilkan kepada 3 penerima yang diterimakan oleh para ahli warisnya. Penganugerahan tanda kehormatan bintang jasa berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 110/TK tahun 2021 yang ditetapkan pada 25 Oktober 2021.

Total ada 223 tenaga kesehatan yang diberikan tanda kehormatan Bintang Jasa Pratama yang diwakilkan oleh Almarhum dr. I Ketut Surya Negara (Dokter RSUP Sanglah Denpasar, Provinsi Bali) dan Almarhumah Sucilia Indah (Perawat pada RSUP Dokter Sitanala Tangerang, Provinsi Banten). Bintang jasa diberikan kepada para ahli waris.

Sementara itu, 77 tenaga kesehatan lain menerima Bintang Jasa Nararya yang diwakilkan oleh Almarhumah Emialiona Lasia Carolin. Dia merupakan Bidan pada Puskesmas Kecamatan Pesanggrahan Provinsi DKI Jakarta. Adapun penganugerahan tanda kehormatan bintang jasa diberikan kepada seseorang yang dinilai berjasa bagi bangsa dan negara. Hal ini sesuai dengan UU Nomor 20 tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

“Pasal 28 Ayat (3) huruf a tentang syarat khusus untuk memperoleh Tanda Kehormatan Bintang Jasa yaitu berjasa besar di suatu bidang atau peristiwa tertentu yang bermanfaat bagi keselamatan, kesejahteraan, dan kebesaran bangsa dan negara,” jelas Kepala Biro Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Brigjen TNI (Mar) Ludi Prastyono dikutip dari siaran pers, Rabu (10/11).

Presiden Jokowi juga memberikan gelar pahlawan nasional ke empat tokoh yang dinilai berjasa bagi bangsa dan negara semasa hidupnya. Pemberian gelar dilakukan di Istana Negara Jakarta (10/11).

Empat tokoh tersebut antara lain Tombolatutu dari Sulawesi Tengah, Sultan Aji Muhammad Idris dari Kalimantan Timur. Kemudian, sutradara film Aji Usmar Ismail dari DKI Jakarta, dan Raden Ayra Wangsakara dari Banten.

Bersyukur tapi Was-was

Sementara itu, meski tidak mendapat penghargaan, semua nakes yang berjibaku melawan Covid-19 adalah pahlawan. Mereka pun tetap siaga menghadapi segala kemungkinan terkait Covid-19. Namun mereka bersyukur sebab sekarang pandemi mulai melandai sehingga ruang isolasi pun kosong.

Kondisi ruangan yang kosong juga disyukuri oleh Heni. “Alhamdulillah sejak Oktober, di ruang isolasi saya tidak ada pasien Covid lagi. Jadi sudah tidak pontang-panting seperti bulan Juni kemarin. Tapi meski harus bekerja ekstra, tim kami solid dan dapat melewati semuanya dengan baik,” kata perawat RS Adi Husada Undaan Wetan Surabaya ini.
Sementara Nakes lain, Siti, mengaku masih sering was-was. Perawat senior pada salah satu rumah sakit di Surabaya ini mengaku masih sering khawatir mengingat pengalamannya berjibaku menolong pasien-pasien Covid-19. Apalagi kalau melihat perilaku masyarakat, banyak yang abai prokes (protokol kesehatan).

Secara kerja, menurutnya, memang lebih santai. Beban kerja lebih ringan. ”Tapi santai bukan berarti duduk-duduk, kami masih tetap kerja merawat dan melayani pasien,” katanya kepada Global News, Rabu (10/11).

Kekhawatiran Siti atas perilaku sebagian masyarakat yang tidak taat prokes beralasan. “Saya itu khawatir ada virus varian baru hingga kasus Covid-19 meledak lagi,” ujarnya sembari menyebut betapa beratnya tugas para tenaga kesehatan saat kasus Covid-19 meningkat tajam pada Juni-Juli 2021 lalu.

Akademisi Fakultas Kedokteran Unair Surabaya Dr dr Gatot Soegiarto SpPD-KAI FINASIM

Sebagaimana pernah diungkap pakar imunisasi dewasa, Dr dr Gatot Soegiarto SpPD, virus RNA seperti Coronavirus, akan senantiasa bermutasi, karena saat memperbanyak diri dengan meng”copy-paste” kode genetiknya selalu terjadi kesalahan demi kesalahan akibat virus RNA tidak memiliki mekanisme proofreading yang sempurna.

Hal itu akan menimbulkan varian baru dari virus yang sama. Jadi ketika virus memperbanyak diri (bereplikasi) berulang-ulang akan terjadi varian-varian virus baru. Varian yang baru bisa saja menyebabkan virus jadi lebih mudah menginfeksi, menimbulkan penyakit yang lebih parah, lebih mematikan, menurunkan tingkat perlindungan dari vaksinasi atau infeksi sebelumnya.

Kekhawatiran Siti beralasan, karena pengalamannya saat terjadi lonjakan Covid varian Delta adalah sangat melelahkan dan menyakitkan. “Bayangkan sehari bisa 600 pasien. Antrean pasien di UGD sudah sampai jalan. Kalau boleh memilih, kami tidak jadi perawat saja meskipun ada reward. Tapi karena menjadi perawat sudah panggilan jiwa, kami harus menolong mereka,” ujarnya.

Dan yang sangat menyakitkan lagi, lanjut Siti, adanya komentar “Wong gak Covid di-Covid kan. Itu kan jahat banget, karena nakes medis –paramedis dan dokter—kalau mendiagnosa kan berdasarkan fakta. Jadi tidak ada istilah di-Covid-kan. Kurang gawean opo,” keluhnya.

Diakui Siti, dalam ketegaran dan ketegasan menjalankan tugas, di hati kecilnya terbersit juga rasa takut. Takut terpapar dan takut menulari keluarga di rumah. Karenanya, untuk mengantisipasi, di rumah dia memilih tidur di kamar tersendiri. “Wah, berbulan-bulan tertekan rasanya. Ini pekerjaan yang sangat melelahkan. Agar terhindar, saya doping vitamin macam-macam, makan makanan yang bergizi penuh. Tapi tak urung terpapar juga,” kenangnya.

Diminta Resign

Sebagai perawat senior, ibu tiga anak ini sempat diminta oleh pimpinannya untuk menjadi kepala perawat ruangan Covid-19. Pertentangan batin pun terjadi. “Mungkin pimpinan melihat, sebagai senior saya pantas untuk naik. Tapi saya juga diprotes anak-anak dan suami, bahkan disuruh resign dari pekerjaan yang saya cintai ini.
Setelah otot-ototan adu argumen, pimpinan akhirnya menyetujui saya tidak menerima jabatan itu,” kata Siti yang salah satu anaknya berprofesi sebagai dokter.

Mendasarkan pengalaman dalam menangani pasien-pasien Covid, Siti sangat berharap masyarakat betul-betul taat menjalankan prokes 6M, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas, dan menghindari makan bersama. “Harapannya ya jalankan prokes dengan ketat. Kalau sampai kasusnya meledak lagi, itu menakutkan kami,” katanya.

Karena itu Siti mengimbau kalau ada punya hajatan, jangan besar-besaran yang malah mengundang kerumunan banyak orang. Terus untuk makannya, disarankan kardusan dan tidak makan di tempat untuk menghindari penularan. “Kalau makan kan maskernya dibuka, nah kalau makan disambi ngobrol dengan tamu-tamu lainnya, ini kan potensi memunculkan penularan,” pungkasnya.

Kalau Siti sempat diminta resign oleh keluarga, tidak demikian dengan Putri. Ibu 2 anak ini sempat “disumpahi” keluarga pasien. “Pernah saya ditunjuk-tunjuk sama keluarga pasien, sambil dibilang ‘semoga mbak dan keluarga mengalami apa yang kami rasakan sekarang.’ Waktu itu saya cuma bisa diam, mau nangis tapi saya tahan-tahan,” kenang Putri yang sebelum ditempatkan di ruang Covid berdinas di ruang bedah.

Dia mengaku harus banyak belajar mengelola emosi, melatih sabar, belajar tetap diam berusaha tegar ketika banyak pertanyaan, celaan hinaan. “Kami ini dianggap mengambil keuntungan. Terus saat varian Delta menghantam dan banyak teman perawat yang terpapar, kita yang tersisa harus berusaha tetap kuat kerja melayani pasien,” ujarnya.

Berdinas di ruang berisiko tinggi, membuat Putri sempat tidak berani pulang. Beruntung manajemen rumah sakit menyediakan mess. Tapi sekuat-kuatnya badan mungilnya, Putri pada akhirnya juga terpapar. “Iya saya masuk kelompok terakhir di ruang covid yang kena. Alhamdulillah, tapi gejalanya ringan. Keluarga juga ikut kena,” tambahnya.

Kini ketika kasus Covid melandai, Putri merasa tugas yang harus dilakukan adalah mengedukasi masyarakat. “Sedih kalau mengingat gelombang 1 dan 2 dulu. Supaya nggak terulang, kami cuma bisa mengedukasi terus menerus untuk selalu taat prokes, banyak juga yang mulai meremehkan Covid,” ujarnya.

Dengan edukasi dan informasi kesehatan yang baik, Heni berharap masyarakat sadar pentingnya menjalankan prokes yang dianjurkan pemerintah. “Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Jangan sampai kondisi yang sudah berlalu kemarin terulang lagi,” kata ibu 3 anak ini.

Seiring melandainya Covid-19, Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Dr dr Erwin Astha Triyono SpPD, juga mengajak tenaga medis untuk bersiap kembali dalam memberikan layanan non-Covid, dari penyakit menular seperti DBD, TBC, hingga HIV serta penyakit tidak menular seperti obesitas, jantung, diabetes. Masyarakat yang punya penyakit kronis diharapkan mulai berani lagi hadir di rumah sakit untuk mengakses layanan medis. (ret, wis)

baca juga :

Pertamina Incar Bisnis Penyimpanan Energi dan Baterai Listrik

Titis Global News

Risma dan Kejaksaan Berhasil Selamatkan Aset Senilai Rp 121 Miliar

Redaksi Global News

Ketika WNI “Bonek” Merintis Usaha di Amerika: Cie Siang Sempat Meremehkan Resep Nenek, Kini ‘Menggeprek’ Philadelphia

gas