Global-News.co.id
Metro Raya Pendidikan Utama

Jelang PTM, Walikota Surabaya Kukuhkan 457 Tim Siswa Satgas Sekolah

Walikota Surabaya mengukuhkan tim siswa Satgas Sekolah di Balai Kota, Jumat pagi

SURABAYA (global-news.co.id) – Pandemi Covid-19 membuat seseorang atau instansi harus cepat tanggap. Ketika virus  mewabah hampir di semua negara, pemerintah pun segera bereaksi dan bertindak.

Berbagai aktivitas dilakukan termasuk membentuk Satgas. Bahkan keberadaannya kini merambah ke dunia pendidikan. Seperti Kota Surabaya menjelang dimulainya Pembelajaran Tatap Muka (PTM), Walikota Eri Cahyadi mengukuhkan 457 tim siswa Satgas Sekolah.

Mereka merupakan peserta didik dari berbagai SD dan SMP negeri dan swasta se-Kota Surabaya dengan jumlah siswa yang tergabung di dalamnya mencapai 5.425 anak.

Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, mengatakan, tidak semua pelajar bisa terpilih menjadi anggota Satgas Covid-19 di masing-masing sekolah. Tentu mereka yang terpilih adalah pelajar yang memiliki kepercayaan sebagai seorang pemimpin.

“Jiwa seorang pemimpin adalah jiwa yang penuh tolong menolong, ingin melindungi dan membantu saudara-saudara kita yang lainnya. Ketika anak-anakku dan seluruh guru kita menjadi satgas tangguh, itulah anak-anakku yang memiliki jiwa seorang pemimpin hebat,” kata Walikota Eri di halaman Balai Kota Surabaya, Jum’at (3/9).

Karena itu, ia juga berpesan kepada para siswa agar terus menjaga jiwa seorang pemimpin tersebut. Kiwa seorang pemimpin yang tertanam di sekolah ini terus dijaga sampai nanti menjadi pemimpin yang besar.

Walikota Eri menilai, rencana dimulainya PTM di Surabaya juga menunjukkan kehebatan seluruh pihak. Terutama mereka yang telah berkecimpung di masing-masing sekolah, baik itu kepala sekolah, guru, maupun Tim Satgas Siswa.

“Ini juga menunjukkan bahwa di semua lapisan, baik mulai tingkat bawah di masyarakat semuanya bergotong-royong, bahu-membahu dan penuh keikhlasan untuk menjaga Surabaya dari Covid-19, terutama di sekolah,” katanya.

Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeko) Surabaya meyakini, dengan adanya semangat dari Tim Siswa Satgas Sekolah, maka orangtua yang masih merasa sekolahnya belum aman akan mengizinkan anak-anaknya mengikuti PTM. Karena itu, Satgas Siswa harus dapat memberikan contoh gotong-royong kepada para orangtua dalam menjaga lingkungan sekolah.

Kader UKS Pilihan
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Supomo, dalam laporannya menyampaikan,  Tim Siswa Satgas Covid-19 dibentuk dalam rangka persiapan pelaksanaan PTM yang rencananya dimulai  Senin, 6 September 2021.

Tim Satgas siswa yang dibentuk merupakan siswa-siswa kader UKS pilihan.

“Tim Satgas siswa ini merupakan siswa-siswa kader UKS pilihan yang telah mendapatkan pelatihan dari para pakar agar mereka memiliki pengetahuan dan wawasan tentang pentingnya menjaga protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19,” kata Supomo.

Sampai dengan saat ini, telah terbentuk 457 Tim Siswa Satgas Covid dari berbagai SD dan SMP negeri swasta se-Kota Surabaya dengan jumlah siswa yang tergabung di dalamnya mencapai 5.425 anak.

Supomo menyebut, nantinya mereka bertugas untuk berperan aktif membantu guru Satgas Covid-19 Sekolah melakukan pengawasan dan menjaga kedisiplinan teman-temannya dalam menerapkan protokol kesehatan di sekolah. “Selain itu, tim ini diharapkan mampu menjadi penggerak dan panutan dalam melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat bagi teman-temannya,” ujarnya.

Mantan Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya ini berharap, dengan adanya Tim Siswa Satgas Covid-19 di sekolah ini dapat menjadi kekuatan bagi seluruh warga Surabaya dalam gotong royong menjadikan Surabaya ini sebagai kota yang tangguh dan sentosa. “Dan yang paling utama adalah segera terbebas dari Pandemi Covid-19,” tuturnya.

Wiwin Puspitasari (40) adalah satu di antara orangtua siswa yang putrinya menjadi Satgas Covid-19, bersyukur PTM di Surabaya segera bisa dibuka. Sebab, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama ini dinilainya kurang efektif.

“Kalau di rumah belajarnya kurang efektif. Benar kayak gurunya sudah melalui zoom, pesan suara, video, itu sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi terkadang penangkapan ke anak-anak kan beda-beda,” kata Wiwin.

Ibunda Mutiara Aqila Anjani, pelajar SDN Sambikerep II Surabaya ini mengizinkan putrinya mengikuti PTM di sekolah. Bagi dia, meski PTM berjalan dua atau tiga kali dalam seminggu, paling tidak ada tatap muka bersama dengan gurunya. (pur)

baca juga :

Kolaborasi Singapura-Indonesia Tingkatkan Kualitas Pendidikan Anak Usia Dini di Jawa Barat

Redaksi Global News

Grab Ajak Jutaan UMKM Jawa Timur Masuk Ekonomi Digital

Redaksi Global News

Dukung Program Elektrifikasi, PLN Berikan Penghargaan kepada Bupati Banyuwangi

Redaksi Global News