Global-News.co.id
Kesehatan Utama

45,5 Juta Siswa Tunggu Vaksin Covid-19


Suasana pembelajaran di SD Islam Plus Al Azhar Kota Mojokerto.jpg

 

Pemerintah sudah memberikan sinyal bakal membuka pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas pada Juli 2021. Sebagian anak senang bisa bertemu dengan teman sekolahnya, di sisi lain, masih cukup banyak orangtua yang gamang lantaran belum ada tameng vaksin yang melindungi buah hatinya dari paparan virus Covid-19.

Masih belum adanya vaksin Covid-19 yang diperuntukkan usia 17 tahun ke bawah, menjadikan Rossi khawatir melepas putrinya yang saat ini kelas 5 SD pada kegiatan PTM mendatang. “Mungkin kalau sudah ada vaksin untuk bocah ya. Paling tidak untuk antisipasi supaya anak lebih aman, selain tetap menjalankan prokes (protokol kesehatan),” ujarnya, Rabu (31/3/2021).

Usia anak tentu tak lepas dari risiko penularan Covid-19, meski kasusnya tidak sebanyak kelompok dewasa. Dari data yang dihimpun Satgas Penanganan Covid-19, tercatat sebanyak 13,57% atau 181.637 anak usia sekolah terinfeksi virus Corona. Kondisi demikian, belum adanya vaksin Covid-19 untuk anak, serta ribetnya penanganan bila anak terpapar, membuat Rossi dan beberapa orangtua lainnya was-was kalau anaknya kembali mengikuti pembelajaran di sekolah.

Belum lama ini Sinovac Biotech memang mengklaim vaksin Covid-19 buatannya aman untuk anak usia 3 tahun hingga remaja berusia 17 tahun. Direktur Medis Sinovac, Zeng Gang, menyatakan hal tersebut Senin (22/3/2021), setelah melihat hasil uji klinis tahap  1 dan 2 untuk bayi dan remaja.

Kendati perusahaan farmasi asal Tiongkok itu mengklaim aman, Indonesia yang sudah menggunakan vaksin Sinovac untuk mereka yang berusia 18-59 tahun dan 60 tahun ke atas (lanjut usia) tak serta merta langsung memasukkan U3-17 dalam kelompok yang akan divaksin.

Pihak Kementerian Kesehatan, sebagaimana dikatakan Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi MEpid, masih menunggu rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). “Kita tunggu dulu rekomendasi baik dari WHO maupun Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI),” ujarnya.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sendiri tidak mau terburu-buru merekomendasi vaksin tersebut untuk U3-17. Juru bicara vaksin Covid-19 BPOM, Lucia Rizka Andalusia mengakui, Sinovac memang mempunyai penelitian untuk anak-anak di fase 2. “Penelitian itu sendiri belum selesai, belum ada hasilnya. Tentu BPOM harus mendapatkan data lengkap dari hasil uji klinis tersebut dan atau nanti kita akan melakukan uji klinis sendiri untuk populasi pada anak-anak itu,” katanya.

Dan perlu diketahui, lanjut Lucia, uji klinik pada anak-anak hanya boleh dilakukan bila uji klinik pada kelompok populasi dewasa telah menunjukkan keamanan dan efektivitas yang baik.  Setelah uji klinik fase 1 dan 2 selesai, maka dilanjutkan ke uji klinik fase 3 untuk memenuhi persyaratan WHO. “WHO menerapkan sejumlah syarat untuk suatu vaksin baru mendapatkan izin untuk penggunaan darurat atau EUA. Jadi kita masih menunggu hasilnya,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wien Kusharyoto, mengingatkan pentingnya data ilmiah untuk memastikan keamanan dan efikasi vaksin Sinovac pada anak-anak. “Sejauh ini baru ada ‘press release’ terkait keamanan vaksin dari Sinovac pada anak-anak hingga usia tiga tahun. Masih harus ditunjukkan data ilmiah tentang uji klinis tersebut untuk menunjukkan keamanan dan kemampuan vaksin tersebut dalam memicu respon imun,” kata Wie sebagaimana dikutip Antara.

Kalau pun vaksin untuk anak usia 3 hingga 17 tahun itu tersedia, paling tidak dibutuhkan 45,5 juta dosis vaksin Covid-19 sesuai jumlah siswa SD, SMP, SMA, SMK penerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada 2020. Atau lebih dari 91 juta dosis untuk vaksinasi dua tahap. Dan apakah bisa tercover dalam waktu 3 bulan, agar pas PTM terbatas dimulai semua sudah divaksin?

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, dari seluruh vaksin yang ada, memang belum ada uji klinis yang dilakukan. “Yang ada baru kajian awalnya saja. Sehingga vaksinasi Covid-19 baru diberikan untuk usia 18 tahun,” kata Budi dalam keterangan pers penerbitan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri tentang Panduan Penyelenggaraan di Masa Pandemi Covid-19, Selasa (30/3/2021).

Ditambahkan, meski kerap terjadi, penularan Covid-19 pada anak-anak atau usia muda sangat kecil. Jika ada kasus penularan, biasanya mereka akan sembuh dengan sendirinya, dengan tingkat fatalitasnya jauh lebih rendah dibandingkan kelompok lanjut usia dan memiliki komorbid.

Kendati belum tersedia vaksin untuk anak-anak, Savitri tak memasalahkan buah hatinya yang siswa kelas 8 mengikuti PTM terbatas pada Juli mendatang. “Kalau anak-anak, InsyaAllah imun mereka lebih bagus,” kata ibu 2 anak ini.

Hal senada diungkapkan Dhian Panca. Ibu tiga anak ini meyakini anak-anak usia sekolah memiliki daya tahan tubuh yang jauh lebih bagus ketimbang para orangtuanya yang rata-rata 50 tahun ke atas. Dhian menyambut rencana kegiatan PTM dimulai pada tahun ajaran baru, Juli mendatang. Putri, anak bungsunya yang siswi kelas 10 SMAK St Louis memang sudah tak sabar ingin belajar di sekolah barunya. Maklum dia diterima sebagai siswa baru saat pandemi, praktis kegiatan belajarnya dilakukan secara daring di rumah. “Sudah setahun sekolah, hanya kenal teman-teman sekelasnya saja. Itu pun kenalnya lewat online. Kalau bertemu langsung akan mengenal lebih banyak teman dari kelas yang berbeda,” ujarnya.

Bukan daya tahan tubuhnya yang lebih kuat saja, Dhian berani “melepas” lantaran dia percaya guru-guru di sekolah anaknya tidak akan sembrono dalam menjaga siswa didiknya. “Mereka begitu disiplin. Ketika belajar jarak jauh, pelajaran dimulai tepat pukul 07.00 dan berakhir pukul 13.00. Jadi persis seperti sekolah offline,” ungkapnya.

Bisa segera belajar di sekolah juga sangat diinginkan Arya Bagus Permono. Sang bunda, Febri menyebut, dengan pembelajaran model daring, ada mata pelajaran yang tidak pernah dijelaskan tapi tugasnya banyak sekali. Semisal matematika, kan harus dijelaskan. Mumet pokoknya,” keluh ibu dua anak ini.

Terkait risiko terpapar mengingat belum ada vaksinasi Covid-19 untuk usia anak sekolah, Febri meyakini anaknya bisa menjaga diri. “Mereka anak-anak muda, daya tahan tubuhnya lebih kuat. InsyaAllah kalau disiplin menjalankan protokol kesehatan, bisa menekan penularan. Kalau sudah besar begitu mestinya sudah bisa hati-hati. Kebetulan Bagus itu kalau menyangkut masalah kesehatan, sangat hati-hati,” lanjutnya.

Lantaran buah hatinya masih kelas 1 dan 4 SD, Rizka mengaku berani melepas mereka kalau dalam satu kelas tak lebih dari 10 siswa. “Saya akan jadi was-was kalau satu kelas masuk semua, karena sekolahnya tidak terlalu besar. Semoga sekolah juga memerhatikan ini,” ujar Rizka.

Saat ini pun, lanjutnya, mereka sudah mulai masuk sekolah, tapi masih seminggu sekali. Sebelumnya dibentuk kelompok terdiri 5 siswa dan belajar di rumah salah satu siswa. “Kalau sudah begini saya selalu ingatkan untuk disiplin menjalankan prokes, maskernya dipakai terus,” ujar perempuan yang bekerja di institusi bidang kesehatan ini.

Belum tersedianya vaksin untuk anak dan karena daya tahan tubuhnya lebih kuat, membuat pemerintah fokus melakukan vaksinasi pada tenaga pendidik. Menkes menyebut, dari target petugas layanan publik yang disasar pemerintah, jumlah tenaga pendidik yang paling tinggi yaitu 5,65 juta. Vaksinasi pada mereka, kata Menkes harus selesai pada akhir Juni.

Mendikbud Nadiem Makarim menargetkan pada Juli 2021 semua sekolah sudah melakukan PTM terbatas. Untuk mencapai target tersebut sekolah harus melakukan dari sekarang, terutama mereka yang sudah mendapatkan vaksin.

Menurut Menteri, sekolah yang tenaga pendidiknya sudah divaksinasi Covid-19, dapat memulai PTM. Dengan catatan disertai protokol kesehatan yang ketat. “Bisa 2-3 kali seminggu nggak apa-apa, nggak perlu cepat-cepat. Tapi kebijakannya adalah bagi guru yang sudah divaksinasi sekolahnya harus menyediakan opsi (PTM),” katanya.

Lebih lanjut ditegaskan kalau keputusan murid mengikuti PTM terbatas maupun pembelajaran jarak jauh (PJJ) bergantung kepada orangtua murid, tidak bisa dipaksakan. Oleh karena itu, sekolah juga harus menyediakan PJJ.ret

 

baca juga :

Lantik 17 Pasangan Bupati/WalikotaTerpilih, Gubernur Khofifah Minta Kepala Daerah Segera Kerja Cepat, Tepat dan Detil

Titis Global News

Sejumlah Karyawan Terpapar COVID-19, Unilever Tutup Pabrik di Cikarang

Syaikh Fadil Al-Jaelani Bukber di Royal Senyiur Hotel Prigen

gas