Global-News.co.id
Kesehatan Utama

Menunggu Vaksin Terawan

 

Vaksin Nusantara yang berbasis dendritik yang ditunggu masyarakat diharapkan bisa segera lolos uji klinis tahap kedua.

Vaksinasi Covid-19 masih gencar dilaksanakan pemerintah. Keharusan dilakukannya pengulangan vaksin pada periode berikutnya, membuat beberapa orang meminati Vaksin Nusantara yang kini memasuki tahap uji klinis fase kedua.

 

Pemerintah menargetkan bisa melakukan vaksinasi 181.554.465 jiwa dan tuntas dalam tempo 12 bulan sebagai upaya mencapai kekebalan kelompok (herd immunity). Vaksinasi itu diberikan secara bertahap sesuai prioritas, yaitu kelompok paling berisiko dan sesuai keberadaan vaksin yang juga datang secara bertahap.

Sebagai individu yang tidak termasuk kelompok prioritas vaksinasi Covid-19, Utami mengaku lebih berminat pada Vaksin Nusantara ketimbang vaksin konvensional. Dia tertarik pada vaksin Covid-19 yang digagas mantan Menteri Kesehatan, Dr dr Terawan Agus Putranto, lantaran penyuntikannya cukup sekali dan bertahan seumur hidup tanpa harus dilakukan pengulangan.  “Tapi kok masih dipertanyakan juga, bahkan sempat ada yang meminta Vaksin Nusantara  dihentikan,” ujar ibu satu anak ini, Rabu (17/3/2021).

Beredarnya informasi tentang vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang kedaluwarsa pada Maret ini, meski sudah disanggah juru bicara vaksinasi Kementerian Kesehatan Dr dr  Siti Nadia Tarmidzi MEpid, tetap memunculkan rasa was-was di kalangan masyarakat. Ditambah lagi pemberitaan terjadinya pembekuan darah pada beberapa penerima vaksin Oxford-AstraZeneca buatan Inggris yang membuat beberapa negara Eropa menangguhkan pelaksanaan vaksinasi.

“Apalagi ada info-info yang begitu. Meski dibantah yang kedaluwarsa Maret sudah habis  Januari lalu dan yang menyebabkan penggumpalan darah beda dengan yang dikirim ke Indonesia, ya ngeri juga ya. Meski saya yakin pemerintah pasti akan hati-hati,” tambah Utami.

Vaksin Nusantara merupakan vaksin Covid-19 yang kini tengah dikembangkan dan diuji di Indonesia. Pengembangannya dilakukan Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan RSUP Dr Kariadi Semarang  dan Universitas Diponegoro (Undip).  Vaksin Nusantara telah selesai menjalani uji tahap 1 yang hasilnya telah dilaporkan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan juga ke Badan Kesehatan Dunia (WHO).  Selanjutnya vaksin yang dalam uji coba tahap I tidak memberikan sedikitpun efek samping pada relawannya , akan memasuki uji klinis tahap 2.

Terawan menyebut  Vaksin Nusantara merupakan vaksin yang menggunakan pendekatan dendritik. Menurut dia, vaksin Covid-19 Nusantara akan memberikan imunitas yang bisa bertahan lama.

Mantan Direktur RSPAD Gatot Subroto ini menegaskan, dampak yang diberikan dari pemberian vaksin nusantara ini adalah kekebalan terhadap Covid-19. “Dan karena ini sifatnya menjadi imunitas yang seluler, tentunya akan bertahan lama, karena tingkatnya di sel. Jadi bukan imunitas humoral tapi seluler,” jelasnya.

Wartawan senior, Dahlan Iskan, menyebut kalau bisa segera memasuki uji klinis tahap 2, Vaksin Nusantara ini akan menyalip di banyak tikungan sekaligus. Sayangnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkesan sulit dalam memberikan izin uji klinis tahap kedua ini. Tak heran kalau dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, BPOM mendapat cecaran dari para anggota dewan karena dianggap mempersulit  upaya pembuatan vaksin yang  dilakukan anak-anak bangsa.

Menurut Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny Lukito,  penelitian vaksin ini tidak sesuai kaidah medis. Di antaranya, terdapat perbedaan lokasi penelitian dengan pihak sebelumnya yang mengajukan diri sebagai komite etik. “Pemenuhan kaidah good clinical practice juga tidak dilaksanakan dalam penelitian ini. Komite etik dari RSPAD Gatot Subroto, tapi pelaksanaan penelitian ada di RS dr Kariadi,” kata Penny.

Guru Besar Biologi Molekuler Universitas Airlangga, Prof Dr drh Chaerul Anwar Nidom MS, menyayangkan kalau seandainya muncul hambatan dalam penelitian Vaksin Nusantara tersebut.  Dijelaskan, metode penanganan Covid-19 yang sedang diteliti tim peneliti dari Undip dan dinamakan Vaksin Nusantara itu bisa disebut vaksin bisa juga bukan vaksin.

“Kalau vaksin konvensional (yang  selama ini ada) basisnya seed yaitu virus atau partikelnya, kemudian dimasukkan dalam tubuh dan seed tersebut beserta formulasinya akan bekerja secara liar membentuk antibodi,” terang Nidom saat dihubungi Rabu (17/3/2021).

“Sedang VN ini bisa disebut vaksin, karena tujuannya menghasilkan antibodi. Tapi bisa juga tidak (disebut vaksin) karena formulasinya tidak menyuntikan virus/partikelnya ke dalam tubuh,” tambah Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Profesor Nidom Foundation (PNF) ini.

Dijelaskan metode tersebut sebetulnya bernama immunotherapy vaccine. Mekanisme kerja vaksin ini ada 2 macam yaitu autologous dan heterologus.  Yang autologous, seseorang diambil darahnya kemudian dipisahkan Sel Dendritik (SD)-nya dari bagian darah yang lain. Selanjutnya, SD tersebut dipapar (diaktivasi) dengan virus/protein virus di luar tubuh atau di laboratorium. Setelah 7 hari, SD yang sudah teraktivasi itu disuntikkan pada si pemilik darah tersebut.

“Dengan adanya SD yang  teraktivasi tersebut, terbetuknya antibodi tidak perlu menunggu 14 hari dan tidak memerlukan penyuntikan berulang, karena SD aktif tersebut bisa membuat aktif SD yang baru di dalam tubuh. Demikian seterusnya. Hanya kelemahannya, yang autologous ini bersifat personal,” terang Nidom.

Mekanisme heterologous ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan autologous, dengan  nenggunakan SD yang bisa diterima oleh banyak orang.”Tapi ini jangka panjang,” ujarnya.

Sebagai orang awam, Tanto mengaku prihatin atas respon negatif yang diberikan sejumlah pihak pada Vaksin Nusantara yang digagas Terawan semasa jadi menteri kesehatan. “Padahal ini bisa jadi kebanggaan bangsa, kalau di sini dipersulit bisa jadi banyak negara yang membuka tangan menerima inovasi baru ini,” ujarnya.

Nidom mengungkap, yang sedang meneliti vaksin berbasis SD ini hanya Indonesia dan Tiongkok. “Yang saya tahu, Tim China tidak mengalami persoalan yang seperti di Indonesia. Dengan bantuan media dan masyarakat, mudah-mudahan hambatan tersebut bisa diurai dengan baik, tanpa mengedepankan  faktor-faktor non teknis,” paparnya. ret

baca juga :

Menjaga Kualitas Generasi dengan ‘Kampung ASI Eksklusif’

Redaksi Global News

Mas Tamam Serahkan Beasiswa untuk Mahasiswa Berprestasi dan Difabel

gas

Ipuk-Sugirah dan Yusuf-Gus Riza Resmi Berebut Tiket Bupati Banyuwangi

Redaksi Global News