Global-News.co.id
Pendidikan Utama

Asesmen Nasional Berbasis Komputer, SD di Kota Surabaya Terkendala Komputer

Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Herlina Harsono Njoto, saat meninjau pelaksanaan ANBK di SD Menur Pumpungan, Kota Surabaya (16/11).

SURABAYA (global-news.co.id) – Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) tingkat sekolah dasar (SD) yang digelar di Kota Surabaya, Jawa Timur, secara bertahap mulai 15-24 November 2021, masih terkendala tidak adanya komputer.

“Waktu kami sidak ANBK di SDN Menur Pumpungan kemarin (15/11), masih ada kendala komputer. Beberapa siswa yang mengikuti ANBK juga terpaksa menggunakan laptop,” kata anggota Komisi D Bidang Pendidikan DPRD Surabaya, Herlina Harsono Njoto, di Surabaya, Selasa (16/11).

ANBK adalah penilaian yang dilakukan di setiap jenjang sekolah mulai dari SD,SMP, SMA/SMK dan sederajat. Berbeda dengan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang dilaksanakan di semester genap, ANBK digelar di akhir tahun dengan peserta kelas 5 SD, 8 SMP, dan 11 SMA.

Mendapati hal itu, Herlina mengaku heran karena masih ada sekolah negeri yang terkendala tidak adanya komputer. Menurutnya, problem tersebut seharusnya tidak terjadi di Surabaya. Apalagi anggaran pendidikan di Surabaya dalam RAPBD 2022 mencapai Rp2 triliun lebih.

Untuk itu, Herlina meminta kepala sekolah segera mengajukan pengadaan perlengkapan komputer itu.

Herlina mengatakan urusan komputer dan internet di sekolah ini sangat vital. Selain untuk ANBK, kegiatan pembelajaran tatap muka juga belum 100 persen.

Meski hasil ANBK tidak menentukan kelulusan siswa, Herlina ingin agar semua sekolah di Surabaya bisa menggelar ANBK tanpa kendala teknis.

“Kalau komputernya ditambah, yang ikut bisa lebih banyak. Tidak dipisah lima orang seperti ini,” ujar perempuan yang sedang menempuh program Doktor Psikologi Universitas Airlangga (Unair) itu.

Sementara itu, Plt. Kepala SDN Menur Pumpungan, Fatmawati, mengatakan, dalam ANBK ini, sebanyak lima siswa mempersiapkan diri di ruang inklusi. Meja mereka ditata dengan jarak satu setengah meter. “Ada 30 murid yang ikut. Dibagi lima anak per sesi,” ujarnya.

Selain itu, Fatma mengatakan kecepatan internet sekolah relatif masih kurang. Mereka baru berlangganan internet sebesar 50 Mbps. (pur)

baca juga :

Kasus Stunting Bojonegoro Masih Tinggi

Jaga Daya Beli Masyarakat, Pemerintah Tahan Kenaikan Tarif Listrik

Redaksi Global News

Laskar Joko Tingkir Waspadai Militansi Persiraja

Redaksi Global News