Global-News.co.id
Gaya Hidup Kesehatan

Hindari Makan Bersama di Luar, Cara Cegah Penularan Covid-19

Hindari makan bersama di luar rumah, menjadi salah satu protokol kesehatan yang harus dijalankan untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

SURABAYA (global-news.co.id) – Menghindari makan bersama di luar rumah menjadi salah satu cara yang dianjurkan untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. Pakar imunisasi dewasa dari Universitas Airlangga, Dr dr Gatot Soegiarto SpPD-KAI mengingatkan, masyarakat perlu lebih ketat lagi menjalankan protokol kesehatan seiring melonjaknya lagi kasus Covid-19 dan terdeteksinya varian-varian baru yang jadi perhatian, Delta, Alpha, dan Beta.

Anggota Tim Advokasi Pencagahan Covid-19 PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini menegaskan, cara yang paling ampuh untuk menyikapi varian-varian baru virus Corona adalah dengan menggunakan 2 perisai, yakni vaksinasi dan menjalankan protokol kesehatan secara ketat.  Dan  menghindari makan bersama menjadi M ke-6 dari protokol kesehatan yang harus dijalankan.  Kalau protokol kesehatan sebelumnya 3M lalu 5 M, kini menjadi 6M.

Makan bersama bagaimana yang dimaksud?  “Kalau dalam 1 keluarga yang sudah diketahui negatif, maka makan bersama keluarga di rumah ya boleh saja. Yang menjadi masalah adalah ketika keluarga ini makan bersama di luar. Di saat makan kan harus buka masker, padahal di sekitar mereka tidak tampak siapa sumber penularan potensial, virus yang beredar secara airborn maupun droplet di sekitar mereka juga tidak tampak. Dampaknya ya bisa memudahkan mereka tertular dari sumber penularan “tersembunyi” di sekitar mereka saat makan,” katanya saat dihubungi Kamis (17/6/2021).

Sementara 5 M lain yang sudah terlebih dulu gencar disosialisasikan adalah memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Terkait munculnya varian-varian baru virus Corona, Gatot menyebut pada virus apa pun, khususnya virus RNA yang tidak memiliki mekanisme proofread saat meng-copy paste kode genetiknya, mutasi adalah sesuatu yang lazim terjadi. Bisa terjadi pada saat virus bereplikasi dalam tubuh inang (dalam hal ini manusia). “Bagaimana menyiasatinya? Cara terbaik adalah dengan menggunakan 2 perisai (double cover). Pertama menjalani vaksinasi dengan vaksin yang tersedia. Kedua menjalankan protokol kesehatan secara ketat,” tandasnya.

Disebutkan, bukan hanya virus Covid-19 yang mengalami mutasi hingga memunculkan varian Alpha (B117 – Inggris), Beta (B1351 – Afrika Selatan), Delta (B1617.2 – India), Gamma (P1 – Brasil), Epsilon (B1427/B1429 – Amerika Serikat), Zeta (P2 – Brasil), Theta (P3 – Filipina), Lota (B1526 – Amerika Serikat), Kappa (B1617.1 – India), dan Eta (B1t525 terdeteksi  di sejumlah negara).

Virus influenza juga mengalami berbagai mutasi.  “Sehingga dari pengamatan epidemiologis (surveillance) bertahun-tahun akhirnya kita mengerti adanya pola transimisi virus influenza yang berkaitan dengan pola migrasi burung-burung migran dan terestrial pada musim tertentu khususnya musim gugur di negara 4 musim, dari belahan bumi Utara ke Selatan dan sebaliknya,” ujarnya.

Dari situ akhirnya diketahui bahwa setiap musim gugur dan musim dingin selalu ada varian virus influenza baru yang menyerang dan berbeda dengan varian virus tahun sebelumnya. “Itulah sebabnya mengapa untuk perlindungan terhadap influenza diperlukan vaksin baru setiap tahun yang kandungan strain dalam vaksinnya ditentukan oleh jenis varian virus yang sedang aktif beredar,” terangnya.

Bagaimana dengan Covid-19?  “Untuk virus Corona ini, kan pengalaman kita belum banyak (sedang diamati). Di tahun-tahun berikutnya mungkin kita harus vaksin Corona baru dengan komponen yang disesuaikan dengan varian Corona virus yang beredar,” pungkasnya.ret

baca juga :

Industri Kecantikan Indonesia Ikut Menyesuaikan dengan Tatanan Normal Baru

Redaksi Global News

TB-Analyzer Ciptaan Dosen ITS, Hemat Waktu Berjam-jam Diagnosa Bakteri Tuberculosis

Redaksi Global News

Mutasi Virus Jadi Tantangan Pengembangan Vaksin Merah Putih

Titis Global News