Global-News.co.id
Ekonomi Bisnis Mataraman Utama

Tembus Pasar Luar Negeri, Rendang Jamur Desa Putih Cocok untuk Vegan

Rendang jamur produksi Desa Putih, Gampengrejo, Kab Kediri

KEDIRI (global-news.co.id) – Rendang adalah salah satu makanan terlezat di dunia. Tak berlebihan jika menu makanan ini banyak peminatnya. Lantas bagaimana vegan atau orang vegetarian yang konsumsinya non-daging?

Tidak perlu khawatir, karena Wilujeng Dwi Ratna Ningtiyas, warga Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri berhasil mengembangkan bisnis rendang jamur. Usaha yang digeluti sejak Maret 2021 lalu ini ternyata banyak diminati, bahkan hingga pasar luar negeri.

Melimpahnya produk jamur tiram di wilayahnya dan masih sedikit yang mengolahnya, membuat Ajeng yang juga seorang vegan ini tertarik memproduksi rendang yang berbahan non-daging. Ia memilih jamur tiram coklat sebagai bahan rendang karena memiliki tekstur yang mirip dengan daging. Makanan ini juga cocok bagi para vegan untuk menikmati masakan rendang tanpa daging.

Pembuatan rendang ini sangat mudah namun proses memasaknya membutuhkan waktu hingga 8 jam. Pertama, jamur tiram dipotong dan disuwir, kemudian direbus sekitar 5 menit dan ditiriskan hingga benar-benar mengering. Setelah itu jamur dimasak menggunakan resep tradisional di dalam sebuah wajan. Setelah semuanya tercampur, adonan diaduk dan dimasak hingga 8 jam sampai bumbu meresap sempurna.

Proses pembuatan rendang jamur perlu waktu 8 jam

“Kebanyakan rendang yang dijual menggunakan daging, baik sapi, ayam atau ikan. Karena saya sedang merambah ke vegan, jadi ingin membuat produk yang bisa dikonsumsi vegan. Selain itu harga jamur juga lebih murah dibandingkan daging,” kata Ajeng.

Sejak tiga bulan memproduksi, Ajeng telah menghabiskan 90 kilogram jamur tiram yang dibeli di petani seharga Rp 25 ribu perkilogram. Rendang jamur buatannya dijual dalam kemasan 100 gram dengan 3 varian rasa, yaitu original, pedas dan super pedas. Harganya pun cukup terjangkau, yakni berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu. Produk  ini bisa bertahan 2 minggu di suhu ruang dan bertahan 6 bulan jika disimpan dalam freezer.

Saat ini permintaan rendang jamur datang dari Jakarta, Sumatra, Kalimantan hingga Sorong (Papua). Memanfaatkan media online, pemasaran jamur rendang ini juga menjangkau pasar mancanegara seperti Cina, Makau, Kanada, Turki, Mesir, Hongkong dan Taiwan. Hasilnya pun menjanjikan. Dalam sebulan, omset usaha rendang jamur ini bisa mencapai Rp 11 juta.

Menurut Ajeng, di Indonesia baru ada dua produsen rendang jamur, yaitu dirinya dan produsen asal Tangerang. Ia bersyukur usahanya ini mampu menambah pendapatan di tengah sulitnya ekonomi akibat pandemi covid-19. (ins, kei)

baca juga :

Puncak Musim Hujan Diprediksi hingga Maret

Redaksi Global News

Menag Pastikan Dua WNI di Jeddah Dapat Pendampingan

Rofiq

Minus hingga Kuartal IV, Pelaku Pasar Waspada

Redaksi Global News