Global-News.co.id
Metro Raya Utama

Ponpes Amanatul Ummah Awali PTM, Vaksinasi Guru di Jatim Digencarkan



SURABAYA (global-news.co.id) –
Sekolah dan pesantren di Jawa Timur bersiap melakukan proses belajar mengajar atau pembelajaran tatap muka (PTM) mulai Juli 2021. Sejumlah sekolah sudah melakukan vaksinasi terhadap guru dan tenaga kependidikan, tapi sebagian lain belum. Bahkan, pesantren ada yang mengawali proses belajar mengajar secara tatap muka seperti dilakukan Ponpes Amanatul Ummah Pacet Mojokerto.

Dr. Affan Hasnan, M. Pd, Kepala Sekolah SMP BP Ponpes Amanatul Ummah, mengatakan, para santri yang berjumlah ribuan akan mulai masuk pondok pesantren setelah libur Lebaran pada 22-23 Mei 2021. Para santri tidak langsung masuk asrama pondok tapi akan diterima di Kampus Institut KH Abdul Chalim (IKHAC) guna dilakukan pengecekan kesehatan, termasuk surat rapid antigen, dan protokol kesehatan lain. Selanjutnya para santri akan dibawa dengan kendaraan bus menuju asrama pondok yang jaraknya sekitar 1 km.

“Dilakukan cek kesehatan dulu di Kampus IKHAC, seperti saat penerimaan santri awal tahun ajaran kemarin,” kata Affan kepada Global News Rabu 19 Mei 2021.

Sejumlah guru SMK Negeri di Jatim juga menyatakan siap melakukan proses pembelajaran tatap muka. Namun tidak semua guru sudah menjalani vaksinasi. SMKN 1 Banyuwangi misalnya, semua guru dan tenaga kependidikan sudah menjalani vaksinasi sehingga siap melaksanakan proses pembelajaran tatap muka.

“Alhamdulillah, semua guru dan tenaga kependidikan sudah vaksin. Baik vaksin 1 maupun vaksin 2. Insya Allah siap melakukan pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan ketat, tapi kami menunggu instruksi lebih lanjut,” kata salah seorang guru, Drs Kartamun, Rabu 19 Mei 2021.

Namun Kepala SMKN 2 Lamongan, Drs Matekur, mengatakan, di Kabupaten Lamongan banyak guru dan tenaga kependidikan belum melakukan vaksinasi. “Tapi masih ada waktu, sehingga kami pun siap saja,” katanya.

Karena itu, sejumlah pihak minta vaksinasi terhadap guru dikebut agar selesai sebelum tanggal 5 Juli 2021. “Ini penting agar para guru, tenaga kependidikan, dan siswa sendiri merasa aman dan nyaman saat belajar di sekolah,” kata seorang guru di Lamongan Rabu kemarin.

Prioritaskan Guru

Seperti diberitakan sebelumnya, menjelang persiapan uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) di Jawa Timur yang rencananya akan diselenggarakan 5 Juli 2021 mendatang serta dimulainya pembelajaran di pesantren, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menggelar rapat koordinasi bersama dengan Bupati/Walikota se Jatim secara virtual di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (17/5/2021) sore.
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Khofifah menginstruksikan kepada seluruh Kepala Daerah di Jawa Timur, untuk memprioritaskan vaksinasi pada para guru dan tenaga pendidik SMA, SMK dan SLB.

Instruksi tersebut disampaikan mengingat, dari total guru dan tenaga pendidik di Jatim yang berjumlah 108.694 orang, per 17 Mei 2021 masih 55,18 % guru dan tenaga pendidik yang mendapatkan vaksin tahap pertama. Sedang untuk tahap kedua, masih sebanyak 35,60 % guru dan tenaga pendidik.

“Kami baru rakor (rapat koordinasi) dengan MKKS SMK , SMA dan SLB, dan kami berkoordinasi kepada masing-masing Kepala Dinas Pendidikan di Kabupaten/Kota, kita memastikan vaksinasi untuk guru mohon diprioritaskan,” tegas Khofifah.

Lebih lanjut Khofifah menambahkan, sisa waktu terhitung hingga 5 Juli 2021 mendatang, Bupati/Walikota diharapkan sesegera mungkin melakukan persiapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) sesuai SKB empat menteri yang diterbitkan tanggal 30 Maret 2021. Adanya keputusan PTM tersebut nantinya berseiring dengan melihat perkembangan dinamika pandemi Covid-19. Di mana nantinya akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan, termasuk dengan jam pelajaran serta proses PTMnya.

Meski begitu, terang Khofifah, keputusan PTM tidak terlepas dari persetujuan masing-masing orang tua murid. Sementara di lain hal, guna mengantisipasi adanya reaksi guru yang menolak untuk dilakukannya vaksinasi, Gubernur Khofifah juga menginstruksikan untuk langsung ditindaklanjuti Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

“Sekolah internasional juga guru-gurunya harus diberikan akses untuk mendapatkan vaksinasi. Maka jika nantinya ada kekurangan dosis, bisa dikoordinasikan dengan Kadinkes Jatim,” kata Khofifah.

Dirinya pun menjelaskan, adanya beberapa guru yang sudah melakukan vaksinasi menjadi modal awal yang baik. Apalagi dari catatan Dinas Kesehatan Jawa Timur, saat ini, ketersediaan vaksin di kabupaten/kota mencapai 2.416.402 dosis di 3.000 fasilitas kesehatan (Faskes).

“Sedangkan kalau dipotong dengan dosis kedua ada sekitar 1.550.456 dosis yang tersimpan, setelah pemenuhan dosis kedua. Ini artinya kalau ada 50 persen guru yang sudah tervaksinasi, berarti masih ada sekitar 50 ribu yang belum mendapatkan vaksin. Kita bisa menggunakan sisa vaksin yang 1,5 juta itu untuk mendahulukan seperti yang disarankan Bapak Presiden dan Menteri Kesehatan. Karena yang paling beresiko saat ini adalah lansia dan guru,” jelas Khofifah.

Adanya vaksinasi untuk para guru dan tenaga pendidik, dirinya berharap agar hasilnya dapat seperti vaksinasi SDM Kesehatan. Dimana saat ini, dengan efektifitas vaksinasi yang dilakukan dapat menurunkan jumlah kasus covid-19 yang terjadi pada SDM Kesehatan.

“Selain itu juga tentunya protokol kesehatan harus kita ketatkan. Tetapi vaksinasi cukup signifikan untuk bisa menguatkan kekebalan tubuh dari petugas di ring pertama dalam menolong kesehatan. Saat ini dalam rangka tatap muka, guru-guru pun sudah harus dioptimalkan dipersiapkan dengan baik. Sehingga nanti, kita berupaya dari sisa yang belum divaksin, mudah-mudahan kita bisa menyelesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama,” jelas Khofifah.

Di sisi lain, sesuai dengan keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.02/4/423/2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-19, saat ini distribusi vaksin covid-19 tidak hanya melalui Dinkes Provinsi saja. Namun juga melalui HUB atau pusat penyimpanan di Jawa Timur di 2 titik di Kota Surabaya dan 2 titik di Kabupaten Sidoarjo. Dari 4 Hub tersebut, vaksin akan didistribusikan ke 38 kabupaten/kota.

Dalam rakor tersebut, Gubernur Khofifah juga membahas mengenai beberapa kabupaten/kota yang belum memaksimalkan kegiatan vaksinasi. Bahkan persentasenya pun di angka 1 persen.

Terkait hal tersebut, Khofifah meminta agar seluruh Bupati/Walikota di daerah yang masih sangat rendah realisasi vaksinasi tersebut agar segera mengkoordinasikan percepatan vaksinasi di wilayahnya. Utamanya untuk memaksimalkan para lansia dan guru. Termasuk guru di pesantren.

“Hari ini belum maksimal, untuk vaksinasi lansia kita sudah melakukan dengan berbagai ikhtiar. Sehingga harus ada format yang dimaksimalkan. Karena nanti adanya kaitannya, yaitu siswa yang pergi ke sekolah tidak membahayakan bagi lansia di rumah masing-masing,” kata mantan Menteri Sosial RI ini.

Untuk memudahkan jangkauannya, Khofifah mengimbau kepada ASN di Kabupaten/Kota untuk membantu percepatan penyelenggaraan vaksinasi. Dimana hal ini merupakan kesempatan untuk melakukan proses identifikasi vaksinasi bagi para guru dan lansia.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jatim Herlin Ferliana menambahkan, pihaknya juga telah memerintahkan seluruh Kepala Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota untuk melakukan koordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan setempat. Koordinasi tersebut untuk melakukan koordinasi terkait pendataan guru yang belum melakukan vaksinasi.

“Tetapi secepatnya sebelum 5 Juli, semua harus sudah tervaksinasi. Insyallah tidak akan lama, karena vaksinnya sudah ada,” terang Herlin.

Ke depan, Dinkes Jatim akan menambah output guna melakukan pemantauan dan memudahkan proses pendataan sasaran vaksinasi untuk para guru. Dimana dari sasaran vaksinasi, guru masuk kedalam kategori pelayanan publik dengan jatah alokasi vaksin sebesar 2.070.774 dosis.
“Kita berharap ada langkah percepatan untuk lansia dan pendidik. Karena pendistribusian vaksin sudah ditentukan dasar yang dipakai yakni mememiliki beberapa poin, salah satunya kecepatan penyerapan dan sisa vaksin,” terang Herlin.

GeNose C-19 di Sekolah

Sementara itu, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, ingin Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) untuk membeli alat pendeteksi Covid-19, GeNose C19. Ia berharap penggunaan GeNose C19 semakin luas, tidak hanya di sektor transportasi seperti bandara dan stasiun kereta api. Kehadiran GeNose di sekolah-sekolah disebut akan mempermudah pemeriksaan rutin untuk para murid dan guru.

“Kita juga akan menyampaikan kepada Mendikbud Ristek (Nadiem Makarim) untuk juga membeli peralatan GeNose agar Kemendikbud Ristekitu bisa secara rutin melakukan pemeriksaan terhadap murid-murid dan guru-guru di sekolahnya masing-masing melalui GeNose tersebut,” kata Agus di Yogyakarta pada Rabu (19/5/2021).

Perluasan penggunaan GeNose, katanya, juga merupakan tugas dari pemerintah. Sehingga tidak hanya mengawal produksi dan rekayasanya, tapi juga menciptakan pasar. Hal ini dimulai dengan belanja yang ada di kementerian dan lembaga, serta perusahaan-perusahaan BUMN.

Menurut Agus, kualitas GeNose sejauh ini semakin baik. Penyempurnaan produk pun terus dilakukan. Bahkan berdasarkan data dan laporan yang ada, semakin lama produksi GeNose terus disempurnakan sehingga akurasinya semakin baik dan tinggi.

Oleh sebab itu, pemerintah pun semakin optimis untuk memperluas pasar GeNose. “Kita akan terus mendorong GeNose, bukan hanya untuk sektor transportasi untuk pesawat, bus hingga kereta api,” ungkapnya.

Kemenperin pun terus mendukung upaya pencegahan Covid-19. Sebagai upaya berkontribusi dalam pencegahan penyebaran Covid-19, unit pendidikan vokasi di bawah naungan Kemenperin turut berperan aktif dalam perakitan GeNoSe C 19.

“Mungkin banyak yang belum tahu, bahwa salah satu unit pendidikan Kemenperin yaitu Sekolah Menengah Kejuruan – Sekolah Menengah Teknologi Industri (SMK-SMTI) Yogyakarta, mempunyai peran yang cukup besar dalam membangun alat GeNoSe C19 untuk mendeteksi Covid-19. Sekolah ini dipercaya untuk melakukan proses assembling atau perakitan GeNoSe C19,” kata Agus.

Ia menuturkan, dipilihnya SMK-SMTI Yogyakarta menjadi tempat perakitan oleh konsorsium pengembang GeNoSe C19 dari Yogyakarta, menunjukkan bahwa sekolah vokasi Kemenperin tersebut mempunyai kualitas di atas standar. Melalui kerja sama tersebut, SMK-SMTI Yogyakarta menyediakan tempat produksi atau perakitan GeNoSe C 19, sekaligus memberdayakan dan memberikan kesempatan kepada siswa-siswi jurusan Kimia Industri untuk menjadi tenaga operator.

“SMK-SMTI Yogyakarta pada tahap awal produksi sudah mampu memenuhi target perakitan 3.000 unit GeNoSe C 19. Sedangkan produksi yang saat ini running untuk memenuhi target 2.000 unit. Jadi total 5.000 unit GeNoSe C19 yang dirakit di sini,” ujar Agus.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Arus Gunawan, mengatakan kolaborasi perakitan GeNoSe C19 yang terjalin antara SMK-SMTI Yogyakarta dan konsorsium pengembang GeNoSe C19 membuktikan bahwa program link and match antara sekolah vokasi Kemenperin dan industri berjalan baik.

Ia menyampaikan, link and match dengan konsorsium pengembang GeNoSe C19 berawal dari hubungan baik antara sekolah-sekolah Kemenperin dan industri yang sudah terjalin sejak lama. “Hal itu berkat penyelenggaraan program vokasi yang merupakan hasil kolaborasi langsung dengan industri,” jelas Arus. (gas/l6)

baca juga :

PKS Jatim Gelar Apel Siaga Tanggap Bencana, Siap Terjunkan Relawan ke Daerah

Redaksi Global News

Kembangkan Kemandirian Pesantren, BI Resmikan Distribution Center KSBP Jatim

Titis Global News

DitegurJokowi, Menko Airlangga Klaim Harga Bahan Pokok Sudah Turun

Redaksi Global News