Global-News.co.id
Ekonomi Bisnis Utama

Kuartal I 2021, Indonesia Masih Resesi

Kepala BPS Suhariyanto

JAKARTA (global-news.co.id) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal I 2021 mencapai 0,74% secara year on year (yoy). Sedangkan secara quartal per quartal (q to q) 0,96%. Itu artinya Indonesia masih resesi.

Meski demikian, angka pertumbuhan tersebut telah menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya selama masa pandemi Covid-19.

“Posisi kuartal I 2021 perekonomian Indonesia masih kontraksi 0,74 persen. Dibandingkan triwulan sebelumnya, ini perbaikan yang cukup signifikan,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/5/2021).

Pertumbuhan ekonomi yang masih minus tersebut menyebabkan beberapa sektor sakit kronis. Dari 17 sektor, ada 6 sektor tumbuh positif dan 11 sektor negatif. Rinciannya, 11 sektor yang masih negatif adalah transportasi dan pergudangan -13,12%, akomodasi dan makan minum -7,26%, dan jasa lainnya -5,15%. “Sektor yang masih tumbuh positif adalah informasi dan komunikasi sebesar 8,72%, pengadaan air 5,49% dan jasa kesehatan 3,64%. Kemudian adalah pertanian, pengadaan listrik, gas dan real estate,” ujar BPS Suhariyanto.

Sejalan dengan itu, Suhariyanto menjelaskan inflasi pada kuartal I 2021 tercatat sebesar 1,37 persen secara yoy. Inflasi bergerak lambat dikarenakan pandemi Covid-19 yang membatasi mobilitas orang sehingga sisi permintaan menjadi terhambat.

Suhariyanto menjelaskan realisasi belanja negara pada kuartal I 2021 mencapai Rp 523,04 triliun atau meningkat dari kuartal I 2020 yang tercatat sebesar Rp 452,41 triliun.

Sedangkan realisasi penanaman modal mencapai Rp 219,7 triliun secara quarter to quarter (antar kuartal) atau naik sebesar 2,3% dan naik 4,3% secara year on year. Hal ini bisa menunjukkan pemulihan ekonomi untuk ke depan bisa nyata. “Ini sangat bersyukur karena pertumbuhan ekonomi akan bisa nyata,” tandasnya.

Kategori Turun Peringkat

Sebelumnya Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan pandemi Covid-19 telah membuat ekonomi dunia merosot tak terkecuali dampaknya dirasakan di Indonesia.

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun lalu berimplikasi kepada kesehatan, serta mengganggu kinerja pembangunan di daerah dan nasional.

“Kontraksi ekonomi yang dialami Indonesia pada 2020 memberikan risiko kepada Indonesia untuk kembali masuk kategori lower middle income (negara berpenghasilan menengah bawah),” ujar Suharso dalam video virtual, Selasa (4/5/2021).

Kata dia, Indonesia mencapai negara berpenghasilan menengah atas pada 2019. Namun, sejak 2020 perekonomian Indonesia diselimuti dampak pandemi Covid-19. Berdasarkan visi pembangunan 2045 yang tercantum pada RPJMN 2020-2024, dengan asumsi tanpa pandemi, Indonesia direncanakan keluar dari jebakan kelas menengah pada 2036. “Jika ekonomi bisa tumbuh rata-rata 5,7% per tahun dan pertumbuhan PDB per kapita sekitar 5%,” ujar Suharso.

Dia telah menyiapkan sejumlah strategi besar dalam redesain transformasi ekonomi Indonesia pasca Covid yang menggunakan tujuan pembangunan berkelanjutan sebagai instrumen utama. Strategi ini, menurut dia, merupakan game changer menuju Indonesia maju sebelum 2045.

Saat ini, Bappenas sedang menyelesaikan peta jalan transformasi ekonomi Indonesia yang diharapkan selesai dalam waktu dekat. Tahun 2022 diharapkan menjadi tahun pertama Indonesia lepas dari pandemi dan tahun kunci bagi pemantapan pemulihan ekonomi. jef, yan

baca juga :

AKBP Kusumo Wahyu Bintoro Siap Tancap Gas untuk Sidoarjo Aman dan Kondusif

gas

Stok Reagen Habis Lagi, Sejumlah Lab Hentikan Tes Corona

Redaksi Global News

Pembangunan Jembatan Kanor–Rengel Digenjot