Global-News.co.id
Sosok Utama

Arek Suroboyo di Balik Temuan Sinar X dari Uranus

Baru-baru ini Observatorium Sinar-X Chandra milik Badan Antariksa Amerika (NASA) mengabarkan, para astronom mendeteksi sinar-X yang berasal dari Uranus. Temuan yang disebut mampu menyingkapkan dimensi raksasa es yang sebelumnya tidak diketahui ini, ternyata melibatkan Arek Suroboyo, Affelia Wibisono.

Oleh: Retno Asri

Twitter – Affelia Wibisono

Uranus adalah planet ketujuh dari Matahari dan memiliki dua set cincin di sekitar ekuatornya. Planet, yang memiliki diameter empat kali lipat Bumi, berputar pada sisinya, membuatnya berbeda dari semua planet lain di tata surya.

Karena Voyager 2 adalah satu-satunya pesawat luar angkasa yang pernah terbang melewati Uranus, para astronom saat ini mengandalkan teleskop yang lebih dekat ke Bumi, seperti Chandra dan Teleskop Luar Angkasa Hubble, untuk mempelajari planet yang jauh dan dingin ini, yang hampir seluruhnya terdiri dari hidrogen dan helium.

Dalam studi yang dipimpin astronom William Dunn dari University College London (UCL), Affelia Wibisono menyebutkan, Uranus menghasilkan lebih banyak sinar-X daripada yang seharusnya, yaitu jika planet itu hanya menyebarkan sinar-X Matahari. Kandidat Doktor dari UCL ini mengajukan dua teori berbeda untuk menjelaskan emisi. Salah satu kemungkinannya adalah cincin Uranus mengeluarkan sinar-X, mirip dengan yang terjadi pada cincin di sekitar Saturnus.

Proses ini –yang dikenal sebagai fluoresensi– terjadi ketika partikel bermuatan energi, seperti elektron dan proton, bertabrakan dengan cincin, menyebabkannya bersinar dalam sinar-X. Kemungkinan lain adalah bahwa sinar-X dihasilkan oleh aurora Uranus, seperti yang dijelaskan NASA. Selain fluoresensi, terang Affelia, planet dapat pula menghasilkan sinar X lewat hamburan sinar X matahari dan emisi aurora.

Penulisan makalah yang menjelaskan tentang temuan itu bukan hanya melibatkan Dunn dan Affelia, tapi juga beberapa ilmuwan Jan-Uwe Ness dari University of Marseille, Prancis, Laurent Lamy (Paris Observatory, Prancis), Grant Tremblay (Center for Astrophysics|Harvard & Smithsonian), Graziella Branduardi-Raymont (University College London), Bradford Snios (CfA), Ralph Kraft (CfA), dan Z. Yao (Chinese Academy of Sciences, Beijing).

Ketertarikan Affelia pada bidang astronomi sudah berlangsung sejak masa kanak-kanak. “Sejak usia 7-8 tahun, dia senang membaca buku tentang planet-planet,” kata sang ibu, Dr Whysnianti Basuki, dosen senior di Southampton Solent University di Inggris kepada Global News, Senin (10/5/2021).

Sewaktu di bangku SD kelas 1, Affelia bersama sang adik, Benidia Wibisono, dan ayahnya harus menyusul sang ibu yang sudah terlebih dulu bermukim di Inggris karena mendapatkan beasiswa S2. Sesuai bidang yang disukai, Gege –begitu panggilannya–mengambil jurusan fisika pada jejang S1 dan S2-nya. Dia bekerja di Greenwich Obsevatory sebagai astronomer. Sejak 2 tahun lalu, dia terpaksa mundur dari pekerjaan yang disukai tersebut karena mendapat beasiswa S3 di UCL. Untuk program doktornya, putri pasangan Whysni dan Goenawan Wibisono ini mengambil tesis tentang Uranus.

Gerhana Matahari

Dalam tulisan In the Shadow of the Moon, Chasing a Solar Eclipse, yang dimuat di blog Royal Museums Greenwich, Affelia mengungkap salah satu kenangan awalnya tentang astronomi adalah melihat gerhana matahari total 1999. Ketika itu gerhana matahari terlihat di Inggris Selatan, daratan Eropa, sebagian Afrika dan Asia. “Saya ingat, meletakkan semangkuk air di taman untuk melihat pantulan gerhana dan memakai kacamata gerhana. Saya juga ingat menonton TV, ketika itu terjadi. Rasanya setiap saluran (kanal TV) menayangkan program tentang itu,” kata kelahiran September 1989 ini.

“Ada laporan dari Cornwall yang menggambarkan kerumunan kerumunan orang di pantai dengan deretan teleskop mengarah ke langit. Siang hari berubah menjadi malam ketika totalitas melanda (ketika Bulan benar-benar menghalangi Matahari) dan ada banyak sorak-sorai. Kilatan dari kamera orang-orang berkilauan di tempat itu, suasananya sangat elektrik. Pasti luar biasa menjadi bagian dari itu,” ujarnya dalam tulisan yang mengisahkan perjalanannya ke Pulau Belitung Sumatera.

Gege mengungkap, idenya ke Indonesia untuk melihat gerhana matahari total pada 9 Maret 2016 lalu muncul ketika pihaknya menyambut ribuan orang yang ingin bergabung dengan Royal Observatory Greenwich (ROG) untuk melihat gerhana matahari parsial. Ada tradisi lama para astronom ROG melakukan ekspedisi gerhana. “Pengamatan mereka menginspirasi saya untuk membuatnya sendiri, di negara kelahiran saya,” paparnya.

Untuk mendukung kegiatan itu, perempuan yang berharap bisa bekerja di European Space Agency ini memutuskan membeli teleskop untuk gerhana. “Saya membutuhkan teleskop yang mudah dipasang, tidak terlalu mahal dan yang terpenting, kecil dan mudah dibawa karena saya perlu membawanya ke pesawat,” lanjut penghobi main sepak bola dan mengumpulkan kaktus ini.

Teleskop Maksutov-Cassegrain 90 mm kecil yang menggunakan cermin dan lensa untuk memperbesar cahaya merupakan teleskop pertamanya. Affelia pun lantas teringat teleskop mainannya ketika berusia 8 tahun. “Saya nggak bisa melihat apa pun, saat pertama kali saya menggunakannya, saya menyerah dan meletakkannya di bawah tempat tidur. Supaya nggak pernah terlihat lagi,” kenangnya.

Sayangnya saat berada di kota kelahirannya, Surabaya, Affelia tak memiliki kesempatan untuk melihat bintang. Ada banyak polusi cahaya, polusi umum, dan badai petir hampir setiap malam. “Namun, saya berhasil menunjukkan Jupiter kepada bibi, paman, dan sepupu saya pada suatu malam,” ujar Gege.

Dan lantaran di Pulau Jawa hanya bisa melihat gerhana matahari sebagian, Affelia yang ditemani ibunya terbang ke Pulau Belitung. Di Pantai Kelayan, salah satu tempat pengamatan utama, sudah banyak orang yang ingin menikmati pemandangan yang langka dan indah tersebut. “Gerhana terjadi pada dini hari, dengan totalitas terjadi pada pukul 07.23 waktu setempat. Saya bangun dari tempat tidur pukul 3:00 pagi, dan teleskop saya telah dipasang dan siap pada saat matahari terbit pada pukul 6:00 pagi. Menjadi  seorang astronom memang butuh pengaturan, fleksibilitas, kesabaran, dan ketepatan waktu yang baik!” pungkasnya.*

 

baca juga :

80% Siswa SD Bisa Baca Alquran dengan Baik

Redaksi Global News

PN Surabaya Tiadakan Sidang 2 Pekan setelah Hakim Meninggal dan ASN Positif Corona

Redaksi Global News

Khofifah Hadiri Pemakaman Kakak Iparnya, KH Masykur Hasyim

Redaksi Global News