Global-News.co.id
Metro Raya Utama

De Javasche Bank, Pesona Gedung Heritage Bercita Rasa Kolonial Belanda

GN/Titis Tri W
Gedung De Javasche Bank di Jl Garuda No 1 Surabaya hingga kini kokoh berdiri.

 

Kota Surabaya menyimpan banyak bangunan bersejarah berumur ratusan tahun  lalu. Salah satunya De Javasche Bank (DJB) di Jl Garuda 1.  Di gedung aset Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jatim ini, kita dapat melihat teknologi  dan arsitektur zaman kolonial Belanda yang menjadi pionir pada masanya. Mulai ‘CCTV’ dan ‘AC’  zaman Belanda hingga  seni kaca patri dengan motif dan jenis kaca yang disebut-sebut hingga saat ini hanya tersisa di dua negara, Perancis dan Indonesia (Surabaya).

 

Oleh : Titis Tri W

Ratusan tahun menjajah sejumlah wilayah di Indonesia, Belanda meninggalkan sejumlah warisan di kota-kota bekas jajahannya. Salah satunya warisan infrastruktur  seperti gedung perkantoran,  stasiun kereta api, markas militer yang sebagian ada yang masih difungsikan hingga saat ini sebagai museum dan bangunan cagar budaya daerah setempat. Termasuk di Surabaya.

Ada banyak jejak warisan zaman kolonial Belanda di Surabaya. Yakni gedung-gedung klasik berusia ratusan tahun dengan arsitektur dominan khas Eropa dengan  ciri tembok yang tebal, atap runcing menjulang dengan tiang-tiang atau pilar yang tinggi.  Apalagi pada saat itu, Surabaya merupakan sentra perdagangan yang vital bagi pemerintahan Belanda. Letak geografisnya yang strategis membuat pemerintah Kolonial Belanda memposisikan Surabaya sebagai pelabuhan utama yang berperan sebagai titik pengumpulan terakhir (collecting center) hasil produksi perkebunan di ujung Timur Pulau Jawa yang ada di daerah pedalaman untuk diekspor ke Eropa.

Sejarawan Universitas Airlangga Surabaya Purnawan Basundoro mengatakan, perdagangan di Surabaya terjadi sejak tanam paksa. Pada 1907, terdapat kebijakan tentang industrialisasi yang membuat Surabaya tumbuh dan berkembang. Saat itu Surabaya menjadi pelabuhan utama dari sentra perkebunan dan liberasi ekonomi yang dicanangkan Hindia Belanda sejak 1870 makin meningkat. “Sejak kurun waktu itu, Surabaya menjadi simpul perdagangan ke Indonesia. Hasil bumi yang kaya dan melimpah juga menjadikannya sebagai sentra perdagangan di Indonesia,” katanya.

Dalam perjalanannya, lanjut Purnawan Basundoro, kemudian lahirlah kantor-kantor dagang dan bank-bank yang secara formal mendukung pengembangan kegiatan usaha di Surabaya.  Kantor-kantor dan bank-bank tersebut umumnya berlokasi di kawasan permukiman orang Eropa, yaitu di sekitar Jembatan Merah, Kembang Jepun dan Tunjungan.

Salah satunya De Javasche Bank (DJB) di Surabaya yang dibangun di pojok Schoolplein (sekarang Jl Garuda) dan Werfstraat (sekarang Jl Penjara) pada 14 September 1829.

Gedung  DJB yang berlokasi dekat kawasan Jembatan Merah Surabaya itu hingga kini kokoh berdiri. Tak lagi difungsikan sebagai kantor bank, namun sebagai bangunan cagar budaya.  Gedung bergaya arsitektur neo renaissance dilengkapi ukiran Jepara di setiap pilarnya ini menyimpan banyak sejarah perbankan di Indonesia. Mulai era kolonial Belanda dan penjajahan Jepang.

Gedung DJB ini terbagi atas tiga lantai, yakni lantai dasar (basement) terdiri dari 3 khasanah (brankas), yakni tempat penyimpan koleksi uang, tempat konservasi budaya (emas batangan) dan penyimpanan pustaka budaya Bank Indonesia (seperti mesin-mesin operasional BI).  Lantai kedua merupakan area perkantoran  dan lantai ketiga untuk tempat dokumentasi/arsip.

GN/Titis Tri W
CCTV’ zaman Belanda ini dipasang di setiap sudut ruang khasanah tempat penyimpanan uang milik nasabah.

Banyak yang menarik dari setiap lantai di gedung itu. Di lantai dasar (basement) kita bisa melihat ‘CCTV’ zaman Belanda. Menggunakan 3 kaca manual setua usia gedung , ‘CCTV’ zaman Belanda ini dipasang di setiap sudut ruang khasanah tempat penyimpanan uang milik nasabah. Sehingga siapapun yang melintas di sekitar ruang penyimpanan uang akan mudah dipantau dari pantulan kaca yang bisa terlihat dari sekeliling ruangan.

GN/Titis Tri W
Seluruh pintu utama akses keluar masuk terbuat dari baja seberat 13 ton.

Ruang penyimpanan uang dibangun dengan sangat kokoh. Ketebalan dinding temboknya saja mencapai 1,5 meter, seluruh pintu utama akses keluar masuk terbuat dari baja seberat 13 ton. Seluruh ruangan juga dilengkapi pintu darurat jika sewaktu-waktu pintu utama tak bisa dibuka.

Walaupun ruangan ini cukup tebal, namun untuk menjaga kondisi udara tetap stabil dan kelembaban ruangan terjaga agar uang dan barang berharga lain tidak cepat rusak, maka di sekeliling ruang khasanah terdapat sejumlah ventilasi udara. Ventilasi yang dibangun membuat sinar matahari leluasa masuk sehingga ruangan terang dapat pencahayaan alami.

Di bawah jarak antar bangunan ini ada ‘AC’ zaman Belanda. Maksudnya ada selokan, di dalamnya dirancang air yang mengalir setiap saat yang membuat ruangan khasanah penyimpanan uang jadi sejuk.

Tempat penyimpanan uang lokasinya dibuat berjarak, atau dibangun tidak mepet tembok. Jarak antar bangunan sekitar 1 meter. Di bawah jarak antar bangunan ini ada ‘AC’ zaman Belanda. Maksudnya ada selokan, di dalamnya dirancang air yang mengalir setiap saat yang membuat ruangan khasanah penyimpanan uang jadi sejuk.

Belanda menggunakan teori kendi untuk mendapatkan suhu sejuk alami. Asal tahu, kendi bekerja berdasarkan prinsip penguapan untuk membantu pendinginan air. Suhu dingin tersebut berasal dari air yang menguap melalui pori-pori karena bahan kendi berasal dari tanah liat. Proses penguapan tersebut memerlukan panas, yang tercipta di lingkungan sekitar kendi. Karena panasnya telah hilang, itu sebabnya air di dalam kendi menjadi lebih dingin secara alami. Seperti itulah cara kerja ‘AC’ zaman Belanda di ruang tempat penyimpanan uang.

Di area ini kita juga melihat koleksi mata uang kuno yang disusun rapi dalam etalase kaca bening.  Mulai mata uang zaman Belanda, Jepang dan Indonesia tempo dulu.

Di tempat konservasi budaya ada replika batangan emas diletakkan di dalam etalase kaca bening.

Di tempat konservasi budaya ada replika batangan emas diletakkan di dalam etalase kaca bening. Dan di tempat penyimpanan pustaka budaya Bank Indonesia ada macam-macam mesin dan alat perbankan, seperti mesin pemotong, mesin press, mesin penghitung, hingga mesin penghancur uang terpampang  di pinggiran ruang.

Kaca Patri Eksklusif

GN/Titis Tri W
Yang menjadi ikon di lantai dua DJB adalah adanya seni kaca patri dengan jenis kaca dan motif asli era Hindia Belanda.

Naik ke lantai dua melewati tangga besi berwarna cokelat, merupakan area perkantoran/teller. Yang menjadi ikon di lantai dua adalah adanya seni kaca patri. Dipasang di langit-langit ruangan lantai dua, seni kaca patri menjadi ornamen rancangan arsitektur khas Belanda yang disesuaikan dengan fungsi.

Penggunaan seni kaca patri yang merupakan kerajinan tangan khas Eropa ini membuat sinar matahari tropis leluasa menembus panel-panel kaca warna warni dengan motif seputar komoditas yang saat itu diperdagangkan di Hindia Belanda.

Penggunaan kaca patri ini membuat bangunan di lantai dua mendapatkan pencahayaan alami tanpa harus menggunakan listrik hingga saat ini.

Menurut Pemandu DJB Surabaya Rizky Jayanto, bangunan peninggalan zaman Belanda yang dilengkapi seni kaca patri  dengan jenis kaca dan motif seperti di gedung De Javasche Bank Surabaya di dunia tersisa di dua negara. Satu di Perancis, satunya di  Indonesia yakni Surabaya. “Seni kaca patri dengan jenis kaca dan motif asli Hindia Belanda seperti ini hanya tersisa di dua negara, Perancis dan Indonesia, Surabaya. Di De Javasche Bank dan masih berfungsi hingga saat ini. Kaca patri ini belum pernah pecah,” katanya.

Ditinjau dari sejarahnya, seni kaca patri merupakan ornamen arsitektur yang berasal dari Eropa. Penggunaan kaca warna dimulai pada pertengahan abad ke-12.  Pada zaman Gotik inilah, seni kerajinan tangan ini berada pada puncak kejayaannya. Sampai paro pertama abad ke-19 kaca termasuk jenis barang mewah dan sangat mahal. Dari arsip laporan tahunan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) di Batavia untuk kantor pusat di Amsterdam, terdapat beberapa catatan tentang impor barang-barang kaca dari Belanda atau Eropa. Barang-barang kaca itu untuk dijual atau diberikan sebagai hadiah kepada raja-raja atau sultan-sultan di Indonesia kala itu. Di Indonesia pun, bahan kaca tetap langka sampai awal abad ke-20, kecuali untuk kalangan terbatas.

GN/Titis Tri W
Pintu putar dari baja ini didesain agar antara nasabah satu dan lainnya tidak saling bertemu atau berinteraksi.

Di lantai dua  kita dapat melihat pintu putar terbuat dari baja. Pintu putar ini hanya berkapasitas 4 orang. Pintu putar ini didesain agar antara nasabah satu dan lainnya tidak saling bertemu atau berinteraksi.

Begitu detilnya sistem keamanan juga bisa dilihat dari ruang kasir/teller. Ada 10 ruang bilik transaksi ke tiap teller dilengkapi dengan kawat baja dan tiap nasabah bisa mengunci pintu dari dalam.

Ada 10 ruang bilik transaksi.

Lestari (53) warga Pucang Anom yang mengaku baru pertama kali ke De Javasche Bank mengagumi teknologi dan arsitektur yang digunakan Belanda masa itu. “Ini menarik. Rancangan gedung menggunakan teknologi yang ramah lingkungan, pemikiran tim arsiteknya cerdas dan visioner. Kalau mau jujur teknologi abad 19 ini cocok diterapkan untuk saat ini, bisa berhemat dalam banyak hal,” kata ibu dua anak ini.

Istimewanya gedung bank saat itu, kata Lestari, sangat memperhatikan keamanan, kenyamanan dan privacy para nasabah. “Ruangan teller plus kunci, pintu putar semuanya menunjukkan begitu detil sistem keamanan yang dipakai saat itu,” katanya.

Di area hall lantai dua ada deretan foto-foto Surabaya masa lalu. Ada foto Alun-alun Surabaya, foto Jalan Pahlawan, serta foto-foto rumah dinas pegawai De Javasche Bank di sekitar Jalan Raya Darmo.

Menurut Rizky Jayanto area hall ini bisa dimanfaatkan warga untuk kegiatan sosial (misal pertemuan, reuni, foto pre wedding), budaya (pameran lukisan), pendidikan.  Khusus untuk pameran, jumlah pengunjung tetap akan dibatasi untuk menjaga keamanan bangunan. Juga tidak boleh ada makanan minuman masuk gedung. “Kalau pengunjung terlalu banyak, membahayakan bangunan karena ini bangunan lama berumur ratusan tahun. Untuk memanfaatkan hall ini warga bisa mengajukan dulu ke pengelola gedung,” kata Rizky.

Sedangkan di lantai tiga tempat arsip karena lantai atas tidak mudah lembab. Umumnya gedung peninggalan Belanda merancang tempat arsip di lantai paling atas bangunan.

Perawatan Jalan Terus

Sejak pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia, DJB Surabaya untuk sementara tutup. Namun para petugas tetap membersihkan ruangan demi ruangan di bangunan yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sejak 27 Januari 2012.

GN/Titis Tri W
Tempat penyimpanan uang di lantai dasar (basement) DJB. Ruangan terus dijaga agar tidak lembab.

Perawatan utama yang dilakukan adalah menjaga agar ruangan di sana tidak lembab. Maklum beberapa ruangan bangunan berada di bawah permukaan tanah. Di sekeliling gedung bertebaran bangunan dengan interaksi cukup padat, seperti stasiun Jembatan Merah Plaza (JMP), sentra PKL “Tak hanya getaran, kadang-kadang ada rembesan air. Ini yang perlu kita amankan agar tembok tak cepat rusak kena rembesan air,” kata salah satu petugas kebersihan di sana.

Karena itu di beberapa sudut bangunan disiapkan pompa penyedot air, hingga kipas agar ruangan tidak lembab dan pengap.  Ditetapkannya DJB menjadi bangunan cagar budaya membuat pihak BI Jatim juga tak bisa melakukan perbaikan seenaknya meski restorasi pernah dilakukan di gedung tersebut.

Dari literatur yang ada di DJB Surabaya terungkap pada 1904, gedung itu sempat dirobohkan dan dibangun ulang dengan luas sekitar 1.000 meter persegi. Gedung dirancang dengan cara yang sama dari kantor pusat De Javasche Bank di Batavia, bergaya neo renaissance empire dengan atap Mansart dan pilar ornamen Hindu-Jawa yang menghiasi eksterior gedung sampai saat ini.

Dalam sejarahnya, DJB Surabaya pernah dikuasai oleh Jepang pada1942 kemudian kembali beroperasi pada 6 April 1946, setelah tentara Sekutu berkuasa kembali. Setelah dinasionalisasi melalui pembelian saham oleh Pemerintah Indonesia pada 1951, pada 1 Juli 1953 DJB berubah menjadi Bank Indonesia dan secara otomatis gedung DJB di Jalan Garuda ini beralih fungsi menjadi kantor Bank Indonesia.

Tetapi pada 1973, kantor tersebut tidak digunakan lagi karena kapasitas gedung tidak cukup memadai untuk melakukan kegiatan operasional Bank Indonesia. Sehingga sebuah kantor baru didirikan di Jalan Pahlawan No 105 dan hingga saat ini masih digunakan sebagai Kantor Bank Indonesia Jatim.

Pada 1973 hingga 2010 gedung DJB Surabaya dipergunakan Bank Jatim. Gedung DJB kemudian selesai dikonservasi dan menjadi salah satu bangunan cagar budaya sejak 27 Januari 2012.

Namun DJB mulai dikenal sebagai salah satu destinasi warga Surabaya sejak 2018 atau sebelum pandemi.  Tingkat kunjungan rata-rata mencapai 5 ribu orang per bulan. Mayoritas para pelajar, meski DJB dibuka untuk umum. Tak hanya warga Surabaya dan Jatim, namun warga luar Jatim juga penasaran untuk melihat gedung yang menjadi cikal bakal Bank Indonesia ini.  Selain datang berombongan, warga memanfaatkan angkutan Suroboyo Bus rute Bungurasih – JMP menuju DJB. Dari JMP tinggal jalan kaki ke Jl Garuda No 1 Krembangan Selatan. “Baru mulai ramai menggaet pengunjung, pandemi Covid-19 masuk Indonesia. Sejak pandemi itu DJB ditutup untuk umum,” kata Rizky.

Pengalaman dari Meilina (35), salah satu guru di SMP di Surabaya saat mengantar murid-muridnya mengunjungi DJB sebelum pandemi, pengunjung yang berwisata ke DJB sebaiknya membekali diri dengan membawa minuman. Di area kompleks gedung DJB, sekalipun area parkir kendaraan tidak ada penjual minuman.

“Pengalaman saya dulu, di  lokasi tidak ada yang jual minuman atau makanan ringan. Kalau harus nyebrang keluar kompleks gedung DJB misalnya ke sekitar JMP untuk beli, kasihan murid-murid, juga bahaya karena lalu lintas sekitar ramai,” katanya.

Meilina menilai gedung DJB Surabaya sangat kaya akan sejarah tempo dulu. Namun masih bisa dieksplorasi lebih untuk menarik minat warga belajar sejarah kotanya. Misalnya dilengkapi dengan toko souvenir atau oleh-oleh khas Surabaya. “Kalau fasilitas lengkap tanpa merusak bangunan asli cagar budayanya akan jadi promosi hebat untuk DJB,” katanya.

Ciptakan Ekonomi Kerakyatan

Kepala Bank Indonesia (BI) Jatim Difi Ahmad Johansyah menjelaskan dengan ditetapkannya DJB Surabaya sebagai bangunan cagar budaya pihaknya memiliki tangggung jawab untuk merawat, memelihara, melestarikan gedung yang menjadi saksi sejarah perbankan di Indonesia. Selain itu pihaknya juga ingin memberikan edukasi ke masyarakat agar mereka tahu asal muasal Bank Sentral di Indonesia. “Kami ingin saat bicara Bank Sentral tak hanya soal moneter, perbankan saja. Tapi masyarakat juga mengetahui asal usul Bank Sentral itu seperti apa. Gedung DJB menjadi saksi sejarah panjang soal ini,” katanya.

GN/Titis Tri W
Kepala Bank Indonesia (BI) Jatim Difi Ahmad Johansyah (berdiri) dalam kegiatan Cangkrukan Media yang digelar di DJB.

Difi menjelaskan sejak DJB mulai ramai dikunjungi pada 2018, pihaknya ingin  terus melengkapi fasilitas agar pengunjung nyaman. Beberapa yang digagas saat itu adalah  pendirian kafe, galeri UMKM untuk menampung produk binaan BI Jatim dan non binaan BI Jatim.

“Kami ingin menciptakan ekonomi kerakyatan. Kalau ada kafe, UMKM penjual makanan dan minuman ekonominya akan bergerak.  Kalau ada galeri UMKM, UMKM penjual cinderamata misalnya gantungan kunci, kaos logo DJB atau yang lain juga ikut bergerak,” katanya.

Tak hanya itu BI Jatim juga sudah menggagas adanya event dengan berbagai komunitas  misalnya komunitas sepeda, ekspatriat di area kompleks DJB. Bersinergi dengan Pemkot Surabaya dan instansi terkait lainnya, event itu diarahkan untuk menyusuri wisata kota tua di Surabaya, salah satunya ke DJB.  “Saat ada event, kita juga bisa buat semacam bazar UMKM,”katanya.

Sayangnya, sebelum gagasan itu direalisasikan muncul wabah pandemi Covid-19. Mau tak mau semua gagasan untuk sementara ditunda hingga situasi memungkinkan untuk gedung DJB dibuka kembali.

Sebagai gedung cagar budaya, gedung DJB Surabaya pernah menjadi nominasi Surabaya Tourism Award 2013 dari Pemkot Surabaya. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap pariwisata Surabaya.

Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara menjelaskan untuk mengajak warga Surabaya mengetahui pariwisata daerahnya, Pemkot Surabaya bekerjasama dengan sejumlah instansi menyiapkan layanan bus wisata. Berkeliling Surabaya sambil belajar sejarah dapat dilakukan dengan menaiki bus wisata milik House of Sampoerna (HoS). Namanya Bus Surabaya Heritage Track (SHT).

Pemkot juga menyiapkan Surabaya Shoping and Culinary Track (SSCT), adalah wahana bus wisata Kota Surabaya dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Surabaya yang berangkat dari Balai Kota Surabaya. Bus tertiket Rp 7.500 per orang ini berbeda dengan dengan Suroboyo Bus yang membayar dengan sampah plastik. Juga beda dengan Surabaya Heritage Track (SHT) yang dikelola HoS. Kalau yang dikelola House of Sampoerna tujuannya ke bangunan sejarah Surabaya,  kalau SSCT tujuannya ke museum, taman kota, wisata bahari, pusat kuliner dan UMKM hingga Balai Kota Surabaya. “Sinergi memasukkan rute ke destinasi wisata lain di Surabaya tentu sangat terbuka dilakukan. Saat ini semuanya masih dipending karena pandemi,” katanya.

Terpisah Manager House of Sampoerna Rani Anggraini menjelaskan bus wisata yang dioperasikan HoS namanya Surabaya Heritage Track (SHT). Bus wisata ini dioperasikan pada weekdays (Selasa-Jumat) dan weekend (Jumat-Minggu). Khusus hari Senin libur. “SHT menggunakan konsep tur keliling kota dan tur ini gratis,” katanya.

Bus tersebut mempunyai destinasi atau rute dan tujuan berbeda-beda. Ada Tur Surabaya Kota Pelabuhan, Surabaya Kota Pendidikan, Surabaya Kota Pahlawan.   “Itu program regular mulai 2013-2019, sejak pandemi kami tidak melayani lagi. Surabaya Heritage Track saat ini kami lakukan secara virtual,” katanya.

Sinergi dengan pengelola bangunan cagar budaya lain seperti De Javasche Bank yang lokasinya tak jauh dari HoS, dilakukan sebatas membantu ikut menginfokan adanya destinasi wisata ini  ke penumpang SHT. *

 

 

baca juga :

Kejari Belum Bisa Eksekusi Predator Anak Mojokerto

Redaksi Global News

5 Juni: 29.521 Orang di Indonesia Positif Corona, 9.443 Sembuh dan 1.770 Meninggal

Redaksi Global News

November, Defisit Perdagangan Tembus 2 Miliar Dollar AS

Redaksi Global News