Global-News.co.id
Kesehatan Utama

Ketahui Risiko Serangan Jantung Anda Sejak Dini

Dr dr Olly Indrajani SpPD

SURABAYA (global-news.co.id) – Baru-baru ini diberitakan artis Hanna Kirana meninggal dunia. Jadi menarik karena meninggal di usia 23 tahun akibat penyakit jantung.  Bintang sinetron Suara Hati Istri ini meninggal lantaran gagal jantung, yaitu kondisi ketika otot jantung tidak dapat memompa darah ke seluruh tubuh sebagaimana mestinya.

Penyakit jantung atau kardiovaskular merupakan 31% penyebab kematian di dunia atau 17,9 juta kematian setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, lebih dari 80% adalah penyakit jantung koroner (PJK) dan stroke. Diperkirakan jumlah kematian akibat penyakit kardiovaskular meningkat menjadi 23,6 juta orang pada 2030.

Yang  memprihatinkan, 1 dari 10 orang pada usia produktif diperkirakan akan mengalami kematian akibat penyakit kardiovaskular. Padahal, 80% terjadinya penyakit dan kematian akibat penyakit  kardiovaskular dapat dicegah atau ditunda.

Sebagaimana dikatakan Dr dr Olly Indrajani SpPD, saat ini telah terjadi pergeseran usia penderita penyakit jantung. “Kalau dulu serangan jantung terjadi pada mereka yang usianya sudah tinggi, sekarang makin banyak usia muda yang mengalaminya dan meninggal,” ujarnya dalam webinar ‘Ketahui Risiko Serangan Jantung Anda Sejak Dini’ yang digelar Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia dan Prodia, Kamis (25/11).

Hanna, Ashraf Sinclair (suami Bunga Citra Lestari), aktor Cecep Reza adalah segelintir contoh dari banyaknya kelompok usia muda yang meninggal akibat serangan jantung.

Apa penyebabnya? Gaya hidup.  Di antaranya diet rendah serat tapi tinggi lemak, kurang aktivitas fisik, merokok dan konsumsi alkohol berlebihan, serta stres.

Olly mengingatkan, penting dilakukan di masa pandemi ini adalah menjaga jangan sampai terkena penyakit  tidak menular.  “Orang-orang dari segala usia dapat terinfeksi oleh corona virus baru (Covid-19). Risiko sakitnya jadi parah jika usianya di atas 60 tahun. Namun orang dengan penyakit tidak menular (NCD) yang sudah ada sebelumnya, juga lebih rentan untuk menjadi parah jika terpapar virus tersebut,” ujarnya.

Penyakit NCD yang dimaksud adalah penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, orang yang pernah atau berisiko terkena serangan jantung atau stroke. Selain itu penyakit pernafasan kronis, diabetes, dan kanker.

“Mencegah terjadinya penyakit tidak menular atau NCD merupakan investasi, karena ketika terjadi kondisi yang tidak terduga, mempunyai keuntungan tersendiri. Minimal pada saat seperti sekarang, jika terinfeksi Covid-19 risiko menjadi parah lebih kecil. Serta lebih siap menghadapi pandemi maupun third wave,” kata dosen FK Universitas Brawijaya Malang ini.

Disebutkan, dari tahun 2007 hingga 2017 stroke dan PJK merupakan dua penyakit yang menyebabkan kematian terbanyak. Sementara diabetes yang pada 2007 menempati urutan 6, pada 2017 menempati urutan ke-3. “Kalau dikaitkan dengan Covid-19, kondisi penyerta pasien Covid yang meninggal karena hipertensi sebanyak 13,2%, diabetes (11,7%), dan penyakit jantung (7,6%),” terangnya.

Awal dari PJK ini adalah adanya lapisan lemak pada dinding pembuluh darah yang semakin banyak hingga mengakibatkan peradangan kemudian menyebabkan kerusakan jaringan. “Penumpukan lemak ini bisa terjadi sejak usia 9 tahun. Apalagi kalau banyak mengonsumsi junk food dan kurang bergerak. Tak heran usia muda sudah terkena penyakit jantung koroner,” kata Olly.

Dijelaskan, akumulasi lemak yang semakin banyak dan peradangan meningkatkan pembentukan plak yg tidak stabil (plak yang mudah terkoyak). Plak yang tidak stabil dan terkoyak kemudian pecah sehingga membentuk bekuan darah –penyebab terjadinya serangan jantung yang utama. 75% serangan jantung disebabkan terkoyaknya plak yang tidak stabil (unstable cardiac lesion).

Sementara faktor risiko tradisional, seperti kolesterol yang tinggi, kini sudah kurang akurat. Sebab serangan jantung juga bisa terjadi pada orang dengan kadar kolesterol normal.

Salah satu cara pencegahan penyakit jantung ini, lanjut Olly, adalah dengan Prodia PULS Cardac Marker (protein unstable lesion signature). Ini adalah tes darah yng dirancang untuk membantu mengidentifikasi orang yang tampak sehat tapi mungkin memiliki penyakit aktif yang dapat menyebabkan serangan jantung,

Tes ini mendeteksi tahap awal penyakit jantung dengan mengenali cedera pembuluh darah dan pembentukan plak yg tidak stabil bahkan pada pasien yang tidak memiliki tanda atau gejala. “Dengan mengukur penanda protein dalam darah yang terkait dengan plak yang tidak stabil, akan bisa dilihat apakah serangan jantung mungkin terjadi dalam lima tahun ke depan,” katanya.

Melalui tes tersebut akan muncul skor PULS. Berbekal skor ini seseorang bisa fokus pada pengurangan faktor risiko. Di antaranya dengan makan banyak makanan berbeda yang rendah lemak, gula, dan garam. Mengonsumsi buah-buahan dan sayuran setiap kali makan serta minum lebih banyak air daripada minuman manis. “Ini dapat membantu meningkatkan tekanan darah, gula darah, kadar kolesterol dan menyebabkan penurunan berat badan,” terangnya.

Selain itu, tetap aktif secara fisik dengan olahraga teratur akan membantu mengendalikan berat badan, menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol LDL. Hindari duduk lebih dari satu jam.

“Yang juga tak kalah penting, minum obat yang diresepkan oleh dokter untuk menurunkan tekanan darah, kolesterol darah, dan kadar gula darah. Berbicaralah dengan penyedia medis untuk mengembangkan rencana yang bekerja untuk Anda,” katanya.

Olly mewanti-wanti, jangan menunggu gejala. Ambil langkah pertama menuju kesehatan jantung yang lebih baik. “Lakukan upaya pencegahan penyakit jantung dengan langkah awal mengetahui seberapa Anda berisiko untuk menentukan upaya pencegahan yang optimal,” kata dia. (ret)

baca juga :

7 Partai “Dukung” Khofifah, Golkar Dorong Deklarasi Oktober

nasir nasir

16 WNI Yang Terjebak Pertempuran Marawi Dipulangkan

gas

Dishub Surabaya Mulai Terapkan Pembayaran Retribusi Parkir dengan Qris di Sekitar Balai Kota dan Taman Bungkul

Titis Global News