Global-News.co.id
Kesehatan Utama

Jalani Puasa Ramadan, Penuhi Asupan Gizi

Agus Sri Wardoyo, Ketua DPD Persagi Jatim.

Bulan Ramadan merupakan momen paling ditunggu umat muslim di seluruh penjuru dunia. Di sini umat muslim harus menjaga hawa nafsu dan menjalankan ibadah puasa. Agar ibadah puasa bisa maksimal, Anda perlu mencukupi asupan gizi.

Tubuh membutuhkan banyak asupan gizi yang baik agar tetap sehat serta bisa beraktivitas normal. Apalagi di masa pandemi Covid-19, di mana kita harus bisa menjaga daya tahan tubuh agar tidak terpapar virus Corona.

Terpenting, kata ahli gizi Agus Sri Wardoyo, dalam menjalankan ibadah puasa harus diawali dengan makan sahur. “Kalau tidak didahului dengan sahur akan bahaya, karena simpanan energi selama puasa tidak adekuat, terutama bagi kelompok umur rawan.  Juga tidak dapat berkah Ramadan,” ujar Agus yang Ketua DPD Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Jawa Timur ini, Rabu (7/4/2021).

Kelompok umur rawan yang dimaksud Agus adalah anak-anak, para lanjut usia (lansia), dan remaja yang penuh aktivitas.

Untuk makan sahur, dia menyarankan mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat kompleks, banyak cairan, cukup protein, dan mengurangi lemak.

Sahur bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi serta menjaga energi bertahan lama hingga waktu berbuka. Karena itu pastikan terdapat protein (nabati atau hewani) dan karbohidrat.  Kalau misalnya ada gorengan, seperti ayam goreng atau tempe goreng, sebaiknya sayurnya jangan tumisan karena juga akan mengandung minyak.

Diakui mengonsumsi gorengan memang enak, tapi kalau saat sahur kebanyakan gorengan/lemak, selain berefek kolesterol, proses cernanya juga lama. “Ini akan menghabiskan banyak energi dan efek langsungnya jadi gampang ngantuk. Contohnya kalau sahur pakai nasi goreng, pasti besoknya lemes dan gampang ngantuk,” katanya.

Agus lantas memberikan contoh menu sahur sehat yang terdiri, nasi, sup, daging rendang, dan tempe bacem. Bisa juga ditambahkan buah dan susu. Karena yang dikonsumsi saat sahur bukan sekadar supaya tidak lapar sebelum datangnya saat berbuka, tapi juga untuk menjaga ketahanan tubuh di masa pandemi sekarang ini.  Jadi gizi harus seimbang, makro dan mikronutriennya terpenuhi. Ini berlaku untuk makan sahur maupun saat berbuka puasa.

Diingatkan, saat sahur terbaik adalah yang mepet waktu imsak.

Setelah makan tak sedikit orang melanjutkan dengan ngopi. Agus mengingatkan saat sahur sebaiknya hindari mengonsumsi kopi yang sifatnya diuretik. Kafein bersifat diuretik dan merangsang buang air kecil untuk mengurangi kelebihan cairan dan natrium. “Konsumsi kopi saat sahur dikhawatirkan akan menyebabkan haus.  Selain itu kopi akan menimbulkan asam di lambung.  Kalau mau teh boleh, asal tidak terlalu kental dan jangan terlalu banyak gula,” ujarnya.

Cukup satu sendok makan gula untuk satu gelas air. Jangan lebih dari itu, kalau lebih dari itu akan menstimulasi insulin yang ketika diproduksi berlebihan justru menurunkan kadar glukosa darah. Bukannya bertenaga tapi lemas

Awali dengan Manis

Bagaimana saat berbuka? Agus menyarankan berbuka puasa diawali dengan takjil yang manis, kemudian bertahap makanan yang lain. Manis di sini bukan berarti mengasup minuman terlalu tinggi gula saat berbuka.

“Sebaiknya setelah takjil manis diselang salat Magrib baru makanan berikutnya. Supaya pencernaan beradaptasi setelah lama kosong karena puasa. Adaptasi ini penting, apalagi bagi yang tidak biasa puasa,” terangnya.

Banyak orang menyiapkan takjil buka puasa dalam bentuk kolak ubi atau dawet, es campur, es blewah. Menurut Agus tidak masalah, namun untuk makanan bersantan seperti kolak, sebaiknya santannya tidak terlalu kental. Selain sulit dicerna, juga mengandung kolesterol tinggi.

Selain itu, lanjut Agus, tetap usahakan olahraga rutin ringan. Paling baik jelang buka atau malam hari. “Kalau punya sakit maag, minum obat teratur. Kalau yang akan menjalani vaksinasi Covid-19, harus dipastikan kondisinya sehat dan segar menjelang divaksin,” katanya.

Sedang untuk yang punya penyakit bawaan seperti  diabetes, kanker atau Covid-19, kalau ingin menjalankan puasa disarankan untuk berkonsultasi dulu dengan dokter dan ahli gizi. “Intinya sesuaikan dengan kebutuhan dan upayakan tetap terpenuhi gizinya,” pungkas Agus.ret

 

 

baca juga :

Pandemi Covid-19, San Francisco dan 6 Wilayah di California Lockdown

Redaksi Global News

16 Juni: Ada Penambahan 1.105, Kasus Positif COVID-19 di Indonesia 40.400 Orang

Anies Kembalikan Frekuensi Transportasi Umum, tapi Penumpang Dibatasi

Redaksi Global News