Global-News.co.id
Madura Utama

Zona Kuning Madura Hebat, Dr Joni: Angka Terpapar Jatim Turun tapi Tetap Harus Waspada



SURABAYA (global-news.co.id) –
Cukup lama Pulau Madura “berhias” kuning. Empat kabupaten di peta Zona Covid-19 menunjukkan semuanya berwana kuning. Ini artinya risiko kenaikan kasus Covid-19 berada dalam tingkat yang rendah. Meski demikian, masyarakat Madura dan umumnya Jatim, diminta untuk lebih patuh lagi dalam melaksanakan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Hingga Selasa (20/4/2021), di Jatim yang berstatus kuning sebanyak 15 kota dan kabupaten. Dari 15 kota ini, Madura bertengger paling lama. Di sejumlah kecamatan di Madura berstatus hijau, di mana risiko kenaikan kasus Covid-19 terkontrol. Sementara 22 kota dan kabupaten lainnya berstatus orange (risiko kenaikan kasus Covid-19 sedang). Secara umum, beberapa bulan terakhir ini situasi Covid-19 di Jatim terus melandai.

Madura dinilai hebat sebab kasus Covid-19 secara umum rendah. Pujian “Madura Hebat” banyak bermunculan di sejumlah Grup WhatsApp (WA). Seperti di BAS SMPP 82 Pamekasan dan sejumlah grup WA lain di Madura. Mereka seolah tak percaya Pulau Madura Hebat dalam menanggulangi Covid-19. Mengapa? Karena sebagian besar, khususnya di pedasaan, masyarakatnya jarang memakai masker. Bahkan ada yang belum pernah memakai masker selama pandemi Covid-19.

Saat Global News pekan lalu menyusuri Kota Bangkalan, Sampang, hingga Pamekasan, memang tampak amat jarang masyarakat memakai masker, termasuk di pusat-pusat kerumunan seperti pasar. Masyarakat Madura seolah tak percaya ada wabah Covid-19. “Ayo bukkak maskerrah. Edinnak tadhek Corona. Aman (Ayo buka maskernya. Di sini tidak ada Corona. Aman, Red.),” kata Djalal kepada kakaknya yang baru datang dari Surabaya.

Sementara sang kakak, tetap saja memakai masker. Dia menolak permintaan adiknya agar membuka masker. “Saya sudah biasa memakai masker setiap harinya. Meski saya sudah divaksin dua kali, tetapi saya tetap bermasker. Saya takut menulari,” kata sang kakak, disambut ketawa oleh saudara-saudaranya. Dia dianggap “orang aneh” sebab satu-satunya yang memakai masker di tempat tersebut.

Mengapa Covid-19 di Madura penularannya rendah? Padahal masyarakatnya kurang patuh Prokes? Ini patut dijadikan bahasan. “Kalalu saya melihatnya, karena dalam masa pandemi Covid-19 ini masyarakat Madura imunnya kuat. Mengapa kuat? Karena masyarakatnya percaya bahwasannya kematian itu sudah ditentukan oleh Allah SWT. Bukan ditentukan oleh Corona. Inilah yang membuat masyarakat Madura tegar. Percaya diri. Keyakinan inilah yang melahirkan imun yang luar biasa untuk melawan Covid-19,” kata Sahlun, warga Pamekasan.

Drh Zainul Muslimin, Ketua Lazis-MU Jawa Timur, dalam catatan perjalanannya berjudul “Orang Madura Menghadapi Covid” yang dimuat di pwmu.co juga mengagumi kehebatan orang Madura. Selama dua hari Zainul melakukan perjalanan di seputaran Madura Raya sungguh dia melihat fakta kehebatan orang Madura. Khususnya warga Sampang dan sekitarnya. Mereka seperti tidak ada persoalan apa-apa terhadap adanya pandemi Covid-19.

Hasil penelusurannya mulai dari Pasar Rong Tengah, Alun-alun Masjid Jami’, Pasar Wargamalela, Pasar Srimangunan, alun-alun sekitar Kantor Bupati dan tentu juga sepanjang jalan, semuanya berjalan seperti biasa, seperti tidak ada pandemi Corona.

Apa nggak ada yang merasa terpapar? “Iya ada-lah, Pak,” jawab warga. “Yang meriang-meriang juga ada malah. Ada juga yang tidak bisa merasakan makanan yang dimakannya. Tetapi dengan minum wedang jahe dan empon-empon lainnya bahkan dengan beberapa upaya lain diyakini bisa menyembuhkannya.”

“Orang Madura melakukan semua cara agar kebal terjadap Covid-19. Saya sebetulnya sedang mencari data berapa jumlah penduduk Sampang yang wafat di tahun 2018, 2019, dan 2020. Adakah tren kematian (mortalitas) meningkat pesat di tahun 2019 dan 2020? Karena dengan perilaku keseharian seperti yang ada sekarang ini (tidak memakai masker) kemudian juga didukung oleh data bahwa total jumlah kematian penduduk juga tidak menunjukkan tren kenaikan yang tajam. Bahkan mungkin malah menurun. Menurut saya, justru mereka bisa lebih cepat keluar dari persoalan pandemi yang mendera,” kata Zainul.

Zainul mengaku bukan ahli statistik sehinga kesimpulan yang dia ambil bisa bias. Bahkan mungkin salah karena kurangnya parameter atau tolok ukur yang semestinya harus dilakukan sebagai pengujian terhadap suatu masalah. “Tapi setidaknya saya sangat bangga dan ikut senang ketika rakyat bisa hidup tenang, bahagia seperti tidak ada persoalan pandemi yang mendera dengan cara hidup biasa seperti biasanya, apa adanya.

Mereka tidak membebani negara dengan tes PCR atau swab gratis. Atau juga perawatan Covid-19 secara gratis karena mereka bisa mengatasinya sendiri dengan cara mereka. Mudah-mudahan tidak ada risiko yang berat yang menimpa mereka. Seperti meningkatnya angka pesakitan ataupun kematian kepada mereka,” katanya.

Moh. Amin, Ketua PWI Bangkalan, membenarkan kalau warga di desa banyak yang tidak memakai masker. Namun untuk warga di Kota Bangkalan lebih banyak yang memakai masker. “Selain itu Polres Bangkalan juga rutin mengadakan operasi yustisi,” katanya kepada Global News Rabu (21/4/2021).

Lalu mengapa warga desa banyak yang tidak memakai masker? Amin menjelaskan, mereka bukan tidak mengerti protokol kesehatan Covid-19. Namun banyak warga tidak percaya bahwa Corona itu benar-benar ada. “Itu masalahnya. Warga banyak yang tidak pakai masker karena tingkat kepercayaan mereka pada Corona rendah,” katanya.

Jangan Seperti India

Sementara itu, Ketua Satgas Kuratif COVID-19 Jatim, dr Joni Wahyuhadi, ketika diminta komentarnya soal fenomena Covid-19 di Madura itu, mengatakan, status kuning di Pulau Madura memang perlu untuk didalami. “Suasana iklim yang lebih panas di Madura memang membuat Covid-19 tidak bertahan lama. Angka terpapar di Jatim beberapa bulan terakhir memang menurun. Hanya saja, saya tak henti-hentinya menghimbau agar masyarakat tetap waspada. Jangan sampai terjadi seperti di India,” katanya.

“Secara karakteristik wilayah dan penyebaran virusnya di India dan Indonesia tidak jauh berbeda. Jangan karena terjadi arus manusia antara wilayah yang meningkat, terjadi kenaikan pula jumlah penderita,” kata Joni Wahyuhadi, yang juga Dirut RS Dr Soetomo Surabaya, kepada Global News.

Karena itu warga Jawa Timur diminta menghormati keputusan pemerintah yang melarang warga untuk mudik, sehingga tidak menyebabkan kenaikan jumlah orang yang terkonfirmasi positif Covid-19. Kasus Covid-19 mengalami kenaikan di seluruh dunia hingga 9%. Penyebab utamanya karena kenaikan kasus di India. Jumlah kasus Covid-19 di India mencapai 7 juta.

Di Jawa Timur, masa libur panjang selalu disertai dengan kenaikan kasus Covid-19, jika tidak dilakukan pengetatan protokol kesehatan maka ketidakpatuhan masyarakat dalam menjaga protokol kesehatan akan lebih besar.

“Terutama saat mereka sudah sampai di kampung halaman. Saya juga melihat saat masyarakat melakukan perjalanan di ruas tol lalu berhenti di rest area, banyak dari mereka yang sudah melalaikan prokes. Masyarakat mohon mematuhi larangan mudik Lebaran tahun ini,” kata dr Joni.

“Kalau saya melihat orang keluar kota, di rest area itu sudah sangat sulit dikontrol seperti merokok, melepas masker. Di kampung halaman apalagi. Musim libur, pasti naik (kasusnya). Jadi mohon (patuh), belum selesai perjuangan kita,” tegasnya.

Saat kasus Covid-19 di Jatim naik, maka akan diiringi kenaikan angka kematian atau mortalitas. “Kenaikan angka kematian akibat Covid-19 sebagian besar karena pasien kormobid seperti diabetes dan hipertensi,” tukasnya.

Kepada Global News, Kepala Dinas Kesehatan Pamekasan, Dr Marsuki, mengatakan, virus Corona menyerang tubuh manusia kemudian menular ke orang lain karena banyak faktor. Ada faktor lingkungan atau manusianya sendiri. Faktor lingkungan, virus tidak tahan lama di udara yang panas. Kalau udara/cuaca dingin lebih lama bertahan, bisa sampai berjam-jam, tapi kalau udaranya panas dalam waktu sekian menit sudah mati. Hal ini bisa menjadi penyebab mengapa orang Madura bisa menghadapi Covid-19 mengingat udara di Pulau Garam lebih panas ketimbang daerah lain.

“Faktor manusia sendiri bisa dilihat dari kepatuhan terhadap protokol kesehatan, yakni memakai masker , mencuci tangan pakai sabun atau jaga jarak alias mengurangi kerumunan. Untuk meningkatkan antibody tubuhnya ya banyak factor juga, misalnya istirahat yang cukup, olahraga, makanan bergizi, dan yang penting lagi tidak stres,” katanya Rabu (21/4/2021).

Dia membenarkan, Madura, khususnya Pamekasan, grafiknya menurun. Sehingga, menurut pendapatnya, mungkin sebagian masyarakat antibodinya sudah kuat karena herd immunity atau kekebalan masyarakat. Hal itu ada dua, pertama kekebalan secara alami, kedua kekebalan secara vaksinasi.

“Secara alami yang pasti banyak orang terpapar virus sewaktu pandemi. Yang terpapar pun ada dua, ada yang menyebabkan sakit, ada yang tidak menyebabkan sakit. Yang terpapar otomatis mereka sudah membentuk antibody di tubuhnya sehingga tidak ketahuan. Yang sakit jelas sekian orang kena dan itu ketahuan. Pamekasan sekitar 1.150 sekian. Nah yang tidak punya gejala itu kita gak tahu, mereka terpapar tapi mereka juga punya kekebalan , sehingga epidemologi banyak masyarakat yang sudah punya kekebalan itu menjadi kuat. Mereka secara alami memiliki kekebalan,” katanya.

Selain itu ada kekebalan yang diperoleh secara vaksinasi. Karena itu Pamekasan sekarang juga menggencarkan program vaksinasi. “Otomatis kalau dijumlah, semakin banyak masyarakat yang punya kekebalan secara alami dan vaksinasi. Sehingga dengan adanya masyarakat yang lebih kebal secara medis juga mereka tidak akan terjangkit Covid-19. Jumlah mereka semakin banyak, sehingga virus Corona sendiri lama-lama kepepet dia, ngga bisa menyerang karena sudah banyak yang kebal, mungkin itu sebab terjadinya penurunan,” katanya.

Namun dia tidak bisa memastikan, apakah yang bandel tidak memakai masker hanya di Pamekasan atau secara umum di Madura. Apa mungkin di daerah lain juga ada. Tapi tidak masalah ada yang mempunyai pendapat seperti itu.

“Hanya saja kembali kepada manusianya bahwa mereka bisa mempunyai antibody atau kekebalan yang saya sebutkan tadi, dari yang pakai masker, jaga jarak, kemudian yang dari dalam tubuhnya sendiri istirahat yang cukup, olahraga yang terartur, yang penting lagi hindari stres,” katanya lagi.

Lebih dari itu, bisa juga orang Madura masuk kategori orang kuat, sebab mereka tidak gampang stres dan cuek. “Saking cueknya dia tidak stres,” katanya.

Program vaksinasi sendiri ada tiga sampai empat tahap. Tahap pertama untuk tenaga kesehatan, artinya orang yang bekerja di fasilitas kesehatan sekarang sudah selesai 100%. Tahap dua pelayan public dan usia lanjut sedang berjalan.

“Sejauh tidak ada kendala. Lancar dari segi logistic vaksin. Masyarakat juga terdata hadir , petugas vaksinator juga selalu siap. Tinggal mengatur jadwal tempat di mana jam berapa.

Tahap ketiga masyarakat umum, kita belum tahu mungkin bulan depan atau 2 bulan lagi, yang pasti target secara nasional bulan Desember diharapkan selesai semua,” katanya.

Pasien Dirawat 2.051Orang

Berdasarkan data dari Dinas Kominfo Jatim, Selasa (20/4/2021) malam, jumlah kumulatif warga Jatim yang terkonfirmasi Covid-19 ada 144.937orang. Lalu, 132.445 dinyatakan sembuh, pasien meninggal berjumlah 10.441, pasien dirawat 2.051.

Gubernur Khofifah Indar Parawansa menyebut ada sejumlah langkah strategis yang dilakukan dalam strategi penanganan Covid-19 dan percepatan pemulihan ekonomi di Jatim. Khofifah memiliki tagline mewujudkan Jatim Bangkit. Lewat Jatim Bangkit, Pemprov bersama Polda Jatim dan Kodam V/Brawijaya membangun team work atau super team yang di dalamnya terdapat Gubernur, Kapolda, dan Pangdam yang bergotong-royong mengendalikan kasus Covid-19.

“Khusus penanganan Covid-19, berbagai pendekatan telah kami lakukan, mulai kampung tangguh, gerakan bermasker secara terus menerus, operasi yustisi, penerapan PSBB, PPKM, PPKM Mikro sampai saat ini vaksinasi,” papar Khofifah, kemarin.

Khofifah menambahkan keberadaan kampung tangguh telah banyak diikuti provinsi lain, dengan penggunaan terminologi yang bermacam-macam. Namun secara prinsip, kampung tangguh di Jatim sudah dijadikan role model secara nasional.

Tak hanya itu, setiap akhir pekan, Khofifah juga bersepeda santai atau gowes bersama sejumlah pihak. Tujuannya untuk mendorong pemulihan ekonomi, sekaligus mengingatkan masyarakat pentingnya disiplin protokol kesehatan Covid-19.

“Kami biasanya melaksanakan gowes pemulihan ekonomi dengan mengajak pejabat di bidang ekonomi dan para pimpinan bank. Ini menjadi suatu kunci keberseiringan antara menggerakkan ekonomi dan mengendalikan penyebaran Covid-19 di Jatim,” ungkapnya.

Khofifah bersyukur, kasus Covid-19 di Jatim terus melandai dan terkendali. Tetapi, terdapat pekerjaan rumah yakni memasifkan vaksinasi. Saat ini, prioritas vaksinasi pada para lansia dan guru.

“Alhamdulillah capaian vaksinasi bedasarkan dashboard Kemenkes bahwa Jatim selalu mencapai tertinggi yakni terhitung catatan Dinkes Jatim tercatat 1.8 juta orang sudah divaksinasi. Kami akan terus meningkatkan vaksinasi kepada para lansia dan guru yang direncakan pembelajaran tatap muka akan dimulai bertahap pada Bulan Juli mendatang,” terang Khofifah.

“Kami juga bersyukur zona merah sejak bulan Januari tidak ada di Jatim dan terus menuju zona orange, kuning semoga segera hijau,” katanya. (fan, mas)

baca juga :

Tiga Mahasiswa ITS Manfaatkan Produk Samping Sintesis Biodiesel

Redaksi Global News

2.000 Personel Cadangan Disiapkan untuk Kawal Laga Final Piala Gubernur Jatim

Redaksi Global News

Waspada, BMKG Sebut Ada Potensi Gelombang Tinggi di Jatim

Redaksi Global News