Global-News.co.id
Ekonomi Bisnis Indeks Utama

Insentif PPnBM Siap Dirilis, Pengamat Sebut Warga Cenderung Pilih Menabung

Istimewa
Pameran mobil yang digelar sebelum pandemi Covid-19. Pemerintah akan memberikan insentif penurunan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) guna mendorong permintaan dan penawaran di sektor manufaktur.

 

JAKARTA (global-news.co.id) – Kebijakan yang bakal dirilis pemerintah berupa insentif penurunan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) guna mendorong permintaan dan penawaran di sektor manufaktur dinilai kurang efektif. Diskon pajak ini berlaku bagi mobil baru di bawah 1.500 cc selama 9 bulan.

Kebijakan yang akan berlaku per Maret 2021 tersebut memungkinkan diskon 100 persen PPnBM untuk 3 bulan pertama, 3 bulan selanjutnya diskon menjadi 50 persen, dan 3 bulan terakhir diskon 25 persen.

Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan bahwa stimulus tersebut umumnya menyasar kepada kelompok menengah ke atas. Sayangnya, kelompok masyarakat ini justru dinilai cenderung memilih menabung dibandingkan berbelanja.

Dengan kondisi pemulihan ekonomi yang belum stabil, jelasnya, masyarakat tentu akan meningkatkan jumlah tabungan untuk mengantisipasi jika kondisi tidak lebih baik setelah berbagai upaya pemerintah dalam menghentikan penyebaran pandemi yang sangat krusial.

“Insentif pajak menjadi tidak masalah asalkan dilakukan di momentum yang pas dan mendahulukan skala prioritas. Momentum yang pas adalah ketika pemulihan ekonomi sudah berjalan lebih stabil dan cepat karena penanganan dari sisi kesehatan sudah optimal,” katanya, Minggu (14/2/2021).

Yusuf menjelaskan bahwa kebijakan tersebut sangat menguntungkan industri otomotif. Sektor ini merupakan salah satu yang strategis karena merupakan salah satu yang terbesar dan sifatnya industri padat karya.

Kendati begitu, dia mengatakan bila melihat data kuartal IV 2020, justru produksi mobil meningkat 84 persen dibandingkan periode sebelumnya. Penjualannya pun meningkat 43 persen.

Artinya, jelas dia, kinerja industri otomotif tidak terlalu buruk dibandingkan yang lain. Oleh karena itu, tanpa insentif sektor tersebut dinilai masih bisa bertumbuh.

Menurutnya, hal tersebut akan bisa lebih maksimal apabila capaian investasi tahun lalu bisa dipertahankan. Menggeliatnya penanaman modal akan berdampak pula pada industri otomotif.

“Sebenarnya dengan mendorong proses pemulihan ekonomi penjualan kendaraan bermotor akan mengalami perbaikian secara bertahap,” jelasnya.

Melihat kondisi tersebut, tambah Yusuf, yang penting dalam pemberian insentif pajak terutama PPnBM adalah momentum. “Insentif akan bekerja lebih optimal apabila insentif pajak diberikan ketika proses pemulihan ekonomi sudah berjalan lebih stabil maka insentif pajak umumnya akan memberikan dampak yang lebih optimal terhadap industri,” ucapnya.

Sementara itu Kepala Center of Industry, Trade and Investment Indef Andry Satrio Nugroho  menyayangkan kebijakan pemerintah yang akan menurunkan tarif pajak penjualan barang mewah atau PPnBM untuk mobil baru di bawah 1.500 cc selama 9 bulan.

Dia mengatakan memang tidak akan semua mobil yang akan memperoleh penurunan tarif pajak penjualan barang mewah atau PPnBM karena hanya kendaraan berkapasitas di bawah 1.500 cc dan memiliki tingkat kandungan dalam negeri 70 persen. Pembebasan pun hanya sementara dengan sisa insentif berupa diskon.

Sehingga kebijakan itu akan kurang efektif atau akan berlangsung mendorong konsumsi mobil secara jangka pendek saja. Sementara di saat yang bersamaan sekarang industri otomotif sedang bangkit meski pertumbuhannya masih kontraksi.

Menurut Andry, kebijakan itu akan kurang efektif atau akan berlangsung mendorong konsumsi mobil secara jangka pendek saja. Sementara di saat yang bersamaan sekarang industri otomotif sedang bangkit meski pertumbuhannya masih kontraksi.

“Pemerintah juga menurut saya perlu hati-hati juga karena selain efektivitasnya masih dipertanyakan, ini juga akan menggerus pendapatan negara ke de pannya. Menurut saya, sayang sekali, padahal pemerintah sudah cukup tepat untuk tidak menaikannya tahun lalu,” katanya.

Andry menyebut kebijakan paling efektif dengan kondisi saat ini tentunya penanganan pandemi. Pasalnya, jika hal utama itu sudah dilakukan, industri juga akan semakin cepat pulih.

Jika industri cepat pulih, selanjutnya maka akan memberikan benefit terhadap tenaga kerja di dalamnya. Seiring tenaga kerja yang menerima manfaat maka perbaikan daya beli masyarakat pun akan terjadi.

“Lalu perbaiki dulu daya beli masyarakat. Kalau pemerintah ingin mengejar perbaikan daya beli middle income atau menurunkan setidaknya saving to income ratio mereka sehingga orang banyak yang konsumsi, perlu diberikan insentif untuk mendukung agar kebutuhan sehari-harinya terjaga. Misalnya tidak membebani dengan biaya listrik dan internet mahal,” ujarnya. yan, bis

baca juga :

Walantara Dampingi Warga Tanam Bibit Jahe Merah Berkualitas Unggul

gas

Tanpa Rasa Takut, Risma Punguti Sampah di Antara Massa Unjuk Rasa Tolak Omnibus Law

Redaksi Global News

Pipa Umbulan Kotor, PDAM Gresik Keruh

Redaksi Global News