Global-News.co.id
Indeks Kesehatan Utama

Vaksinasi untuk Lansia, Siapa Takut?

Vaksinasi Covid-19 bagi lansia merupakan komitmen pemerintah untuk melindungi kelompok yang memiliki angka mortalitas dan morbiditas yang sangat tinggi.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberikan izin pemberian vaksinasi buatan Sinovac untuk disuntikkan pada mereka yang berusia 60 tahun ke atas atau lanjut usia (lansia). Memang sempat muncul kekhawatiran, mengingat daya tahan tubuh yang menurun ditambah adanya penyakit khas lansia.

Seiring bertambahnya usia, fungsi imunitas tubuh seseorang ikut berkurang. Sel imun itu sendiri dibentuk berasal dari sumsum tulang dan kelenjar timus. Pada usia 50 tahun, produksi sel T yang baru mengalami penurunan dan sel punca yang jadi bahan sumsum tulang belakang juga berkurang dalam menghasilkan antibodi.

Semakin tua usia,  respon imun cenderung melemah dan reaksi pada vaksin juga melemah. Karenanya kalau terjadi infeksi, terapi standar akan berlangsung lebih lama. “Ini lantaran respon imun yang turun,” kata Dr dr Gatot Sugiarto SpPD KAI FINASIM dalam acara Tanya Apa Saja bertajuk “Vaksin Covid-19 pada Lansia” di kanal YouTube Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Surabaya.

Gatot yang Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Jatim mengungkap, ada beberapa strategi yang dilakukan agar kalau divaksin lansia bisa memiliki respon yang kurang lebih setara dengan yang muda. Dari empat strategi yang disebutkan, yang paling memungkinkan dan sekarang diberlakukan adalah dengan mengubah variabel interval. Dari interval 0-14 menjadi 0-28. Ternyata kemampuan vaksin untuk meningkatkan titer antibodi pada lansia lebih bagus dengan interval 0-28. “Jadi tidak perlu meningkatkan dosis,” ujarnya.

Apakah kontraindikasinya? Gatot menyebut riwayat alergi obat, makanan, dan debu bukan kontraindikasi pemberian vaksin. “Kontraindikasinya hanya 3, yaitu mereka yang sebelumnya memang punya riwayat alergi pada komponen dalam vaksin, karena dalam vaksin Sinovac ini terdapat antigen SarsCov yang sudah dimatikan, Aluminium Hidroksida sebagai bahan adjuvant, dan NaCL,” terangnya.

Kontraindikasi kedua bila seseorang itu punya penyakit imunodefisiensi primer atau memiliki kelainan genetik sejak lahir yang membuatnya tak bisa menghasilkan antibodi sehingga sejak kanak-kanak sering terkena infeksi.

Dan kontraindikasi ketiga, orang itu terbukti mengalami alergi berat hingga terjadi anafilaksis setelah disuntik yang pertama. Reaksi berupa ruam kulit, mual, muntah, kesulitan bernafas dan syok dapat terjadi dalam hitungan detik atau menit sejak terpapar alergen. Jika tidak segera ditangani, dapat mengakibatkan ketidaksadaran atau kematian. Kalau sudah begitu, sebaiknya pakai vaksin yang lain.

“Jadi kalau punya alergi obat, debu, udang, penisilin, tidak perlu khawatir. Kekhawatiran yang  berlebihan ini justru malah menimbulkan istilah baru, yaitu vaccin related stress response. Inilah yang menimbulkan manifestasi klinis yang aneh-aneh,” ujarnya.

Dia mencontohkan pasien rujukan dari Madura, yang mengalami kejang-kejang beberapa jam setelah divaksin. Yang bersangkutan ternyata pernah mengalami cedera otak berat sekitar 3 tahun sebelumnya dan tanpa diterapi apapun. Dia kemudian dibawa ke RSUD dr Soetomo untuk dievaluasi. Dari hasil  CTScan, pemeriksaan EEG, pemeriksaan laboratorium, ternyata normal semuanya. Setelah dikonsul lebih lanjut ke bagian psikiatri, diketahui pasien tersebut orangnya penakut serta gampang panik. Mereka ini mengalami apa yang disebut vaccin related stress response.

Amankah vaksin ini bagi mereka yang pernah pasang ring, karena harus mengonsumsi obat-obatan? Dr Agus Subagio SpJP (K) FIHA, mengatakan, yang harus hati-hati adalah pasien gagal jantung. Namun dari berbagai studi di AS, Inggris, dan Eropa, pasien-pasien dengan kelainan jantung dengan pertimbangan yang disampaikan, lebih baik divaksin. “Karena kalau mereka tidak divaksin dan terkena Covid-19, maka risiko mortality (kematian)-nya lebih tinggi,” tandas spesialis jantung dan pembuluh darah dari FK Unair ini.

“Jadi keuntungan divaksin lebih tinggi, selama kondisinya stabil pada usia lanjut. Kalau tidak, akan lebih fatal akibatnya,” ujarnya.

Gatot menambahkan, berdasarkan arahan dari Perhimpunan Dokter Kardiovaskular (PERKI), perlu kehati-hatian bila vaksin itu diberikan pada pasien gagal jantung. “Minimal 3 bulan kondisi klinisnya harus stabil, misalnya setelah menjalani bypass,” ujarnya.

Dengan demikian pasien PJK yang sudah pasang ring dan mengonsumsi obat-obatan, silakan divaksin Begitu pun penderita hipertensi. Asal kondisinya stabil. “Akan lebih baik kalau divaksin, ketimbang kena Covid-19 malah jadi fatal,” kata Gatot.

Pada penderita hipertensi yang menyebabkan gangguan ginjal, yang diprioritaskan pasien stage 1 dan stage 2. Kalau stage 3 dan stage 4 dikhawatirkan respon imunnya menurun, sehingga kalau divaksin perlindungannya rendah.

Bagaimana dengan lansia penyintas Covid-19? Menurut Gatot, pada penyintas ada yang imunoglobulinnya timbul tapi ada juga yang tidak. “Pada prinsipnya tidak ada halangan bagi semua untuk divaksin. Pada pasien diabetes, jantung, dalam situasi terkontrol dan terkendali selama 3 bulan. Kalau gula darahnya terkendali, silakan vaksin. Kalau tidak terkendali akan timbul kecenderungan terkena infeksi,” katanya.

Gatot yang juga anggota Tim Advokasi Pelaksanaan Vaksin PB IDI menyebut, senyampang sudah ada vaksin kenapa harus menunda. Apa mau menunggu vaksin-vaksin yang masih dijanjikan seperti dari Pfizer atau AstraZeneca. “Kita kan tidak bisa meramal kapan virus itu akan datang ke kita. Kalau di depan mata bisa dilihat, ini kan enggak,” tuturnya.

Ditambahkan, Indonesia patut bersyukur bisa mendapat vaksin duluan dari Sinovac. Dan penggunaan vaksin Sinovac ini memicu negara-negara lain untuk ikut menggunakannya, seperti Turki, Uni Emirat Arab, bahkan Tiongkok sendiri. “Jadi yang di depan mata, itu yang disantap dulu saja. Ada komorbid bukan alasan, yang penting kondisinya stabil,” pungkas Gatot.ret

baca juga :

Anemia Tingkatkan Risiko Kematian pada Penderita Covid-19

Redaksi Global News

15 SMPN dan Swasta Surabaya Siap PTM, Siswa ke Toilet Pun Akan Didampingi

Redaksi Global News

Gubernur Jatim Beri Santunan Korban Tertimpa Pohon Tumbang

gas