Global-News.co.id
Metro Raya Utama

Tren Jumat Berkah: Bukan Sekadar Memberi Makan, tapi Juga Hidupkan Ekonomi Tetangga

 

Jumat Berkah menjadi fenomena di kalangan umat Islam. Acara Jumat Berkah ditandai dengan antusiasme masyarakat untuk berbagi dengan sesama melalui pemberian nasi bungkus/nasi kotak gratis di masjid-masjid dan jalanan. Bahkan di sejumlah masjid ada yang menyediakan lemari khusus berisi nasi bungkus/kotak. Lengkap dengan air minumannya. Fenomena bersedekah di hari Jumat itu karena pahalanya dinilai berlipat ganda.

Oleh Tamam Malaka

SAAT ini masjid besar, seperti Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, hingga Masjid Agung Maulana Malik Ibrahim Gresik, setiap hari Jumat pasti menyediakan nasi bungkus atau nasi kotak untuk dibagikan kepada jamaah usai melakukan Salat Jumat. Selain itu, masjid-masjid di kampung juga melakukan hal sama. Di Masjid Al Akbar, setiap hari Jumat, selalu saja ada perorangan yang membagikan nasi bungkus kepada para jamaah.
Menurut Kabag Usaha dan Pemberdayaan Zakat, Infaq dan Wakaf, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, H Hendro Tjahjono, jumlah nasi bungkus yang dibagikan sebanyak 50 hingga 100 bungkus. “Di masjid-masjid lain, saya perhatikan juga mulai banyak yang demikian. Tersedia nasi bungkus untuk para jamaah setiap hari Jumat,” katanya kepada Global News Rabu 17 Februari 2021.

Nur Fakih, takmir Masjid Agung Gresik, juga mengatakan hal senada. Selain dari dana kas masjid, para jamaah dan warga lain banyak pula yang menyumbang nasi kotak untuk dibagikan kepada jamaah usai Salat Jumat di masjid agung tersebut. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat untuk beramal semakin baik.

“Meski, sebenarnya, tidak hanya di hari Jumat, tapi juga harus dilakukan di hari-hari lain. Namun memang hari Jumat itu hari yang mulia sehingga warga berharap mendapat barokah dari amalnya tersebut. Selain itu, juga tidak harus jamaah salat Jumat, sebab masih banyak warga lain di luar masjid sana yang mungkin belum makan siang. Bahkan, mungkin ada yang kelaparan. Mereka ini yang wajib kita bantu dengan rezeki kita dari Allah SWT,” kata Nur Fakih kepada Global News Rabu 17 Februari 2021.

Yang juga baik dari kegiatan Jumat Berkah ini adalah membantu para pengusaha warung di sekitar masjid. Mereka mendapat job memasak untuk nasi kotak tersebut. “Kami beli di warung sekitar. Tetangga juga sama, bila ingin nyumbang bisa membeli nasi bungkus di warung lalu dibagikan di masjid atau di jalanan,” katanya.

Memang tidak sedikit para pecinta sedekah yang membagikan nasi bungkus di jalanan. Di antaranya adalah komunitas Shodaqoh Holic dan sejumlah mantan karyawan Harian Sore Surabaya Post. Para eks karyawan wartawan koran Surabaya Post itu melakukan aksi sosial yang dikoordinasikan oleh M. Nuruddin Ali, Gatot Susanto, dan Budi Harminto.

Jumlah nasi kotak yang dibagikan sekitar 60 sampai 100 nasi kotak. Jumlah sumbangan ini baru tahap awal sebab acara Jumat Berkah baru dilakukan satu bulan ini. Jumlahnya dipastikan akan bertambah di bulan berikutnya. “Meski sekarang pandemic Covid-19, teman-teman eks Surabaya Post dan donatur lain tetap antusias berbagi kepada sesama,” kata Nuruddin Ali.

Pembagiannya selain di masjid, juga di jalanan hingga pasar. Misalnya, membagikan nasi kotak di jalanan sekitar Alun-alun Sidoarjo, Pasar Larangan, hingga Terminal Bungurasih. Dengan memakai mobil, tim Jumat Berkah eks-karyawan Surabaya Post ini setiap Jumat keliling masjid dan jalanan untuk membagikan nasi kotak tersebut.

“Saya terenyuh melihat warga di jalanan, seperti tukang becak, penyapu jalan, gojek, pengemis, dan warga lain yang kepanasan, mungkin lapar, lalu menyerbu mobil tempat kami Jumat Berkah, mengambil nasi kotak yang kami bawa. Semoga mereka selalu dalam lindungan Allah SWT. Dan semoga para penyumbang dana untuk Jumat Berkah ini diberi kesehatan dan tambahan rezeki oleh Allah SWT, amiin,” kata mantan wartawan ini.

Dia menambahkan, para donatur dari eks karyawan Surabaya Post sangat antusias memberi sumbangan. Bahkan, ada yang sudah setor uang ke panitia untuk satu tahun acara Jumat Berkah. Artinya, acara Jumat Berkah ini harus terus ada.

“Global News yang karyawannya banyak dari eks-Surabaya Post juga membantu dana untuk satu bulan. Semoga bulan depan ditambah lagi. Dan Insya Allah rezeki untuk Global News juga akan ditambah oleh Allah SWT,” katanya.

Selain masjid dan komunitas shodaqoh yang memiliki tim dan donatur, tidak sedikit pula pihak yang melakukan aksi sedekah hari Jumat secara perorangan. Rijal Mumazziq contohnya. Setiap hari Jumat, ayah dua anak ini rutin berkeliling jalan-jalan di Surabaya membagikan nasi bungkus pada tukang becak, tukang sapu hingga Ojol (Ojek Online) yang mereka temui di sepanjang jalan.

“Setiap hari Jumat saya membagikan sebanyak 20 hingga 25 nasi bungkus,” katanya.

Pria yang juga Rektor Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyah (INAIFAS) Kencong, Jember, ini menambahkan, dalam ritual bagi-bagi nasi bungkus tersebut, semua anggota keluarga kecilnya terlibat. Mulai dari sang istri tercinta yang langsung memasak sendiri, hingga anak-anaknya. Puluhan nasi bungkus dia bagikan dengan melibatkan dua anaknya. “Biasanya, saya lakukan sebelum berangkat shalat Jumat,” katanya.

Warga lain adalah Jufri Mustafa. Pria yang berprofesi sebagai guru swasta di sebuah sekolah dasar di Surabaya ini juga rutin berbagi nasi bungkus di setiap Jumat pagi. Lokasinya untuk berbagi sedekah nasi bungkus disesuaikan dengan rute jalan-jalan paginya bersama sang istri di sekitar pasar Turi atau Jl. Demak Surabaya.

“Jumlahnya sebanyak 20 bungkus. Biasanya kami bagikan pada tukang becak, tukang sapu dan pihak lainnya yang kami rasa memang membutuhkan. Sebenarnya kegiatan berbagi ini juga sama ipar saya. Hanya saja saya sama istri yang membagikan,” katanya.

Semula, Jufri menambahkan, nasi bungkus yang menyediakan adalah istrinya yang langsung memasak sendiri. Akan tetapi, dia terpikir untuk memberdayakan tetangga. Karena itu, kebiasaan istrinya yang memasak kini digantikan oleh tetangganya yang menyiapkan.

“Ini kan juga ibadah. Meskipun tidak seberapa nilainya, tapi saya pikir ini bisa menghidupkan perekonomian tetangga saya.,” katanya

Beragam Motivasi

Sisi lain yang cukup menarik dari fenomena bersedekah nasi bungkus di hari Jumat adalah konsistensi para pelaku sedekah nasi bungkus itu sendiri yang melakukannya secara rutin tiap hari Jumat.

“Kalau saya pribadi, hanya ingin menjadi pribadi yang bermanfaat untuk kemanusiaan. Karena apa? Kalau shalat, puasa atau zakat itu kan untuk kepentingan diri kita sendiri. Nah, kalau sedekah kan untuk sesama,” katanya.

Pria berusia 57 tahun ini melanjutkan, gerakan sedekah nasi bungkus yang dia gencarkan setiap hari Jumat, sebenarnya tidak hanya soal bersedekah nasi bungkus. Di dalamnya juga terdapat pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.

“Karena apa? Untuk stok ribuan nasi bungkus, kami membelinya dari warung-warung warga di sekitar. Dengan cara seperti itu, kami ingin membangkitkan usaha-usaha kecil masyarakat sekitar sehingga omzet mereka pun naik,” katanya.

Hal tidak jauh berbeda diungkapkan oleh Jufri. Rutin bersedekah di hari Jumat menurutnya tidak sekedar ibadah biasa. Melalui aktivitas bersedekah tersebut ia ingin berbagi dengan sesama sekaligus mengamalkan ajaran agama. Meskipun mungkin tidak seberapa, tetapi ia senang bisa menghidupkan ekonomi tetangga yang ia pesan nasi bungkusnya.

“Selain tetangga, saya juga mencari jamaah untuk saya pesan nasi bungkus. Bagi saya ini suatu kepuasaan batin tersendiri,” katanya.

Bagi Rijal Mumazziq, hari Jumat baginya merupakan hari kebersamaan keluarga. Di hari tersebut, ia gunakan untuk menciptakan kebersamaan dengan keluarga, yaitu dengan bareng-bareng mengasah kepedulian dengan sesama.

“Jadi di samping ingin harta kita barakah, ini terutama untuk anak-anak saya. Saya ingin mengajarkan dan melatih mereka mengasah empati sejak usia dini,” katanya. (*)

 

 

baca juga :

Soal Pembekuan Darah Pasca Vaksinasi, Ras Asia Aman

Titis Global News

Apol Kompol SMPP Pamekasan ’82

gas

Gubes ITS Usung Terobosan Metode Pemurnian Minyak Nyamplung

Titis Global News